Rabu, 20 Mei 2015

Evaluasi Akhir Tahun


Submitted by Untung on December 24, 2013 – 12:01 pm9 Comments
Evaluasi Akhir Tahun Evaluasi Akhir Tahun oleh: Cornelis Wowor MA.
Evaluasi akhir tahun lazim dilakukan oleh sebuah perusahaan  untuk menilai kinerja perusahaan selama setahun. Sayangnya kita sering lebih memberikan perhatian kepada hal-hal materi diluar kita. Melupakan hal penting untuk diri sendiri. Kita jarang malah hampir tidak pernah melakukan evaluasi akhir tahun terhadap diri kita sendiri.
Kalaupun kita melakukan evaluasi akhir tahun terhadap diri sendiri, itu lebih banyak berkaitan dengan yang bersifat materi ataupun harta benda, misalnya dengan melakukan pelaporan pajak setiap tahun. Kita mengevaluasi harta kekayaan kita apakah bertambah, berkurang. Apakah tahun ini penghasilan saya bertambah atau malah berkurang.
Pernahkah kita merenungkan dan mengevaluasi perkembangan batin dan rohani kita pada akhir tahun? Misalnya pernahkah kita mengevaluasi apakah kita lebih sering marah pada tahun ini dibandingkan tahun lalu? atau apakah tahun ini kita lebih tenang dan lebih sering memberikan senyuman terhadap orang lain?
Sebagai seorang umat Buddha kita patut melakukan evaluasi ataupun melakukan perenungan terhadap kualitas Sila (kemoralan), Samadhi (konsentrasi dan perhatian) dan Panna (kebijaksanaan) diri kita secara berkala.
Berapa sering kita melakukan pelanggaran pancasila Buddhis? apakah sudah berkurang atau malah tanpa disadari kita lebih banyak melakukan pelanggaran sila. Apa yang menyebabkan terjadinya hal itu? Apakah faktor luar begitu mempengaruhi diri kita dalam menjalankan sila? Kenapa kita begitu terpengaruh oleh faktor diluar diri dan kondisi lingkungan dalam mengendalikan sila? Bisakah kita tetap tenang dan sabar di saat kondisi dan keadaan di luar diri kita begitu menekan dan kacau?
Selain kemoralan, sebagai umat Buddha yang baik kita harus berlatih meditasi. Apakah pada tahun ini latihan samadhi kita sudah meningkat secara kualitas maupun frekuensi latihan, atau malah sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kalinya berlatih meditasi?
Kebijaksanaan yang tinggi tidak dapat diperoleh hanya melalui bacaan ataupun hanya melalui latihan kemoralan. Sila dan Samadhi saling mendukung untuk memunculkan Panna. Munculnya Panna mendukung untuk kemajuan Sila dan Samadhi. Begitulah Sila, Samadhi dan Panna saling berhubungan satu sama lainnya. Sila mendukung Samadhi dan selanjutnya menimbulkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan memberikan kemudahan buat kita dalam menjalankan kemoralan.

Perenungan Terhadap Dhamma


Submitted by Untung on January 28, 2014 – 6:47 pm4 Comments
Perenungan Terhadap DhammaPerenungan Terhadap Dhamma oleh: dr. Ratna Surya Widya
Dalam Dhammanussati atau perenungan terhadap Dhamma, kita bisa menemukan 6 karakter dari Dhamma. Demikian yang dibabarkan oleh romo pandita dr. Ratna Surya Widya dalam ceramah Dhamma di Vihara Pluit Dharma Sukha di Bulan Desember 2013.
Agama Buddha adalah agama praktek. Seorang umat Buddha tidak hanya cukup mempunyai keyakinan terhadap Buddha Dhamma dan Sangha, namun juga dalam praktek kehidupan sehari harinya harus mencerminkan ajaran Buddha. Dalam hal ini artinya kita selalu berusaha untuk melakukan perbuatan sesuai jalan Dhamma, meskipun masih jauh dari sempurna.
Ambil contoh sederhana. Kita semua menginginkan untuk bisa mempunyai banyak materi atau kekayaan. Menjadi kaya bukanlah keadaan yang dilarang dalam agama Buddha. Namun saat kita belum kaya, apa yang kita lakukan untuk menjadi kaya?
Dhamma secara jelas mengajarkan lewat hukum karma cara untuk menjadi kaya. Walaupun cara ini kedengarannya sangat tidak umum. Kalau kita miskin umumnya kita mengharapkan ada orang yang memberi kita uang. Tidak salah dalam kacamata pandangan secara umum. Dalam Dhamma justru kebalikannya. Jika kita masih miskin dan ingin kaya maka berdanalah uang sebisa dan sesering mungkin, bukan malah meminta-minta. Sudahkah kita menjalankannya?
Dalam ceramah dhamma ini romo dr. Ratna Surya Widya menceritakan sepasang suami istri miskin yang berusaha untuk kaya. Saking miskin nya maka penghasilan hari ini hanya cukup untuk makan besok. Tidak ada lebihnya. Jika demikian lalu bagaimana caranya untuk berdana? Apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri tersebut dalam usahanya untuk berdana mungkin di luar pemikiran kita.

