Rabu, 08 April 2015

sejarah cheng beng





Festival Qingming (hanzi tradisional: 清明節; sederhana: 清明; pinyin: qīng míng jié) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Cheng Beng (bahasa Hokkian) adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah ke kuburan sesuai dengan ajaran Khonghucu. Festival tradisional Tiongkok ini jatuh pada hari ke 104 setelah titik balik Matahari pada musim dingin (atau hari ke 15 dari hari persamaan panjang siang dan malam pada musim semi), pada umumnya jatuh pada tanggal 5 April, dan setiap tahun kabisat, Qing Ming jatuh pada tanggal 4 April. Secara astronomi, ini juga merupakan terminologi matahari. Dalam terminologi matahari, Festival Qīngmíng adalah pada hari pertama dari 5 terminologi Matahari, yang juga dinamai Qīngmíng. Nama yang menandakan waktu untuk orang pergi keluar dan menikmati hijaunya musim semi (Tàqīng 踏青, "menginjak tumbuhan hijau"), dan juga ditujukan kepada orang-orang untuk berangkat ke kuburan. Festival ini merupakan hari libur umum di Tiongkok (RRT), sama halnya juga di Hong Kong, Macau dan Taiwan.
Di Korea, Qīngmíng dikenal dengan sebutan hari Hansik.
Daftar isi
Pengenalan
Festival ini juga diketahui dengan sejumlah nama lain:
  • Hari Semua Arwah
  • Festival Bersih Terang
  • Festival Ziarah Kuburan
  • Hari Menyapu Kuburan
  • Hari Peringatan Musim Semi
Hari Menyapu Kuburan (Hari Pembersihan Pusara) dan Festival Bersih Terang adalah terjemahan yang paling umum dalam mengartikan 'Qīngmíng 清明' (qīng : bersih,míng : terang)
Untuk orang Tionghoa, hari ini merupakan suatu hari untuk mengingat dan menghormati nenek moyang. Setiap orang berdoa di depan nenek moyang, menyapu pusara dan bersembahyang dengan makanan, teh, arak, dupa, kertas sembahyang dan berbagai asesoris, sebagai persembahan kepada nenek moyang. Upacara ini adalah sangat penting bagi kebanyakan orang Tionghoa, terutama petani, dan biasanya dapat dilaksanakan 10 hari sebelum atau sesudah hari Qīngmíng 清明. Juga pada waktu Qīngmíng 清明, orang melakukan tamasya keluarga, mulai membajak sawah pada musim semi. Hal populer lain yang melakukan adalah memainkan layang-layang (dalam berbagai bentuk binatang, atau karakter dari Opera Cina).
Sesuai catatan, masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura dan juga beberapa daerah di Indonesia juga melanjutkan praktek dari kebiasaan ini.
Hari Hanshijie 寒食, sehari sebelum Qīngmíng 清明, diciptakan oleh Chong'er (重耳), Bangsawan Wen dari negara Jin () pada masa Periode Musim Semi dan Musim Gugur (Chunqiu 春秋), manakala ia secara tidak sengaja membunuh bawahan dan teman baiknya, Jie Zhitui 介之推 (atau Jie Zitui) dan ibunya dalam suatu pembakaran hutan dengan harapan akan membuat Jie Zhitui kembali kepadanya. Pada hari Hanshijie 寒食, orang tidak diijinkan menggunakan api untuk memanaskan makanan, yang kemudian dijuluki Festival Makanan Dingin. Dan pada kenyataannya, 300 tahun kemudian, perayaan Hanshijie 寒食 dikombinasikan dengan Festival Qīngmíng 清明... dan kemudian mulai dilupakan oleh kebanyakan orang.
Latar belakang
Festival Qīngmíng 清明 sendiri diciptakan oleh Kaisar Xuanzong (唐玄宗) pada tahun 732 (Dinasti Tang). Dengan alasan apa? Sebab orang Tiongkok kuno mengadakan upacara pemujaan nenek moyang dengan cara terlalu mahal dan rumit. Dalam usaha untuk menurunkan biaya tersebut, Kaisar Xuanzong (唐玄宗) mengumumkan penghormatan tersebut cukup dilakukan dengan mengunjungi kuburan nenek moyang pada hari Qīngmíng 清明.
Jie Zhitui
Pada mulanya, tradisi Cengbeng dicetuskan oleh putra mahkota Chong Er dari Dinasti Tang. Suatu hari karena difitnah oleh salah seorang selir raja, Chong Er terpaksa melarikan diri ke gunung bersama para pengawalnya. Kelaparan karena tidak membawa bekal makanan, salah seorang pengawal bernama Jie Zhitui memotong bagian badannya dan memasaknya untuk sang putra mahkota agar tidak mati kelaparan. Mengetahui pengorbanan pengawal setianya itu, Chong Er merasa sedih, tetapi Jie menghibur sang putra mahkota dan memintanya agar tetap teguh bertahan hingga Chong Er dapat kembali ke istana dan merebut tahta dari selir raja yang telah memfitnahnya.
Tiga tahun lamanya mereka bertahan hidup dalam kelaparan di gunung hingga akhirnya sang selir meninggal dunia. Sepasukan tentara menjemput Chong Er untuk kembali ke istana, saat itu dia melihat Jie Zhitui mengemasi sebuah tikar tua ke atas kuda. Chong Er mentertawakannya dan meminta Jie untuk membuang tikar itu, tetapi Jie menolaknya dan berkata,”...hanya penderitaan yang dapat hamba bagi bersama paduka, bukan kemakmuran...”. Jie berpamitan kepada Chong Er untuk tetap tinggal di gunung bersama ibunya.
Setelah Chong Er kembali ke istana, dia bermaksud mengundang Jie Zhitui, tetapi Jie tidak berhasil ditemukan. Chong Er memerintahkan tentara untuk membakar hutan digunung itu agar Jie segera keluar menemuinya. Yang terjadi malah sebaliknya, mereka menemukan Jie Zhitui mati bersama ibunya dibawah pohon willow. Chong Er sangat sedih melihat pengawal setianya itu malah mati karena keinginannya. Sejak itu Chong Er memperingati hari itu sebagai hari Hanshi. Pada saat peringatan Hanshi ini, kaisar tidak mengijinkan siapapun menyalakan api untuk memasak, sehingga peringatan ini juga dikenal dengan sebutan Perayaan Makanan Dingin.
Kaisar Xuanzong
Sedangkan tradisi peringatan Cengbeng sendiri sebenarnya dicetuskan oleh kaisar Xuanzong dari Dinasti Tang pada tahun 732. Kaisar saat itu menilai kebiasaan masyarakatnya terlalu sering melaksanakan upacara bagi pada leluhur dan berbiaya mahal sehingga seringkali menyusahkan mereka sendiri. Kaisar menitahkan sejak saat itu upacara bagi para leluhur cukup dilakukan pada pertengahan musim semi atau Cengbeng saja.
Dinasti Qing
300 tahun yang lalu pada masa pemerintahaan Dinasti Qing (1644 – 1911), tradisi peringatan Hanshi digabungkan dengan upacara Qingming (Cengbeng), lama kelamaan peringatan Hanshi mulai memudar dan tinggal tradisi Cengbeng yang bertahan hingga sekarang sebagai salah satu upacara penting bagi masyarakat tionghoa diseluruh dunia.
Di beberapa negara di Asia, peringatan Cengbeng dianggap sangat penting artinya dan diperingati sebagai hari libur nasional selama beberapa hari. Selain perayaan Tahun Baru Imlek, Cengbeng adalah tradisi penting bagi masyarakat tionghoa, karena pada masa inilah seluruh anggota keluarga berkumpul bersama menghormat dan memperingati leluhur mereka.
Literatur
清明時節雨紛紛 / 清明时节雨纷纷 / qīng míng shí jié yǔ fēn fēn
路上行人欲斷魂 / 路上行人欲断魂 / lù shàng xíng rén yù duàn hún
借問酒家何處有 / 问酒家何处有 / jiè wèn jiǔ jiā hé chù yǒu
牧童遙指杏花村 / 牧童遥指杏花村 / mù tóng yáo zhǐ xìng huā cūn

