Selasa, 19 Mei 2015

Cara mengendalikan perasaan2 yang muncul (kemarahan, putus asa, sedih, dll

Faktor bathin pada setiap makhluk hidup ada 52, yg disebut cetasika. 14 diantaranya adalah yg tdk bermanfaat [13 netral & 25 bermanfaat]. Karena kita berada di Asankhata Dhamma, berkondisi, maka rupa [jasmani] & nama [citta & cetasika] pun tentunya tdk luput karena keberkondisian ini. Artinya, semua faktor bathin kita pun "terikat" oleh 3 corak kehidupan universal: anicca, dukkha, & anatta...

Apakah faktor² bathin negativ, seperti: marah, benci, menyesal, dengki, dendam, dll ~ bisa dipertahankan terus²? Tidak yah? Akan berubah [anicca] juga, TERGANTUNG KONDISI [kondisi = paduan + proses]. Kondisi inilah yang menentukan keberlangsungan faktor bathin tersebut. Kesimpulan sementara sejauh ini, baik faktor bathin negativ & positiv, sama² berkondisi sehingga tidak bisa dipertahankan keberlangsungannya; bagaimanapun itu dipaksakan. Maka dengan pengertian mendalam yg benar, maka diharapkan kita bisa "memanage" faktor² bathin tsb... Bagaimana caranya? Setidaknya ada 3 metodologi:
1.. Suttamaya panna: kebijaksanaan pengetahun yg diperoleh dari belajar literatur, baca, diskusi, nonton, dll...
2.. Cintamaya panna: kebijaksanaan yang diperoleh dari kontemplasi no 1 di atas dgn kenyataan hidup sehari². Pemahaman pd tahap ini tentunya akan lebih kuat & mendalam dari pada yg no 1...
3.. Bhavanamaya panna: kebijaksanaan yang diperoleh dari kualitas pengembangan bathin yang mengarah kepada kesucian...
Kita rata² ada di tahapan no 1 di atas; maka dari itu, kita butuh lebih banyak kontemplasi dgn mengaitkannya pada kondisi keseharian kita. Menurut literatur, marah itu tidak bermanfaat, malah merugikan perkembangan bathin kita. Ini semata² kita 'tahu' ~ tapi apakah sudah 'mengerti'? 'Tahu' ada pd poin no 1, 'ngerti' sudah ada pd poin no 2... Umumnya ketika kita belajar utk masuk tahapan poin no2; kita gampang "terperangkap" dalam subjek permasalahan ~ sehingga bukannya merenungkan apa yg kita hadapi, sebaliknya justru merana karena perasaan yg ditimbulkan dari subjek permasalahan itu sendiri...

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Sekarang saya hendak mengajak kita semua utk coba mencari, dari mana & di mana kah marah [contoh umum] timbul atau berada???
Saya menggunakan ilustrasi sepasang kekasih; katakan saja si cowo suka colek si cewe, yah ibaratnya itulah cara di cowo memperlihatkan gaya romantisnya. Si cewe sih senang saja dicolek oleh cowonya sendiri; bahkan kalo si cowo sudah lama vacum colek, bisa² si cewe "nagih" lho ~ benar yah? Artinya ini umumlah ditemukan di dalam masyarakat.. .

Nah, gimana jika si cewe dicolek oleh seorang gembel; dgn "kualitas" colekan yg sama dgn pacarnya? Umumnya pasti tidak terima yah, paling umum sih, marah/kesal. .. Mengapa colekannya sama, cuma karena oleh insan yg berbeda maka menimbulkan amarah & kekesalan? Sebenarnya dari mana asal & letak kemarahan & kekesalan itu? Ilustrasi berikutnya, kita akan membuktikan bahwa marah itu bahkan bisa ditunda & dia hanya akan timbul jika kondisinya sudah tepat...