Menjawab Tantangan Hidup


Submitted by Untung on March 5, 2014 – 8:50 am6 Comments
Menjawab Tantangan Hidup Menjawab Tantangan Hidup. oleh: dr. Ratna Surya Widya.   Maret 2014
Semua manusia mempunyai tantangan hidup yang harus dijawab. Tantangan hidup ber beda-beda antar manusia. Waktu yang berbeda pun akan menimbulkan tantangan hidup yang berbeda pada satu manusia.
Saat masih ber status pelajar atau mahasiswa, tantangan hidup nya mungkin berupa bagaimana bisa naik kelas dengan hasil bagus. Setelah ber keluarga tantangan hidup pun berubah kembali menjadi bagaimana bisa mencari uang dan sebagainya.
Tantangan hidup masuk dalam kategori austress, sedangkan tekanan hidup masuk ke dalam distress.  Kalau boleh dikatakan secara gampang austress masih tergolong positif sementara distress tergolong negatif.
Stress bisa saja mendadak muncul. Apa yang terjadi jika ada dokter memvonis anda menderita kanker stadium 4? Anda akan menganggap nya sebagai austress atau distress? sebaiknya anggap itu sebagai austress. sebagai suatu tantangan hidup untuk bisa sembuh.
Tantangan hidup diperlukan oleh setiap orang. Bayangkan jika seseorang sudah tidak mempunyai tantangan hidup lagi. Orang itu bisa saja bunuh diri karena sudah merasa sudah tidak memiliki harapan maupun target yang harus dicapai dalam hidup ini.
Pernahkah anda merasa bahwa untuk dapat menjalankan Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan tantangan hidup? Apalagi jika ada seseorang yang mempunyai tantangan untuk bisa mencapai tahap sotapana dalam kehidupan ini juga. itu merupakan tantangan hidup yang memerlukan usaha yang besar sekali untuk bisa menjawabnya.
Romo dr. Ratna Surya Widya yang juga merupakan seorang dokter jiwa menguraikan tentang tantangan hidup serta 4 cara untuk bagaimana menjawab tantangan hidup tersebut. apa 4 hal yang harus dimiliki setiap orang dalam menjawab tantangan hidup tersebut?
Dalam ceramah Dhamma di vihara Pluit Dharma Sukha 2 Maret 2014, dr. Ratna Surya Widya memberi tahu mengenai 4 hal tersebut yang harus di miliki oleh seseorang dalam menjawab tantangan hidup nya.