Senin, 16 Maret 2015

Ajaran Buddha & Tradisi-Tradisi Buddhis Oleh : Ven. Thubten Chodron, Singapura.

Apakah esensi Ajaran Buddha?

Singkat kata, esensi ajaran Buddha adalah berusaha untuk tidak menyakiti dan sebanyak mungkin memberikan pertolongan kepada orang lain. Atau,
Tidak berbuat jahat;
Berusahalah melakukan kebajikan;
Sucikan pikiran;
Inilah ajaran para Buddha.

Dengan tidak berbuat jahat (membunuh, dan sebagainya) dan melenyapkan pikiran-pikiran yang merusak (kebencian, kemelekatan, kepicikan dan sebagainya), kita telah berhenti merusak diri sendiri dan orang lain. Dengan menumbuhkan kebajikan luhur, kita mengembangkan sikap-sikap yang membangun, seperti cinta dan belas kasih universal, dan bertindak berdasarkan pikiran-pikiran bajik itu. Dengan menyucikan pikiran, kita membuang semua pandangan salah, sehingga menjadi tenang dan damai dengan menyadari kesunyataan.
Esensi Ajaran Buddha juga tercakup dalam tiga kaidah dari Jalan: pelepasan yang pasti, hati yang mengabdi, dan kebijaksanaan dalam menyadari kekosongan (sunyata). Pada awalnya, kita berusaha untuk keluar dari kemelut masalah-masalah kita dan sebab-sebabnya. Lalu, kita melihat orang lain juga mempunyai masalahnya sendiri, dan dengan cinta kasih dan belas kasih, kita mengabdikan hati ini untuk menjadi seorang Buddha, agar kita dapat benar-benar menolong yang lain. Untuk melakukan hal ini, kita mengembangkan kebijaksanaan dengan menyadari hakikat sebenarnya dari diri kita dan fenomena lainnya.

Apa itu Tiga Permata? Apa artinya berlindung kepada Tiga Permata?

Tiga permata adalah Buddha, Dharma, dan Sangha. Buddha adalah Ia yang telah sempurna menyucikan pikiran-Nya dari semua noda - nafsu yang membawa penderitaan, dan ucapan-perbuatan yang lahir dari nafsu itu beserta karat-karatnya; Ia yang telah mengembangkan semua nilai kebajikan, seperti cinta kasih dan belas kasih universal, kebijaksanaan tentang keberadaan, dan metoda mengajar yang jitu.
Dharma berisikan aturan-aturan yang menjauhkan kita dari semua masalah dan penderitaan. Dharma mencakup Ajaran Buddha, serta praktek atau jalan menuju lenyapnya masalah dan penderitaan itu. Sangha adalah para suci yang memiliki persepsi non-konseptual tentang kekosongan (sunyata) atau kebenaran tertinggi. Kadang-kadang, Sangha juga mengacu kepada mereka yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk mempraktekkan Ajaran Buddha. Dharma adalah perlindungan kita yang sebenarnya, obat yang akan menyembuhkan penyakit kita, tuntas sampai ke akar-akarnya. Seperti seorang dokter ahli, Sang Buddha dengan tepat memberikan diagnosis, apa penyakit kita, sebab-sebabnya, serta memberikan obat yang tepat. Sedangkan Sangha, yang membimbing kita dalam latihan, mirip perawat yang membantu kita menelan obat itu.

Berlindung kepada Tiga Permata berarti kita yakin dengan sepenuh hati pada Tiga Permata sebagai pembawa inspirasi dan penuntun hidup kita ke arah yang benar dan konstruksif. Berlindung tidak berarti secara pasif bersembunyi di balik Buddha, Dharma, dan Sangha. Sebaliknya, ialah suatu proses yang aktif dalam mengambil arah (menjalani) petunjuk mereka, serta meningkatkan kualitas hidup kita.

Mengapa begitu banyak tradisi dalam agama Buddha?