Skenarionya begini: saya akan menutup identitas pacar si cewe & si gembel hingga si cewe tdk bisa mengenalinya; di balik tirai, mungkin. Kemudian meminta kedua pria itu mencubit si wanita ~ kita lihat reaksinya si cewe ketika identity revealed... Varian skenarionya begini:
1.. Si cowo cubit dgn lembut & si gembel cubit lebih kasar ~ si cewe diminta tebak segera: mana yg si cowo & mana yg si gembel. Tebakannya tepat ~ after revealing identity, si cewe girang karena tebakannya tepat; plus cemberutin si gembel...
2.. Dibalik, si cowo cubit dgn kasar & si gembel dgn kelembutan ~ akhirnya si cewe salah tebak; kali ini kesal/marahnya sudah berubah objek: mengapa dirinya bisa ditipu oleh yg lembut/kasarnya sebuah cubitan?
3.. Even... sama lembutnya kedua cubitan & si cewe diminta utk menebak ~ namun hasilnya [pembukaan tabir] ditunda selama ± 1 jam; kemudian baru diberitahukan apakah tebakannya tepat atau tidak... ± 1 jam kemudian, after revealing identity, dia baru muncul perasaan, yg pasti kesal/marahnya sudah tdk seperti 2 sessi di awal...
Nah, sessi pertama; kemarahan muncul dalam hitungan detik, after revealing identity. Sessi kedua, karena salah tebak; kemarahan sudah tdk "sekuat" yg pertama ~ malah sudah bercampur perasaan malu...
Lha... sessi ketiga, ternyata kemarahan berubah menjadi ketegangan menunggu hasil after revealing identity. Saat itu, dimanakah kemarahannya? Padahal khan jelas barusan dicubit oleh 2 orang yg berbeda? Yg satu si cowo yg dia sukai utk dicubit ~ satunya justru yg menimbulkan marah tak kala mencubit. Cubitannya sudah terjadi, mengapa tdk spontan marah? ADA PERSEPSI/IDENTIFIKA SI/DEFINISI khan? Itulah kondisi [paduan+proses] yg disebutkan di atas... Umumnya disebut: permainan pikiran & perasaan... Di sessi ini, marah bisa ditunda hingga ± 1 jam, bahkan setelah itu, mungkin bisa jadi: bukan kemarahan yg timbul lho... Bisa² dia merasa lucu sendiri...

Jadi, apakah cubitan itu adalah sumber kemarahan? Ternyata bukan yah; persepsi yg definitif lah sumber kemarahan itu... Sama halnya dgn pejudi yg menang, royal kasih duit, nraktir, dll ~ tapi saat yg lagi kalah: kartu disalahin, tempat duduk bawa sial, pembagi kartu disalahkan dll...

Terhitung sejak kita bangun hingga tidur lelap kembali, kita semua cuma melayani 6 landasan indera ini:
~ melihat
~ mendengar
~ membaui
~ mengecap
~ merasakan sentuhan
~ berpikir
5 yg awal cenderung berorientasi kepada: lobha [sikap bathin yg melekat kepada obyek]...
1 yg terakhir cenderung berorientasi kepada: dosa [sikap bathin yg menolak akan obyek]...
Kita terbiasa meladeni & melayani keenam di atas; dia bilang mules~ke WC; dia bilang kesal~kita marah; dia bilang lapar/haus~kita makan/minum; dia bilang perempuan itu kasih harapan~kita selingkuh; dia bilang males~kita lanjut tidur, tulisan emailnya menyinggung saya~balas lah dgn singgung pribadinya, dll...
Nah, seberapa jauh kita yg justru balik mengendalikan keenam di atas? Nyaris sepenuhnya kita yg dikendalikan yah?

Di masyarakat, mudah ditemui yg pemarah, tapi juga ada yg penyabar dari sejak dia kecil. Apakah sudah takdir? Ada juga yg pemarah & berubah menjadi sabar... Penyabar yg menjadi pemarah juga banyak yah? Apakah semua itu sekoyong²? Ini semua merupakan ketangkasan bathin di dalam merespon obyek yg muncul dari 6 landasan indera di atas. Tentu saja bisa dilatih, saya yakin sekali itu. Sama halnya dgn yg belajar Bhs Inggris; awalnya mengeja alphabet pun sulit ~ setelah dilatih terus, cas-cis-cus mirip bule...