Kasih Sayang Ibu (Sebuah Renungan)


Submitted by Untung on March 24, 2014 – 7:11 pm2 Comments
Kasih Sayang Ibu Kasih Sayang Ibu (Sebuah Renungan) oleh: Sri Pannavaro Mahathera
Ceramah Dhamma dengan tema kasih sayang ibu oleh Bhante Sri Pannavaro Mahathera ini saya dapatkan dari sebuah audio CD yang diterbitkan oleh DPP PATRIA. Tidak disebutkan dalam CD tersebut kapan dan dimana khotbah ini dibawakan oleh beliau.
Dalam agama Buddha kedudukan seorang ibu sangat lah istimewa. Dalam Mangala Sutta disebutkan bahwa menyokong ayah dan ibu merupakan suatu berkah utama. Kita mungkin mengatakan bahwa kasih sayang ibu adalah tema sangat sederhana, namun pada praktek kehidupan kita sehari-hari apakah kita sungguh sungguh sudah menyadari besarnya kasih sayang ibu kita? dan sudah berusaha untuk membalas budinya?. Jika merasa sudah membalas apakah dengan cara yang benar?
Banyak kasus di sekeliling kita yang menggambarkan putra putri yang tidak berbakti pada orang tuanya. Banyak alasan yang menimbulkan hal itu. Bisa masalah ekonomi, masalah keluarga, bahkan masalah agama juga bisa membuat seorang anak mengakibatkan orang tuanya menjadi sedih dan menderita.
Cukup banyak kasus yang kita dengar karena alasan seorang anak merasa agamanya yang paling benar dan agama orang tuanya salah maka dia bisa mengancam untuk tidak mau mengurus orangtuanya sendiri jika tidak ikut agamanya. Mungkin dia merasa niatnya baik. Tetapi niat itu benar jika alasannya itu benar, dan dengan cara yang juga harus benar bukan dengan paksaan atau ancaman yang justru membuat orangtuanya merasa menderita.
Agama Buddha juga mengajarkan bahwa untuk dapat membalas budi kepada orang tua, maka seorang anak harus bisa membuat orangtuanya mempunyai sila yang baik dan mengerti Dhamma serta hukum hukumnya. Tetapi sepanjang pengetahuan saya itu bukanlah berarti bahwa seorang anak Buddhis baru bisa membalas budi orangtuanya jika bisa membuat orangtuanya juga beragama Buddha.
Menjalankan sila dan mempraktekkan Buddha Dhamma serta hukum hukumnya tidak identik dengan harus beragama Buddha. Ada orang yang bukan beragama Buddha namun pada prakteknya dia menjalankan sila dan mengerti tentang yang baik akan berakibat baik dan melakukan yang buruk akan berakibat buruk. Bandingkan dengan orang yang mengaku Buddhis tetapi tidak menjalankan sila dan tidak mengerti ajaran Buddha. Mana yang Buddhis menurut anda? Hidup sesuai Buddha Dhamma tidak perlu harus beragama Buddha. Buddha Dhamma bukanlah berupa ritual keagamaan yang dangkal.
Mari kita kembali dalam topik Kasih Sayang Ibu ini. Sebagai seorang anak Buddhis yang baik maka kita harus membalas budi orangtua kita terutama ibu kita. Bhante Sri Pannavaro menerangkan caranya dalam ceramah renungan kasih sayang ibu ini. Namun jika orangtua kita punya keyakinan lain maka menurut hemat saya membalas budinya bukan dengan memaksanya menjadi beragama Buddha tetapi mulai dengan memberikan contoh prilaku kita sendiri yang baik kemudian secara perlahan lahan mengajarkan tentang sila dan Dhamma serta hukum hukumnya. Jika kita bisa membuat orangtua kita hidup sesuai Buddha Dhamma maka kita sudah membalas budi mereka.