Sang Buddha membabarkan ajaran-Nya dengan banyak cara karena makhluk hidup (semua makhluk yang memiliki kesadaran tetapi belum menjadi Buddha, termasuk juga yang berada di alam-alam kehidupan lain) mempunyai watak, kebiasaan, dan minat yang berbeda-beda. Beliau tidak pernah mengharapkan kita semua cocok dengan satu bentuk sehingga ajaran-Nya pun di berikan dalam banyak cara dan dalam beragam cara melatih diri - dengan demikian tiap orang bisa menemukan sesuatu yang sesuai dengan tingkat kesadaran dan kepribadiannya. Dengan keahlian dan belas-kasih-Nya dalam menuntun yang lain, Sang Buddha memutar roda Dharma sebanyak tiga kali - setiap kali selalu dengan sedikit perubahan sistem filosofi. Tetapi esensi dari semua ajaran itu sama: tekad yang teguh untuk keluar dari lingkaran penderitaan yang berulang-ulang (samsara), belas-kasih kepada makhluk lain, dan kebijaksanaan ketanpa-akuan.

Tidak semua orang menyukai menu yang sama. Jika sebuah jamuan besar terhampar di depan kita, kita akan memlih makanan yang kita senangi. Tidak ada keharusan untuk menyukai semuanya. Akan tetapi, meski kita lebih menyukai makanan yang manis-manis, tidak berarti bahwa yang asin tidak baik dan mesti di buang! Demikian juga halnya, kita bisa saja memilih suatu pendekatan khusus dari Ajaran: apakah itu Theravada, Tanah Suci (Sukhavati), Zen, Vajrayana, dan sebagainya. Kita memiliki kebebasan untuk memilih pendekatan yang paling sesuai, yang dengannya kita merasa paling nyaman. Pun begitu, kita harus tetap mempertahankan pikiran yang terbuka dan menghormati tradisi yang lain. Seiring dengan berkembangnya batin, kita bisa mengerti unsur-unsur dalam tradisi yang lain yang gagal kita pahami pada awalnya.

Singkatnya, apa saja yang berguna dan bermanfaat bagi kita untuk hidup lebih baik, kita praktekkan, dan kita kesampingkan segala yang belum kita mengerti, tanpa perlu menolaknya. Sementara itu, jangan menempelkan identitas padanya dengan cara-cara yang konkret, seperti: "Saya seorang Mahayanis, engkau seorang Theravadin," atau "Saya seorang Buddhis, engkau seorang kr****n." Adalah penting untuk di ingat di sini bahwa kita semua adalah makhluk hidup yang mencari kebahagiaan dan ingin menyelami Kebenaran, yang masing-masing menemukan satu metoda yang sesuai.

Bagaimanapun, mempertahankan pikiran yang terbuka terhadap pendekatan yang berbeda tidak berarti mencampur-adukkan semuanya dengan acak, dan membuat latihan kita seperti cap-cai. Jangan mencampur teknik-teknik meditasi dari tradisi yang berbeda dalam satu latihan meditasi. Dalam satu masa latihan, lebih baik mempraktekkan satu cara saja. Jika kita mengambil sedikit dari teknik ini dan secuil dari teknik itu, tanpa benar-benar mengerti satu teknik pun, hasilnya barangkali hanya kebingungan!

Meskipun ajaran dari suatu tradisi bisa memperkaya pengertian dan latihan dari teknik yang lain, di nasihatkan untuk mempraktekkan hanya satu metoda dalam latihan sehari-hari. Jika kita melakukan meditasi pernafasan hari ini, melafalkan Buddha keesokan harinya, meditasi analitis pada hari ketiga, maka kita tidak akan memperoleh kemajuan dalam satu metoda pun karena tidak adanya kontinuitas dalam latihan tersebut.

Apa saja tradisi Buddhis yang beragam itu?

Secara garis besar, terdapat dua pembagian: Theravada dan Mahayana. Silsilah Theravada (Tradisi Sesepuh), yang berlandaskan pada sutra-sutra berbahasa Pali, tersebar dari India ke Srilanka, Thailand, Myanmar, dan lain-lain. Aliran ini menekankan pada meditasi pernafasan untuk mengembangkan konsentrasi dan meditasi penyadaran tubuh, perasaan, pikiran, dan fenomena, untuk mengembangkan kebijaksanaan. Tradisi Mahayana (Kendaraan Agung), berdasarkan pada kitab suci yang di tulis dalam bahasa Sanserketa - menyebar ke China, Tibet, Jepang, Korea, Vietnam, dan sebagainya. Walaupun dalam aliran Theravada praktek cinta kasih dan belas kasih adalah faktor yang fundamental dan penting, dalam Mahayana cinta kasih dan belas kasih ini di tekankan dengan jangkauan yang jauh lebih luas.

Dalam Mahayana, terdapat beberapa cabang: Aliran Tanah Suci yang menonjolkan pelafalan nama "Amithaba" agar bisa terlahir di Tanah Suci-Nya; Aliran Zen yang memberi tekanan pada meditasi untuk melenyapkan karat-karat dan konsep dari pikiran; Vajrayana (Kenderaan Intan) yang menggunakan meditasi dengan bantuan makhluk-makhluk suci untuk mentranformasikan tubuh dan pikiran kita yang kotor menjadi tubuh dan pikiran seorang Buddha.

Mengapa ada umat Buddha dari aliran tertentu makan daging sedangkan dari aliran lainnya vegetarian?

Pada awalnya, mungkin agak membingungkan bahwa kaum Theravada makan daging, orang Cina Mahayana tidak, dan orang Tibet yang mempraktekkan Vajrayana juga makan daging. Perbedaan dalam praktek ini tergantung kepada perbedaan penekanan pada masing-masing aliran. Penekanan pada ajaran Theravada adalah untuk melenyapkan kemelekatan pada obyek-obyek indria dan untuk menghentikan pikiran tidak seimbang yang berkata, "Saya suka yang ini dan tidak yang itu."

Dengan demikian, ketika bhikshu-bhikshunya pergi ke luar mencari derma, mereka menerima dengan tenang dan rasa terima kasih - apapun yang di berikan, daging atau bukan. Tidak hanya akan menyinggung perasaan orang yang memberi tetapi juga akan merusak latihan bhikshu itu sendiri dan menambah kemelekatan, jika ia berkata, "Saya tidak boleh memakan daging, jadi berilah saya sayur-sayuran yang segar." Dengan demikian, sepanjang daging itu datang bukan karena di pesan olehnya, serta tidak melihat, mendengar, atau curiga bahwa binatang itu di bunuh untuknya, bhikshu itu di perkenankan memakannya. Tetapi, akan lebih bijaksana jika mereka yang memberikan derma ingat bahwa premis dasar dari Ajaran Buddha adalah tidak menyakiti makhluk lain, dan mau memilih apa yang akan di persembahkan secara tepat.