So, jika ada hal yg membuat kita marah; misalnya diomeli atasan atau salesman menyela dgn argumentasi ~ apakah BISA kita tidak marah? Jawabannya bukan BISA atau TIDAK BISA ~ namun MAU atau TIDAK MAU? Buktinya???
Coba seumpamanya saya kasih tantangan [ekstrim]: jika Anda tdk marah ketika diargumentasi dgn hal konyol oleh salesman Anda; maka saya kasih hadiah uang 1 MILYAR... Bisakah tidak marah? Pasti MAU; bukan masalah bisa atau tidak bisa lagi...
Ternyata 'kondinya' adalah motivasi yah ~ mungkin saja menilai marah lebih bermanfaat daripada sabar, barangkali? Cobalah kita bedakan dengan baik & benar:
a.. marah karena diargumentasi konyol oleh salesman & kemudian tetap memberikan argumentasi balik; dan
b.. tidak marah [alias tenang & sabar] karena diargumentasi konyol oleh salesman & kemudian tetap memberikan argumentasi balik...
Mana yang lebih OK? Ternyata MARAH dan TETAP MEMBERIKAN ARGUMENTASI BALIK adalah 2 hal yg berbeda jauh yah? Artinya kita tetap bisa "tetap memberikan argumentasi balik" dengan KETENANGAN ~ bukan KEMARAHAN...
Kita bisa lihat penampilan debat kandidat kepresidenan di AS; semua berusaha tenang, karena dgn demikian mereka bisa memberikan respon dgn baik & benar... Ternyata bisa dilatih yah?

Mari kita semua sama² melatih; mengutip reminder mentor saya: memang tidak sederhana, tapi bukan berarti tidak bisa ~ cuma perlu jujur & berani utk mencobanya.. .

Sukhi Hotu,

Sikap Seorang Umat Buddha & Kebanggaan..

oleh: YM. Sri Pannavaro - perangkum : Imeth


Bagaimana menjadi umat Buddha yg baik? Apakah yg harus diperhatikan dan dilakukan? Pertanyaan yg sederhana dan sering ditanyakan oleh seseorang yg tertarik kepada Agama Buddha.

1. Menjadi umat Buddha, syarat yg pertama sekali, bukan harus bisa membaca paritta dalam bahasa Pali, yg mungkin sukar u/ dibaca pertama kali. Bukan pula harus mempunyai altar dgn patung Buddha yg indah dirumah. Meskipun membaca paritta dan punya latar adalah suatu hal yg sangat baik. Yang pertama kali harus dilakukan adalah HARUS SIAP DAN BERANI MENGUBAH CARA BERFIKIR. Seorang umat Buddha akan ditandai dgn cara berfikir yg Buddhistis -- cara berfikir Dhamma -- adalah kita dihadapkan pada kenyataan yg 'telanjang' yg terus terang; kenyataan itu sering tidak cocok dgn selera kita. Namun dengan menghadapi kenyataan dengan APA ADANYA ini akan membuat kita menjadi dewasa dan bijaksana. Satu contoh, kalau kita mengidap penyakit, maka seorang umat Buddha harus mau mengakui bahwa diri kita sakit. Dhamma mengajak kita untuk melihat kenyataan hidup dengan apa adanya, dengan terus terang, TANPA SCREEN/TABIR. Oleh karena itu, meskipun berat & pahit, kalau kita mau melihat kenyataan dan menerima kenyataan, maka kita akan berfikit secara dewasa dan sikap kita akan menjadi sikap yg bijaksana. Menutupi penyakit adalah sikap yg kekanak-kanakan; karena itu sikapnya, tindakannya, perbuatannya kemudian tidak akan bijaksana. Sehingga perbuatannya akan menghancurkan dirinya sendiri. Inilah gunanya beragama, terutama mengenal Dhamma. Kita ditantang, diminta kesanggupan kita -- BUKAN hanya kesanggupan u/ menyumbang vihara. BUKAN! BUKAN pula kesanggupan u/ menghafal paritta. Tetapi kesanggupan untuk MENGUBAH CARA BERFIKIR dan kesanggupan u/ BERANI MELIHAT KENYATAAN SEBAGAIMANA ADANYA; sehingga sikap, tindakan & prilaku kita menjadi dewasa dan bijaksana.