Empat Jenis Kesombongan


Submitted by Untung on June 10, 2014 – 3:33 pm2 Comments
Empat Jenis Kesombongan Empat Jenis Kesombongan. Oleh: Dr. Dharma K. Widya
Kesombongan dalam agama Buddha tidak hanya menyangkut hal yang bersifat lebih dibandingkan orang lain. Agama Buddha melihat kesombongan dalam definisi membanding-bandingkan dengan orang lain. Jika kita sudah mempunyai pikiran membandingkan diri sendiri dengan orang lain apapun hasilnya apakah lebih bagus, sama atau malah lebih jelek, semuanya sudah termasuk dalam kesombongan.
Romo Dharma K Widya dalam ceramah Dhammanya pada bulan April 2014 di Vihara Pluit Dharma Sukha menerangkan ada empat jenis kesombongan berdasarkan penyebab yang dapat timbul dalam diri manusia, yaitu:
1. Kesombongan yang muncul akibat kelahiran.
2. Kesombongan yang muncul akibat kepemilikan/harta/kekayaan.
3. Kesombongan yang muncul akibat dari penampilan.
4. Kesombongan yang muncul akibat dari kecerdasan dan ilmu yang dimiliki.
Kesombongan sangat sulit di berantas. Berdasarkan tingkatannya kesombongan memiliki banyak level mulai dari yang sangat kasar sampai yang sangat halus sehingga tidak sadar bahwa itu merupakan kesombongan.
Lebih mudah mengatasi nafsu indria dibandingkan mengatasi kesombongan. Dasar pemikirannya adalah nafsu indria pada tingkat kesucian ke dua atau Sakadagami sudah dapat dilemahkan dan dihilangkan total setelah seseorang telah mencapai tingkat kesucian ketiga atau Anagami. Kesombongan hanya baru dapat dihilangkan setelah seseorang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi atau Arahat. Pada tingkat Anagami seseorang masih memiliki kesombongan yang halus. Jadi bisa dikatakan lebih mudah menghilangkan nafsu indria dibandingkan melenyapkan kesombongan.

Makna Pelimpahan Jasa


Submitted by Untung on December 31, 2014 – 12:50 pmNo Comment
Makna Pelimpahan JasaCeramah Dhamma Makna Pelimpahan Jasa oleh Suhu Xian Xing Desember 2014 Vihara pluit Dharma Sukha
Pelimpahan jasa dalam Buddhisme cukup sering menjadi bahan polemik. Karena antara aliran Theravada dan Mahayana maupun Tantrayana sepertinya ada perbedaan dalam pengertian serta objek pelimpahan jasa.
Dalam Theravada, Pelimpahan jasa mengacu pada Tirokudha Sutta dan cerita Yang Ariya Moggalana saat ingin membantu ibunya yang terlahir di alam neraka. Namun yang Ariya Moggalana yang sudah mempunyai kesaktian sangat tinggi pun tidak mampu menolong ibunya. Ketika meminta nasihat Buddha, maka Buddha meminta yang Ariya Moggalana untuk mengundang anggota Sangha dan berbuat kebaikan yang kemudian di limpahkan jasanya kepada ibunya. Ibu Yang Ariya Moggalana pun tertolong.
Meskipun dalam Abhinhapaccavekkhana dikatakan aku adalah pemilik karmaku sendiri, mewarisi karmaku sendiri, lahir dari karmaku sendiri, berhubungan dengan karmaku sendiri serta terlindung oleh karmaku sendiri. Namun pengertian tersebut tidak mengandung pemahaman bahwa makhluk lain sama sekali tidak dapat menolong kita.
Dalam kehidupan saat ini pun kita bisa melihat bahwa kita hidup saling tolong menolong. Hanya saja apakah kita pada saat dan kondisi tertentu bisa ditolong atau tidak bisa, di sinilah pengertian kita terlindung oleh karma kita sendiri berbicara, saat itu karma kita apakah mendukung atau tidak untuk kita menerima pertolongan. Jadi kita tidak selalu bisa di tolong dan tidak selalu tidak bisa ditolong.
Dalam ceramah dhamma di Vihara Pluit Dharma Sukha, Suhu Xian Xing menjelaskan macam macam pelimpahan jasa yang bisa dilakukan. Makna dalam setiap pelimpahan jasa adalah antara kita dan makhluk lain adalah satu. Tidak perlu melakukan perbuatan baik yang khusus dalam pelimpahan jasa. Dalam setiap melakukan perbuatan baik, yang penting kita harus melakukan nya secara tulus, bahkan dengan hanya memberikan senyuman kepada setiap orangpun kita sudah dapat melakukan pelimpahan jasa.