Berpijak pada landasan ketidakmelekatan, belas kasih bagi makhluk lain sangat di tonjolkan, khususnya dalam tradisi Mahayana. Dengan demikian, bagi mereka yang mengikuti ajaran ini, di nasihatkan untuk tidak memakan daging - supaya tidak menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain dan untuk mencegah orang menjadi tukang jagal. Selain itu juga, karena getaran yang di timbulkan daging dapat menghalangi seorang siswa biasa dalam mengembangkan belas kasih.

Jalan Tantra atau Vajrayana mempunyai empat kelas. Di kelas bawah, kebersihan dan kesucian sebelah luar di tekankan sebagai teknik bagi praktisi untuk menumbuhkan kesucian sebelah dalam dari pikiran. Jadi, praktisi ini tidak memakan daging, yang di anggap tidak bersih. Sebaliknya, dalam Tantra-yoga tertinggi, berlandaskan pada ketidakmelekatan dan belas kasih, praktisi yang memenuhi syarat melaksanakan meditasi dengan mengambil obyek sistem urat syaraf yang sangat halus, dan untuk itu, unsur-unsur jasmaniah yang kuat sangat di butuhkan. Dengan demikian, daging bahkan di anjurkan bagi orang seperti itu. Pada tingkat ini juga di tekankan transformasi obyek dengan meditasi atas ketanpaintian. Tapi ia, karena meditasi yang mendalam, tidak makan daging dengan serakah bagi kepentingan dirinya sendiri.

Di Tibet, terdapat faktor tambahan untuk di pertimbangkan: berkenaan dengan tempat yang sangat dingin dan iklim yang kejam, terdapat sedikit sekali yang di makan selain gandum tanah, produk-produk susu, dan daging. Untuk bertahan hidup, rakyat di sana mesti makan daging. Yang Mulia Dalai Lama telah mendorong rakyat Tibet dalam pengasingan, yang sekarang tinggal di negeri-negeri yang penuh dengan sayur-mayur dan buah-buahan, untuk menahan diri sedapat mungkin dari memakan daging. Juga, jika seorang siswa mempunyai masalah berat dengan kesehatannya yang mengharuskannya makan daging, maka sang guru mungkin akan membolehkannya. Dengan demikian, setiap orang mesti memeriksa tingkatan latihannya serta kemampuan tubuhnya; dan makanlah dengan bijaksana.

Adanya beragam doktrin Buddhis itu, akhirnya, menjadi bukti kesanggupan Sang Buddha dalam menuntun orang berdasarkan watak dan kebutuhannya. Sungguh amat sangat penting untuk tidak terpecah dalam sekte-sekte, melainkan mesti menghargai semua tradisi beserta praktisinya.

Mengapa sejumlah bhikshu dan bhikshuni memakai jubah kuning sementara yang lain memakai jubah merah tua, abu-abu atau hitam?
Menyebar dari satu negeri ke negeri yang lain, Ajaran Buddha dengan lentur beradaptasi dengan kebudayaan dan cara berpikir masyarakat setempat, tanpa mengubah esensi dan artinya. Jadi tidak perlu di herankan jika corak jubah bhikshu pun bervariasi. Di Srilanka, Thailand, dan Myanmar, jubah bhikshu berwarna kuning dan tanpa lengan, seperti jubah di zaman Sang Buddha. Tetapi, di Tibet bahan pewarna kuning tidak tersedia, sehingga di gunakan warna yang lebih gelap, merah. Sedangkan di Cina, orang beranggapan tidak sopan untuk menampakkan kulit badan, jadi pakaian bhikshu pun di sesuaikan, kostum berlengan panjang dari Dinasti Tang lalu di pilih orang. Kebudayaan tertentu menganggap warna kuning terlalu cerah untuk maksud keagamaan, dan di pakai warna abu-abu. Tetapi, spirit yang di bawa oleh jubah itu tetap di pertahankan dalam bentuk tujuh dan sembilan keping jubah luar berwarna coklat, kuning, dan merah.

Cara paritta di lafalkan di tiap-tiap tempat juga berbeda, tergantung pada kebudayaan dan bahasa di tempat itu. Pun ada alat bunyi-bunyian yang di gunakan, dan cara memberi hormat. Orang Cina berdiri saat mereka membaca paritta, sementara orang Tibet duduk. Variasi ini di sebabkan oleh adaptasi kebudayaan. Adakah penting untuk mengerti bahwa bentuk luar dan cara melakukan sesuatu bukanlah Dharma. Mereka hanya alat untuk membantu kita mempraktekkan Dharma dengan lebih baik sesuai dengan kebudayaan dan tempay dimana kita tinggal. Tetapi, Dharma sejati tidak dapat di lihat dengan mata atau di dengar dengan telinga. Dharma sejati adalah untuk di selami oleh pikiran. Dharma sejati adalah apa yang mesti kita tekankan dan perhatikan, bukannya penampilan luar yang bisa berbeda dari tempat ke tempat

Rabu, 04 Maret 2015

Tradisi Pai Ti Kong Suku Hokkien ( Hari ke-9 Imlek )