2. Agama Buddha tidak anti materi, tidak menginginkan saudara hidup melarat, cukup pakai cawat kulit kayu, makan nasi-garam, selesai. TIDAK PERNAH ada ajaran agama BUddha yg demikian. Tetapi yg diminta oleh agama Buddha adalah BAGAIMANA PANDANGAN SAUDARA DALAM MEMANDANG UANG & MATERI ITU. Kalau pandangan saudara dlm memandang uang & materi sama dengan sebelum saudara menjadi umat BUddha, maka saudara bukan umat Buddha. Karena umat Buddha ditandai cara berfikir yg sesuai Dhamma. Agama Buddha tidak menganggap uang, materi, kendaraan, rumah, tanah itu adalah jelek, kotor dan dosa.TIDAK SAMA SEKALI! Karena materi & uang adalah NETRAL. Sama spt LISTRIK, bukan suatu yg penuh cinta kasih, tetapi juga bukan sesuatu yg kejam. Listrik bisa membakar rumah, membunuh manusia, tetapi bisa pula menerangi kita, membangkitkan mesin. Kalau saudara memandang uang, materi, rumah, mobil dsb itu bukan sebagai kekayaan atau sebagai milik melainkan sebagai alat u/ menyejahterakan keluarga, alat u/ melakukan kebaikan yg lebih banyak dalam kehidupan ini, maka itulah cara berfikir umat Buddha.

3. Semua orang senang akan kesenangan, kebahagian -- termasuk saya. Tetapi merupakan selera/keinginan manusia kemudian untuk mengukuhi, menggenggam kesenangan dan kebahagiaan menjadi miliknya untuk selama-lamanya. Dan menurut kenyataan, hal itu adalah SESUATU YG TIDAK MUNGKIN. Kalau saudara sudah siap mengubah cara berfikir bahwa memang segala sesuatu didunia ini adalah tidak kekal -- kebahagiaan maupun kepuasan adalah tidak kekal, demikian juga dengan problem, kesulitan, kesedihan adalah tidak kekal. Maka saudara sudah harus siap menghadapi dunia ini dengan segala perubahannya. Adalah orang yg paling kecewa didunia ini yg menganggap segala sesuatu didunia ini adalah kekal/abadi. Adalah orang yg paling tidak bahagia didunia ini yg mengukuhi segala sesuatu yg menyenangkan karena segala sesuatu itu adalah PERUBAHAN.

4. Mengubah cara berfikir seperti ini amatlah membantu. Sikap memandang dunia ini atau menanggapi segala sesuatu dengan jelas, benar & sesuai dengan kenyataan adalah sesuatu yg amat membantu. Ini lebih berharga daripada saudara mempunya macam-2 benda pusaka. Pusaka yang bisa dimasukan kedalam pikiran itulah yg paling berharga. PUSAKA PENGERTIAN yg sesuai dengan kenyataan. Dan untuk itu saudara dituntut untuk siap mengubah sikap berfikir saudara semula. Sekali lagi, memang belajar melihat kenyataan dengan terus terang ini adalah berat. PAHIT! Karena tidak sesuai dengan selera atau kehendak kita. Selera kita menginginkan kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan yg senantiasa dan terus menerus. Tetapi itu adalah tidak mungkin! Amat berat u/ menerima kenyataan kalau itu sudah berubah. Tetapi itulah kenyataan. Kalau saudara berani menghadapi kenyataan itu LUAR BIASA!

5. Bagaimana agar menjadi Berani? Harus siap mengubah cara berfikir yg sesuai kenyataan. Sekarang jangan lagi menganggap segala sesuatu itu abadi, kekal -- termasuk penderitaan, kesulitan, problem -- karena semuanya tidak kekal. Sekarang jangan lagi menganggap bahwa hidup adalah untung2an, pemberian atau hadiah. Tetapi mulai sekarang harus menganggap bahwa HIDUP ADALAH PERJUANGAN. Hidup ini adalah tidak kekal. Kita harus melihat kenyataan itu, sehingga kita tidak diputar-putar didalam perubahan yg tidak kita kehendaki. Kita harus menjadi dewasa sehingga kita menjadi bijaksana.