Selasa, 19 Mei 2015

Menjelaskan makna & manfaat puja serta doa.. Makna Puja ::


Dalam agama Buddha berarti "menghormat". Dillihat dari arti puja sebagai penghormatan berarti puja dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu berupa materi maupun perilaku. Puja yang dilakukan dengan materi misalnya, seperti persembahan makanan, buah, dupa, bunga, air, dll. Puja yang dilakukan dengan perilaku juga dapat dilakukan baik melalui fisik seperti bersikap anjali, namaskara, atau pradaksina maupun sikap mental sepeti praktek metta, karuna, khanti serta memiliki samma ditthi. Puja dalam agama Buddha tidak terbatas sebagai penghormatan sebagai dewa-dewa, tetapi termasuk juga penghormatan kepada mereka yang patut dihormati

Sarana Puja :: sarana-sarana yang digunakan untuk melakukan puja.

Yaitu ::

a. paritta,sutera,dharani,dan mantra
b. vihara
c. cetya atau altar
d. stupa

Manfaat Puja ::

a. keyakinan (saddha)
b. metta,karuna,mudita,upekkha
c. pengendalian diri (samvara)
d. Perasaan puas (santutthi)
e. kedamaian (santhi)
f. kebahagiaan (sukha)

Manfaat Amisa Puja ::

* Saddha : Keyakinan dan bakti akan tumbuh berkembang
* Brahmavihara : Empat kediaman atau keadaan batin yang luhur akan berkembang yaitu : Metta (Cinta kasih yg universal), Karuna (Belas kasihan), mudita (simpati atas kebahagiaan/kelebihan makhluk lain), Upekha ( seimbang dalam suka/duka)
* Samvara : Indera akan terkendali
* Santutthi : Puas
* Santi : Damai
* Sukha : Bahagia

Perbedaan antara doa menurut agama Buddha dengan doa menurut pandangan umum ::

Doa menurut agama Buddha diartikan sebagai tindakan penghormatan, perlindungan.. Sedangkan Doa menurut pandangan umum diartikan sebagai tindakan meminta atau memohon..

Mendeskripsikan sejarah & petunjuk tentang puja ..

Sejarah Puja pada Zaman Sang Buddha ::

Puja pada zaman Sang Buddha memiliki arti yang berbeda, yaitu menghormat. Pada masa Buddha terdapat suatu kebiasaan yang dilakukan oleh para bhikkhu yang disebut vattha. Vattha artinya merawat guru Buddha yaitu dengan membersihkan ruangan, mengisi air dan lain-lain. Setelah selesai melaksanakan kewajiban itu, mereka semua (para bhikkhu) dan umat duduk, untuk mendengarkan khotbah dari Buddha. Setelah selesai mendengarkan khotbah, para bhikkhu mengingatnya atau menghafal agar kemanapun mereka pergi, ajaran Buddha dapat diingat dan dilaksanakannya.

Pada hari bulan gelap dan terang (purnama) para bhikkhu berkumpul untuk mendengarkan peraturan-peraturan atau patimokkha yang harus dilatih. Patimokkha yang didengar oleh para bhikkhu adalah diucapkan oleh seorang bhikkhu yang telah menghafalnya. Sebelum atau sesudah pengucapan patimokkha bagi para bhikkhu, umat juga berkumpul untuk mendengarkan khotbah. Umat tidak hanya berkumpul dua kali, tetapi dipertengahan antara bulan gelap dan bulan terang, mereka juga berkumpul di vihara untuk mendengarkan khotbah. Namun, bila Buddha ada di vihara, umat datang untuk mendengarkan khotbah setiap hari.

Para umat biasanya juga melakukan puja (penghormatan) kepada Sang Buddha dengan mempersembahkan bunga, lilin, dupa, dan lain-lain. Namun, Sang Buddha sendiri berkata bahwa melaksanakan Dhamma yang telah Beliau ajarkan merupakan bentuk penghormatan yang paling tinggi. Oleh karena itu, Sang Buddha mencegah bentuk penghormatan yang berlebihan terhadap diri pribadi Beliau.