Pai Ti Kong
Apa itu Pai Ti Kong ? Tradisi sembahyang kepada Ti Kong di hari ke 9 Imlek ini hanya dilakukan oleh suku Hokkien dan tidak dikenal disuku Hakka ,Tio Ciu atau suku lainnya.Bangsa Tiong Hoa selalu menyebut Thian atau Tuhan sebagai A Kong ( kakek ).
Suku Hokkien melakukan sembahyang ( Pai ) ke Ti Kong ( Dewa /Thian ) pada hari ke 9 Imlek karena suatu legenda. Ada tiga versi mengenai legenda tsb. ( Foto diatas,Kelenteng di Penang dicopas dari internet .)
Versi pertama terjadi pada zaman Dinasti Song, ketika bangsa Mongol menyerang Tiongkok Selatan.Hokkien atau provinsi Fujian merupakan target pasukan Mongol yang merencanakan membunuh semua penghuni daerah tsb. Penyerangan dilakukan tepat pada hari pertama Imlek sehingga suku Hokkien tidak bisa merayakan tahun baru. Mereka sangat ketakutan dan yang bisa dilakukan hanya menyembunyikan diri di perkebunan tebu supaya terhindar dari pasukan Mongol.
Tepat pada hari ke 9 Imlek mereka bersembunyi , pasukan Mongol mungkin juga mulai capek dan berhenti melakukan pencarian dan pergi meninggalkan daerah tsb. Penduduk percaya bahwa berkat perlindungan dari para Dewa, mereka terhindar dari pembunuhan.Dan sejak saat itulah setiap tahun timbul tradisi sembahyang atau Pai Ti Kong pada hari ke 9 Imlek untuk mengucapkan syukur dan terima kasih atas perlindungan –Nya..
Versi lainnya terjadi di abad ke 16 dimana ada sekelompok bajak laut menyerang pantai timur provinsi Hokkien tepat pada hari pertama Imlek. Para bajak laut melakukan penyerangan dari semua jurusan ke daerah Fujian dan membunuh siapa saja yang ditemuinya.
Ketika penduduk sangat ketakutan ,putus asa dan sudah mulai mau menyerah, tiba-tiba muncullah perkebunan tebu dihadapan mereka. Mereka yang sempat sembunyi di kebun tebu selamat dari pembunuhan dan hari itu tepat hari ke 9 Imlek. Orang-orang yang selamat dari pembunuhan itu percaya bahwa mereka telah mendapat pertolongan Ti Kong. Untuk menunjukkan kesetiaan mereka kepada Ti Kong, maka sejak itu suku Hokkien melakukan tradisi sembahyang pada hari ke 9 Imlek dengan batang tebu.
Versi terakhir legenda ini melibatkan Jendral Ming yang terkenal karena memiliki kemampuan berbicara dan mengerti dialek lokal hanya dengan meminum air dari provinsi tsb.Pada zaman itu dia ditugaskan menghabiskan setiap orang asing yang bukan penduduk di setiap provinsi. Dia dengan kemampuan khususnya sanggup membedakan mana penduduk asli dan mana yang asing.
Ketika mengunjungi provinsi Hokkian tepat pada hari pertama Imlek, pembantunya salah memberikannya air dari provinsi lain sehingga dia tidak mengerti bahasa yang diucapkan oleh penduduk Hokkian. Hal tsb. membuatnya yakin bahwa orang-orang tsb. bukan orang Hokkian. Keluarlah perintah untuk membunuh semua penduduk disana. Pembunuhan ini berlangsung sampai hari ke 9 Imlek , ketika dia meminum air sumur disana dan mendadak bisa bicara dan mengerti bahasa Hokkian. Jenderal Ming langsung sadar bahwa pasukannya telah salah membunuh dan segera memberikan perintah menghentikan pembantaian tsb. Mulai dari itu penduduk Hokkien percaya bahwa mereka telah dilindungi oleh Ti kong sehingga terjadi mukzijat tsb .Dan oleh karena itu sampai sekarang orang Hokkien selalu melakukan tradisi Pai Ti Kong pada hari ke 9 Imlek untuk mengucap syukur dan terima kasih kepada Ti Kong.

Tradisi Pai Ti Kong Suku Hokkien ( Hari ke-9 Imlek )

REP | 31 January 2012 | 19:40 Dibaca: 910   Komentar: 0   0
Pai Ti Kong
Apa itu Pai Ti Kong ? Tradisi sembahyang kepada Ti Kong di hari ke 9 Imlek ini hanya dilakukan oleh suku Hokkien dan tidak dikenal disuku Hakka ,Tio Ciu atau suku lainnya.Bangsa Tiong Hoa selalu menyebut Thian atau Tuhan sebagai A Kong ( kakek ).
Suku Hokkien melakukan sembahyang ( Pai ) ke Ti Kong ( Dewa /Thian ) pada hari ke 9 Imlek karena suatu legenda. Ada tiga versi mengenai legenda tsb. ( Foto diatas,Kelenteng di Penang dicopas dari internet .)
Versi pertama terjadi pada zaman Dinasti Song, ketika bangsa Mongol menyerang Tiongkok Selatan.Hokkien atau provinsi Fujian merupakan target pasukan Mongol yang merencanakan membunuh semua penghuni daerah tsb. Penyerangan dilakukan tepat pada hari pertama Imlek sehingga suku Hokkien tidak bisa merayakan tahun baru. Mereka sangat ketakutan dan yang bisa dilakukan hanya menyembunyikan diri di perkebunan tebu supaya terhindar dari pasukan Mongol.
Tepat pada hari ke 9 Imlek mereka bersembunyi , pasukan Mongol mungkin juga mulai capek dan berhenti melakukan pencarian dan pergi meninggalkan daerah tsb. Penduduk percaya bahwa berkat perlindungan dari para Dewa, mereka terhindar dari pembunuhan.Dan sejak saat itulah setiap tahun timbul tradisi sembahyang atau Pai Ti Kong pada hari ke 9 Imlek untuk mengucapkan syukur dan terima kasih atas perlindungan –Nya..
Versi lainnya terjadi di abad ke 16 dimana ada sekelompok bajak laut menyerang pantai timur provinsi Hokkien tepat pada hari pertama Imlek. Para bajak laut melakukan penyerangan dari semua jurusan ke daerah Fujian dan membunuh siapa saja yang ditemuinya.
Ketika penduduk sangat ketakutan ,putus asa dan sudah mulai mau menyerah, tiba-tiba muncullah perkebunan tebu dihadapan mereka. Mereka yang sempat sembunyi di kebun tebu selamat dari pembunuhan dan hari itu tepat hari ke 9 Imlek. Orang-orang yang selamat dari pembunuhan itu percaya bahwa mereka telah mendapat pertolongan Ti Kong. Untuk menunjukkan kesetiaan mereka kepada Ti Kong, maka sejak itu suku Hokkien melakukan tradisi sembahyang pada hari ke 9 Imlek dengan batang tebu.
Versi terakhir legenda ini melibatkan Jendral Ming yang terkenal karena memiliki kemampuan berbicara dan mengerti dialek lokal hanya dengan meminum air dari provinsi tsb.Pada zaman itu dia ditugaskan menghabiskan setiap orang asing yang bukan penduduk di setiap provinsi. Dia dengan kemampuan khususnya sanggup membedakan mana penduduk asli dan mana yang asing.
Ketika mengunjungi provinsi Hokkian tepat pada hari pertama Imlek, pembantunya salah memberikannya air dari provinsi lain sehingga dia tidak mengerti bahasa yang diucapkan oleh penduduk Hokkian. Hal tsb. membuatnya yakin bahwa orang-orang tsb. bukan orang Hokkian. Keluarlah perintah untuk membunuh semua penduduk disana. Pembunuhan ini berlangsung sampai hari ke 9 Imlek , ketika dia meminum air sumur disana dan mendadak bisa bicara dan mengerti bahasa Hokkian. Jenderal Ming langsung sadar bahwa pasukannya telah salah membunuh dan segera memberikan perintah menghentikan pembantaian tsb. Mulai dari itu penduduk Hokkien percaya bahwa mereka telah dilindungi oleh Ti kong sehingga terjadi mukzijat tsb .Dan oleh karena itu sampai sekarang orang Hokkien selalu melakukan tradisi Pai Ti Kong pada hari ke 9 Imlek untuk mengucap syukur dan terima kasih kepada Ti Kong.