6. Tantangan bagi kita adalah BAGAIMANA KALAU KITA MENGHADAPI PERSOALAN/PROBLEM. Karena lingkungan, kolega, pekerjaan, pasangan, anak-2 kita tidak akan selamanya cocok dengan selera atau kemauan kita. Suatu saat kalau lingkungan tempat kita bergantung sudah tidak bisa menyenangkan kita lagi, maka habislah kita. Saudara merasa kebahagiaan saudara dirampok. Kalau masih 1 atau 2 problem dan saudara masih punya kenikmatan dibidang lain, maka tidak ada persoalan. Tetapi kalau problem itu datang bertubi-tubi dan bersamaan, semua tempat saudara bergantung tidak dapat memuaskan saudara, habislah kebahagiaan saudara. Seperti digoreng habis-habisan. Mampukah saudara bertahan? Kalau saudara mempunyai simpanan didalam batin, saudara akan bisa bertahan. "Andaikata lingkungan sudah tidak bisa lagi sesuai dengan selera saya, saya masih mempunyai kesenangan dan kebahagian batin." Dengan demikian saudara akan bertahan.

7. Darimanakah kita bisa mendapatkan kebahagiaan batin? Yakni dari pengetahuan mengenai hakikat kehidupan ini sebagaimana adanya, dan melakukan kebaikan. Inilah gunanya melakukan kebaikan. Saya tidak bicara kalau berbuat baik, akibat karmanya begini-begitu tetapi kebajikan itu akan menjadi simpanan batin. Tidak terasa -- seperti anda menabung di bank. Mungkin saudara berkata "Apa gunanya sih menabung, mengurangi jatah?" Tetapi nanti kalau saudara tiba pada keadaan yang sangat menyulitkan, saudara baru bisa merasakannya. Inilah keuntungannya orang menabung berbuat baik. Maka anjuran saya, permintaan saya, cobalah saudara menabung. Menabung didalam batin saudara. Untuk suatu saat kalau saudara jatuh dalam kesulitan, saudara mampu tetap bertahan, punya daya tahan yg saudara bangun sendiri. Tidak ada orang yg menghadiahkan daya tahan, kesabaran, kekuatan dll. Semua itu harus DILATIH, DITUMBUHKAN & DIKEMBANGKAN didalam diri, oleh diri sendiri, sebagai kekayaan pribadi didalam.

8. Inilah ajaran agama Buddha. Memang tidak simple/Mudah. Ajaran agama Buddha itu tidak menawarkan 2 alternatif: Percaya atau Tidak! Agama Buddha tidak sesimpel itu. Tetapi saudara dituntun seperti orang yg buta, lalu diobati, dibimbing pelan-2, bagaimana untuk menghadapi kehidupan ini, supaya bisa berdiri diatas kaki sendiri. Sulit Memang! Hasil-2 besar yg ada didunia ini bukanlah suatu kebetulan. Orang-orang besar yg bisa menemukan penemuan besar -- spritual atau material didunia ilmu -- tidak ada yang kebetulan. Semua itu adalah PERJUANGAN.

9. Kalau saya ditanya, "Bhante menjadi umat Buddha itu bangganya apa?" Apakah karena viharanya yg besar? Kebaktiannya rapi? BUKAN! Saya bangga menjadi umat Buddha karena saya mempunyai wawasan yg luas. Saya tidak sekedar ditawarkan OK atau TIDAK. YES or NO. Percaya atau Tidak. Bukan itu. Tetapi saya disodorkan pengertian. Kalau saya mengerti, saya akan percaya. Bukan dibalik "Kalau anda percaya, anda akan mengerti" Tidak demikian. Tetapi kalau anda MENGERTI, tidak usah diminta, anda akan PERCAYA. Mempunyai cara berfikir yg benar, sikap memandang kehidupan ini dengan benar, adalah syarat yg pertama menjadi seorang umat Buddha. Memang Berat! Tetapi itulah dunia ini sebagaimana adanya.

Penutup:
"Atana va sudantena, Natham Labari dullabham"
artinya:
"Setelah dapat mengendalikan diri sendiri dengan baik, seseorang akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari."