Sejarah Puja pada Zaman Pasca Buddha ::

Setelah Sang Buddha Parinibanna, umat tetap berkumpul, lalu untuk mengenang jasa-jasa dan teladan dari Sang Buddha atau merenungkan kebajikan-kebajikan Tiratana. Para bhikkhu dan umat berkumpul di vihara untuk menggantikan kebiasaan vattha. Sebagai pengganti khotbah Buddha, para bhikkhu mengulang kotbah-kotbah atau sutta. Selain itu, kebiasaan baik lain yang dilakukan oleh para bhikkhu dan samanera, yaitu setiap pagi dan sore (malam) mereka mengucapkan paritta yang telah mereka hafal. Kebiasaan para bhikkhu tersebut pada saat ini dikenal dengan sebutan kebaktian.

Kebaktian yang merupakan perbuatan baik yang patut dilestarikan adalah salah satu cara melaksanakan puja. Selain itu, sama dengan zaman Sang Buddha, para bhikkhu ataupun umat juga melaksanakan Dhamma ajaran Sang Buddha sebagai penghormatan tertinggi.

Sejarah Amisa Puja ::

Amisa puja dilaksanakan bermula dari bhikkhu Ananda. Beliau adalah murid setia Sang Buddha, setiap hari mengatur tempat tidur, membersihkan tempat tinggal, membakar dupa, menata bunga dll, mengatur pergiliran umat untuk menemui atau menyampaikan dana makanan kpd Buddha.
Setelah Buddha parinibbana, para arahat tidak terguncang batinnya, tetpai bhikkhu Ananda yang belum mencapai arahat, masih merasakan sedih dan berduka, karena selama bertahun-tahun ia berada didekat buddha, untuk merawat dan melayani. kebiasaan menyiapkan cendana, bunga-bungaan dall yang dilakukan oleh bhikkhu ananda kpd buddha inilah yang menjadi kebiasaan umat buddha melaksanakan amisa puja sampai sekarang. umat buddha melaksanakan amisa puja pada altar, relik orang suci, termasuk kpd para bhikkhu dengan memberikan dupa, bunga, lilin, dll.

Mengidentifikasi Praktik Puja Terkait dengan Budaya..

Perbedaan puja dan budaya ::

Puja adalah penghormatan sebagai sarana pengembangan batin yang lebih berkualitas.
sedangkan Budaya adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Menjelaskan Praktik Puja dalam Hari-hari Raya Agama Buddha..

* Hari Raya Waisak
Hari suci waisak adalah hari suci atau hari raya utama bagi umat Buddha. Hari Raya Waisak telah menjadi hari libur Nasional sejak tahun 1983, sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 3 Tahun 1983, tanggal 19 Januari 1983.
Hari Suci Waisak memperingati 3 peristiwa penting:
1. Hari lahirnya P.Sidharta pada tahun 623 SM di Taman Lumbini.
2. Tercapainya penerangan sempurna oleh pertapa Gotama dan menjadi Buddha pada tahun 588 SM, di hutan Gaya (Bodh Gaya) rimba Uruvela.
3. Buddha mencapai parinibbana (wafat) pada tahun 543 SM di Kusinara.
Karena memperingati 3 peristiwa penting dalam kehidupan Buddha, maka hari suci Waisak disebut juga “Tri Suci Waisak” dan sering disebut juga sebagai “Hari Buddha”. Hari raya Waisak ini biasanya jatuh pada bulan Mei atau Juni.

* Hari Raya Asadha
Beberapa alasan memperingati Hari Asadha :
1. Buddha membabarkan khotbah yang pertama kali dengna nama “Dhamma-cakkappavatana Sutta” (Khotbah Pemutaran Roda Dhamma)
2. Munculnya Sangha pertama kali di dunia. Sangha merupakan salah satu faktor dari Tisarana(Buddha,Dhamma,Sangha)
Hari Raya Asadha biasanya jatuh pada bulan purnama sidhi di bulan asadha (juli-agustus) dua bulan setelah Waisak.