Sabtu, 14 Februari 2015

puja bakti

puja bakti  adalah upacara  penghormatan tertinggi kepada tri ratna

didalam puja bakti dilatih utk tidak melekat keduniawian, utk melepas kemmelekatan pada duit,utk berbuat baik dan utk mengendalikan pikiran

mengikuti kebaktian adalah langkah awal mengubah nasib /mendapatkan kebahagian karena didalam kebaktian  setiap orang mendapatkan banyak kong tek :100 dari pelimpahan jasa yang dibaca dikebaktian 

selain kita sering mengikuti kebaktian , kita harus sembayang dirumah, sifat baik,kebiasaan baik, berbuat baik ,bertindak benar , jaga pikiran dan ucapan jangan sampai tidak baik dan intropeksi diri , kalau tidak berbuat baik dan tdak menjaga kongtek yang dibuat dan didapatkan dikebaktian  mengalir keluar

tujuan mengikuti kebaktian yaitu: pean, sehat , mendapatkan kebahagiaan duniawi (apa yang kita harapkan), kebahagian bathin dan kebahagiaan tertinggi ( mencapai nibbana)

manfaat mengikuti kebaktian yaitu: tercapAI TUJUAN MENGIKUTI KEBAKTIAN
DENGAN MENGIKUTI KEBAKTIAN MENDAPATKAN BERKAH UTAMA

Senin, 05 Januari 2015

Pandangan Hidup.



Pengertian Pandangan Hidup.

Pandangan hidup merupakan sesuatu yang sulit untuk dikatakan, sebab kadang-kadang pandangan hidup hanya merupakan suatu idealisme belaka yang mengikuti kebiasaan berpikir didalam masyarakat.
Pandangan hidup juga dapat di artikan sebagai hasil-hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman, fakta, pendapat, serta sikap meyakini sesuatu (pedoman).
Pandangan hidup sangat berpengaruh pada kehidupan setiap manusia, karena setiap perbuatan, sikap serta aturan-aturan yang tercipta berawal dari sebuah pandangan hidup. Pandangan hidup juga dapat di sebut dengan filsafat hidup yang dapat di artikan sebagai kecintaan atau kebenaran yang dapat dicapai oleh siapapun.
Pengertian Keyakinan / Kepercayaan

Keyakinan / kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup manusia adalah sebuah pemikiran yang mendasar dan mendalam terhadap suatu hal yang kemudian di anut untuk menjadi pedoman hidup mereka.
Keyakinan / Kepercayaan itu sendiri berasal dari akal atau kekuasaan tuhan. Sebuah akal yang berfikir tentang pedoman yang di anut merupakan pemberian Allah yang kemudian di implementasikan di kehidupan nyata. Keyakinan / kepercayaan itu sendiri nantinya akan membentuk sebuah filsafat.
Menurut Prof. Dr. Harun Nasution ada tiga aliran filsafat, yaitu aliran Naturalisme, aliran Intelektualisme, dan aliran Gabungan (Naturalisme dan Intelektualisme).
Aliran Naturalisme adalah hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natur, dan itu dari Tuhan.
Aliran Intelektualisme adalah dasar aliran ini adalah logika / akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir.
Aliran Gabungan adalah dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal. kekuatan gaib Minya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan.
Langkah-langkah Berpandangan Hidup Yang Baik.
Setiap manusia pasti memliki sebuah pandangan hidup, dan sebagian mereka memiliki cara pandang yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu hal. Bagaimana setiap orang memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada setiap individu yang bersangkutan. Ada yang memperlakukan pandangan hidup itu sebagai sarana mencapai tujuan dan ada pula yang memperlakukaan sebagai penimbul kesejahteraan, ketentraman dan sebagainya. Pandangan hidup sebagai sarana mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik. Adapun langkah-langkah itu sebagai berikut :
  • Mengenal.
Sebelum seseorang meyakini sesuatu pastilah ia harus mengenal apa yang ia lihat tersebut. Mengenal merupakan langkah awal dari berpandangan hidup yang baik di karenakan dengan mengenal, kita pun akan dapat membedakan suatu hal yang baik dan buruk menurut cara pandang kita sehingga kita tidak akan mengambil langkah yang salah.
  • Mengerti
Tidak cukup hanya dengan mengenal, kita harus mengerti tentang apa yang sedang kita hadapi. Mengerti sebagai langkah lanjut dari mengenal. Mengenal di ibaratkan hanya sebagai lapisan luar sedangkan jika kita ingin mengetahui lapisan dalamnya, kita harus mengerti.
  • Menghayati
Setelah kita mengenal dan mengerti suatu hal tersebut, maka langkah selanjutnya adalah menghayati. Dengan menghayati kita dapat lebih jauh mengerti
  • Meyakini
Langkah selanjutnya adalah meyakini. Meyakini dapat kita lakukan dengan memperdalam rasa mengenal, mengerti, serta menghayati. Dengan meyakini kita dapat dengan kuat berpegang teguh pada cara pandang yang kita yakini.
  • Mengabdi
Langkah terakhir untuk berpandangan hidup yang baik adalah dengan megabdi. Mengabdi merupakan suatu usaha untuk menyerahkan segenap keyakinan kita untuk suatu hal yang kita yakini. Dengan mengabdi menjadikan kita lebih dekat atau bahkan menjadi satu dengan hal yang kita yakini tersebut.
<<<<STUDI KASUS >>>>
Pada akhir-akhir ini sering ramai di beritakan tentang penyerangan sekelompok orang terhadap perkumpulan islam ahmadiyah. Mengapa bisa terjadi penyerangan tersebut ? Ahmadiyah yang merupakan salah satu aliran agama islam merupakan aliran yang di anggap sesat oleh penduduk setempat.
Penduduk setempat merasa resah akan keadaan yang terus berlanjut, karena perkumpulan Ahmadiyah yang semakin besar dan membuat sebagian dari warga desa disana meninggalkan ajaran islam yang mereka yakini dan berpaling ke ajaran Ahmadiyah.
Karena warga sudah tidak tahan lagi atas kelakuan kaum Ahmadiyah tersebut, akhirnya warga sepakat untuk melakukan penyerangan pada sebuah kediaman anggota Ahmadiyah.
setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Pada kasus ini cara pandang yang berbeda tersebut mengakibatkan sebuah perselisihan yang berupa penyerangan.
Cara pandang yang begitu berbeda antara penganut aliran Islam Ahmadiyah dengan penganut aliran islam yang biasa mengakibatkan timbulnya perseisihan dan akhirnya mengakibatkan penyerangan.
Biar bagaimanapun, setiap orang yang bertempat tinggal di Indonesia harus mengikuti hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, Penyerangan tersebut sangat disayangkan karena perbuatan tersebut melanggar hukum yang berlaku. Permasalahan yang seperti ini harusnya bisa diselesaikan dengan cara yang bijaksana.
Memang tidak akan mudah untuk merubah keyakinan yang sudah sangat mendalam. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa, oleh karena itu sebaiknya dilakukan perubahan cara pandang tersebut secara perlahan. Dengan demikian tidak akan mengakibatkan perselisihan di antara kedua belah pihak.
Kasus di atas merupakan salah satu contoh perbedaan cara pandang terhadap agama Islam yang mereka yakini. Keyakinan yang bersumber dari Agama Allah yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW dengan keyakinan yang bersumber dari seseorang yang bukan dipercayai sebagai Rasululah SAW. Karena menurut islam, ajaran Islam yang sesungguhnya ialah ajaran Islam yang di bawa oleh Raulullah SAW.
<<<< KESIMPULAN >>>>
Setiap manusia pasti memiliki pemikiran dan cara pandang yang berbeda-beda. Maka dari itu, pasti ada kemungkinan terdapat perbedaan pendapat atau keyakinan yang dianut masing-masing. Pada saat memiliki perbedaan tersebut, kemungkinan besar akan mengalami sebuah perselisihan. Jika tidak diselesaikan dengan kepala dingin, maka perselisihan yang kecilpun akan menjadi perselisihan yang besar. Sebelum meyakini sesuatu hal, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan terlebih dahulu. Yang pertama, kita harus mengenali dahulu apa yang kita pilih. Kedua, kita harus mengerti apa sisi baik-buruknya yang kita pilih. Ketiga, kita harus menghayati segala sesuatu yang harus kita pilih. Keempat dan kelima, kita harus meyakini dan mengabdi atas apa yang telah kita pilih, jangan sampai pandagan hidup yang kita pilih itu salah.