* Hari Raya Khatina
Hari Raya Khatina dirayakan tiga bulan setelah hari Asadha. Perayaan ini diselenggarakan umat Buddha sebagai ungkapan perasaan terima kasih atas perbuatan baik yang telah dilakukan oleh para bhikkhu. Karena ketika bhikkhu melaksanakan vassa di vihara selama 3 bulan, mereka mengajar,menuntun dan membina umat agar mendalami,menghayati dan mengamalkan dhamma. Ungkapan terima kasih itu dinyatakan dengan mempersembahkan 4 kebutuhan pokok p[ara bhikkhu :
a. makanan (bhatta)
b. Jubah (civara)
c. Obat-obatan (bhesajja)
d. Tempat tinggal (kuti)
Dan pada saat penyelenggaraan upacara jubah khatina, di suatu vihara atau cetiya harus memiliki syarat-syarat tertentu :
1. jumlah bhikkhu pada tempat bervassa tersebut sedikitnya 5 orang
2. bhikkhu pada vihara tersebut harus membuat suatu dewan khusus.
3. upacara khatina hanya boleh diadakan pada waktunya, Mahayana hari 16 bulan ke 7 sampai hari ke 16 bulan ke 8. Theravada hari ke 16 bulan ke 11 sampai hari ke 16 bulan ke 12.
4. suatu vihara hanya boleh mengadakan Khatina Puja satu kali setahun.
# Hari Khatina disebut juga Hari Sangha.

* Hari Raya Magha Puja
Hari Magha Puja biasanya jatuh pada purnama sidhi di bulan magha (februari-maret). Pada hari ini memperingati 2 kejadian penting dalam masa hidup Buddha,yaitu:
1. berkumpulnya 1250 orang arahat di vihara veluvana, rajagaha.
kejadian ini memiliki keistimewaan yang disebut “Caturangga-Sanipata” sbb:
a. 1250 bhikkhu semuanya arahat.
b. semuanya ditahbiskan langsung oleh Buddha dengan klimat “Ehi Bhikkhu”.
c. semuanya datang tanpa persetujuan terlebih dahulu.
d. Buddha mengajarkan prinsip-prinsip ajaran-Nya yang disebut ” Ovada Patimokkha”.
2. Buddha memberikan khotbah “Iddhipada Dhamma” kepada para siswanya. Kejadian ini terjadi sewaktu Buddha berada di Cetiya Capala di dekat kota Vesali. Setelah beliau memberikan khotbahnya, beliau berdian diri sejenka dan membuat keputusan untuk wafat 3 bulan kemudian.

sumber: GIRIBALA.CO.CC

Mendeskripsikan sila sebagai bagian dari Jalan Mulia Berunsur Delapan

Pengertian sila ::
Sila mempunyai banyak arti. Pertama, berarti ‘ norma(kaidah), peraturan hidup, perintah’. Kedua, kata itu menyatakan pula keadaan batin terhadap peraturan hidup, hingga dapat berarti juga ‘ sikap, keadaan, perilaku, sopan-santun’ dan sebagainya.

Dasar-dasar pelaksanaan sila::
1.Sati dan sampajanna
-Sati=cetusan keadaan batin.
-Sampajanna=muncul kesadaran ketika sedang melakukan kegiatan.
2.Hiri dan ottapa
-Hiri=perasaan malu, sikap batin yang merasa malu bila melakukan kesalahan/kejahatan.
-Ottapa= enggan berbuat salah/jahat.

Jalan Mulia Berunsur Delapan::

1.Pandangan benar
2.Pikiran Benar
3.Ucapan Benar
4.Perbuatan Benar
5.Penghidupan Benar
6.Usaha Benar
7.Kesadaran Benar
8.Samadhi Benar

Ucapan benar :: menjauhkan diri dari berbohong, dari menyebarkan cerita,
dari kata-kata kasar, dan dari pembicaraan yang sia-sia.

Perbuatan Benar adalah menghindari::

* Membunuh
* Mengambil yang tidak diberikan
* Melakukan perbuatan asusila

Pengertian mata pencaharian benar::

Mata pencaharian atau pekerjaan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia, karena tanpa pekerjaan kita akan mengalami kesulitan dalam hidup kita. Kita memiliki akal dan kebijaksanaan, dengan kebijaksanaan kita dapat mengembangkan kemampuan, memperbaiki, membuat sesuatu atau memilih pekerjaan yang kita inginkan. Memilih pekerjaan yang akan kkita kerjakan adalah penting sekali sebab bila kita salah memilih perkerjaan, kita akan merasa selalu tidak puas dan menderita.