Pacaran Ala Buddhis

Dalam pembahasan ini, pengertian istilah ‘pacaran’ adalah hubungan seorang pria dan wanita yang bertujuan untuk saling mengenal secara pribadi sebagai persiapan membangun rumah tangga dalam ikatan perkawinan. Adapun penggunaan judul ‘Pacaran ala Buddhis’ tentunya tidak untuk membandingkan dengan ‘pacaran ala bukan Buddhis’, melainkan lebih menekankan cara mendapatkan pacar atau melangsungkan pacaran sesuai dengan Ajaran Sang Buddha.
Masalah pacaran ini memang hanya dialami oleh para umat Buddha yang tinggal dalam masyarakat, atau perumah tangga saja. Sedangkan, untuk para bhikkhu yang tidak menikah dan tinggal di vihara tentunya tidak mengalaminya. Namun, upaya mendapatkan pacar atau calon pasangan hidup ini tetap bisa dicari dalam Dhamma Ajaran Sang Buddha. Hal ini karena Ajaran Sang Buddha bukan hanya untuk para bhikkhu saja, melainkan juga untuk para perumah tangga.
Sebagai langkah awal, untuk mendapatkan seorang pacar tentunya diperlukan beberapa persiapan mental atau perbaikan pola pikir.
Pertama, milikilah rasa percaya diri yang timbul dari pemahaman bahwa mencari pacar sesungguhnya lebih mudah daripada mencari uang. Pemahaman ini berdasarkan pengalaman bahwa seseorang mungkin saja telah bekerja sepanjang hari, namun ia belum tentu mendapatkan selembar uang. Sebaliknya, ketika seseorang mulai membuka mata di pagi hari sampai hendak tidur di malam hari, tidak terhitung lawan jenis yang telah dilihatnya. Dari sekian banyak lawan jenis yang ditemuinya, tentu ada salah satu diantaranya yang layak dijadikan pacar.
Kalaupun sampai sekian tahun usia kehidupan seseorang masih belum mendapatkan pacar padahal ia sudah sangat banyak bertemu dengan lawan jenis, maka ia hendaknya berusaha menganalisa pola pikirnya. Mungkin, ia terlalu banyak melihat kekurangan yang ada pada lawan jenis yang dijumpainya. Mungkin pula ia terlalu banyak melihat kekurangan pada diri sendiri. Sebaliknya, ia mungkin melihat terlalu banyak kelebihan yang ada pada orang lain maupun diri sendiri. Selama pola pikir yang ia miliki masih belum sesuai kenyataan, bahwa setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing, maka tentu sangat sulit mendapatkan pacar. Untuk memperbaiki pola pikir, diperlukan langkah berikut yang ada di bawah ini.
Kedua, seseorang hendaknya mampu menyesuaikan diri dengan segala kekurangan dan kelebihan dari lawan jenis yang ditemuinya. Artinya, seseorang tidak akan mampu mengubah orang lain. Seseorang hanya mampu mengubah diri sendiri agar mengerti dan menerima kekurangan maupun kelebihan orang lain. Ia hendaknya mengganti kalimat dalam batinnya dari “Mengapa ia demikian” menjadi,”Memang ia demikian”. Dengan pola pikir yang berubah, seseorang akan menerima pacar sebagaimana adanya.
Ketiga, mengkondisikan agar orang yang sudah dapat diterima kekurangan dan kelebihannya itu untuk tertarik dan berkenan membalas cinta yang telah diberikan kepadanya. Untuk itu, seseorang haruslah meningkatkan kualitas diri agar layak diperhatikan dan dicintai.
Dalam Anggutara Nikaya VIII, 17-18 disebutkan adanya delapan kualitas diri yang dapat ditingkatkan. Adapun delapan kualitas diri itu adalah bentuk tubuh, senyuman, ucapan, nyanyian, tangisan, gerak gerik, hadiah, sentuhan. Agar lebih jelas, dalam kesempatan ini akan diuraikan secara singkat satu persatu dari kedelapan hal tersebut.
Bentuk tubuh
Adalah hal yang sangat wajar apabila seseorang tertarik dengan lawan jenis karena bentuk fisik yang dimilikinya. Oleh karena itu, upayakan merawat tubuh dengan baik. Jagalah kesehatan dan kebersihan tubuh. Seseorang tidak harus ganteng atau cantik, namun apabila ia menjaga dengan baik kondisi tubuhnya, maka kesempatan mendapatkan pacar akan jauh lebih besar daripada mereka yang tidak menjaga tubuhnya.
Senyuman
Upayakan untuk selalu tersenyum pada saat yang tepat. Senyuman yang tulus akan memberikan kebahagiaan untuk fihak lain. Seseorang yang murah senyum kiranya wajar kalau ia mendapatkan banyak teman. Dengan mempunyai banyak teman di sekitarnya, tentu semakin besar pula kemungkinan yang ia miliki untuk segera mendapatkan pacar.
Ucapan
Perhatikan ucapan yang disampaikan kepada rekan maupun kerabat. Ucapan yang baik, kata-kata yang halus dan lebih-lebih lagi bijaksana, akan mengkondisikan orang lain berbahagia. Dengan demikian, lawan jenis akan bersedia mendekat ingin dijadikan pacar atau pasangan hidup.
Nyanyian
Nyanyian yang dimaksudkan di sini dapat berarti kemampuan seseorang untuk bernyanyi, namun dapat pula berarti kemampuan seseorang bersuara merdu dan enak di dengar sewaktu ia berbicara. Jadi, hindari perkataan dengan nada tinggi yang menyakitkan telinga atau sebaliknya bergumam sehingga tidak dapat didengar oleh lawan bicara. Pembicara yang selalu memperhatikan tinggi rendahnya suara, cepat lambatnya ucapan serta keras lembutnya pengucapan tidak akan pernah membosankan pendengarnya. Ia selalu menjadi pusat perhatian lingkungannya. Dalam kondisi seperti ini, jelas akan ada orang yang ingin menjadi pacar ataupun pasangan hidupnya.
Tangisan
Tangisan tulus dan terjadi pada waktu yang tepat akan sangat berpengaruh dalam membangun serta membina hubungan dengan pacar. Oleh karena itu, jangan gunakan air mata untuk melakukan kebohongan agar mendapatkan belas kasihan orang lain. Gunakanlah setiap tetes air mata yang mengalir sebagai sarana mengungkapkan rasa haru akan kasih yang tulus. Dengan demikian, orang akan menghargai tangisan itu sebagai kondisi untuk mendekatkan kedua pribadi sebagai pacar atau pasangan hidup.
Gerak gerik
Lambaian tangan, gemulai badan, goyangan kepala sampai pandangan mata akan menjadi daya tarik tersendiri. Semakin tepat seseorang melakukan gerak gerik yang mendukung suasana tertentu, semakin besar pula kemungkinannya mendapatkan seorang pacar. Oleh karena itu, tidak jarang seseorang mengikuti berbagai kursus kepribadian agar ia mampu meningkatkan efektifitas gerak gerik yang dilakukannya.
Hadiah
Tidak disangkal bahwa sekuntum bunga mawar merah yang dipersembahkan dengan batin tulus dari seorang pria kepada seorang wanita sering berhasil mengawali sebuah kisah cinta. Hadiah yang diberikan memang tidak harus mahal harganya. Namun, setiap hadiah haruslah dibarengi dengan niat yang tulus yaitu memberikan perhatian. Dengan sering memberikan perhatian, maka tentu saja, ia akan mendapatkan perhatian pula dari lingkungannya. Dengan banyaknya perhatian yang diperolehnya, maka kesempatan mendapatkan pacar juga semakin besar.
Sentuhan
Sentuhan atau kontak fisik yang dimaksudkan dapat dilakukan dengan bergandeng tangan, mengusapkan keringat atau air mata pasangannya. Namun tentu saja bukan sentuhan yang berlebihan sehingga mengkondisikan terjadinya pelanggaran aturan kemoralan. Dengan sentuhan yang lembut, sopan dan menghargai orang lain, maka tentunya lawan jenis tidak keberatan untuk menjadi pacar. Oleh karena itu, penggunaan sentuhan yang tepat waktu dan sesuai dengan kondisi saat itu akan sangat membantu dalam proses pendekatan kedua belah fihak.
Dengan kemampuan meningkatkan delapan hal yang telah disebutkan di atas, kiranya mencari pacar bukanlah hal yang sulit lagi. Bahkan, ia yang sudah menjadi pacar, mungkin ia sangat berkeinginan untuk segera meningkatkan hubungan menjadi pasangan hidup dalam ikatan perkawinan.
Oleh karena itu, kiranya saran singkat pacaran ala Buddhis ini dapat dipelajari, dilaksanakan sehingga membuahkan kebaikan serta kebahagiaan sesuai dengan harapan.
Semoga demikianlah adanya.
Semoga Anda berbahagia.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.