Siapa yg bisa melindungi saudara, yg paling setia, yg tidak berkhianat, yg paling "save"/aman ? Yaitu PIKIRAN SAUDARA SENDIRI YANG SUDAH DILATIH. Karena itu dengan melatih diri sendiri, akan mendapat keuntungan yg sukar dicari yaitu pelindung yg setia.

Marilah kita siap menghadapi kenyataan, punyailah modal didalam batin yg kuat, tegar menghadapi apapun. Karena apapun yg ada atau yang terjadi, adalah tidak kekal.

7 KEUNGGULAN AGAMA BUDDHA

Buddha diagungkan bukan karena kekayaan, keindahan, atau lainnya. Beliau diagungkan karena kebaikan, kebijaksanaan, dan pencerahanNya. Inilah alasan mengapa kita, umat Buddha, menganggap ajaran Buddha sebagai jalan hidup tertinggi.

Apa sajakah keunggulan-keunggulan yang menumbuhkan kekaguman kita terhadap ajaran Buddha?

1. Ajaran Buddha tidak membedakan kelas / kasta

Buddha mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau jahat bukan karena kasta atau status sosial, bukan pula karena percaya atau menganut suatu ajaran agama. Seseorang baik atau jahat karena perbuatannya. Dengan berbuat jahat, seseorang menjadi jahat, dan dengan berbuat baik, seseorang menjadi baik. Setiap orang, apakah ia raja, orang miskin atau pun orang kaya, bisa masuk surga atau neraka, atau mencapai Nirvana, dan hal itu bukan karena kelas atau pun kepercayaannya.

2. Agama Buddha mengajarkan belas kasih yang universal

Buddha mengajarkan kita untuk memancarkan metta (kasih sayang dan cinta kasih) kepada semua makhluk tanpa kecuali. Terhadap manusia, janganlah membedakan bangsa. Terhadap hewan, janganlah membedakan jenisnya. Metta harus dipancarkan kepada semua hewan termasuk yang terkecil seperti serangga. Hal ini berbeda dengan beberapa agama lain yang mengajarkan bahwa hewan diciptakan Tuhan untuk kepentingan kelangsungan hidup manusia, sehingga membunuh makhluk selain manusia bukanlah kejahatan. Beberapa agama bahkan membenarkan membunuh orang bersalah yang menentang agamanya.

3. Dalam ajaran Buddha, tidak seorang pun diperintahkan untuk percaya

Sang Buddha tidak pernah memaksa seseorang untuk mempercayai ajaranNya. Semua adalah pilihan sendiri, tergantung pada hasil kajian masing-masing individu. Buddha bahkan menyarankan, “Jangan percaya apa yang Kukatakan kepadamu sampai kamu mengkaji dengan kebijaksanaanmu sendiri secara cermat dan teliti apa yang Kukatakan.” Hal ini pun berbeda dengan agama lain yang melarang pengikutnya mengkritik ajarannya sendiri. Ajaran Buddha tidak terlalu dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan dan kritik-kritik terhadap ajaranNya. Jelaslah bagi kita bahwa ajaran Buddha memberikan kemerdekaan atau kebebasan berpikir.

4. Agama Buddha mengajarkan diri sendiri sebagai pelindung

Buddha bersabda, “Jadikanlah dirimu pelindung bagi dirimu sendiri. Siapa lagi yang menjadi pelindungmu? Bagi orang yang telah berlatih dengan sempurna, maka dia telah mencapai perlindungan terbaik.”

Ini bisa dibandingkan dengan pepatah bahasa Inggris, “God helps those who help themselves” –Tuhan menolong mereka yang menolong dirinya sendiri. Inilah ajaran Buddha yang menyebabkan umat Buddha mencintai kebebasan dan kemerdekaan, dan menentang segala bentuk perbudakan dan penjajahan.

Buddha tidak pernah mengutuk seseorang ke neraka atau pun menjanjikan seseorang ke surga, atau Nibbana; karena semua itu tergantung akibat dari perbuatan tiap-tiap orang, sementara Buddha hanyalah guru atau pemimpin. Seperti tertulis dalam Dhammapada, “Semua Buddha, termasuk Saya, hanyalah penunjuk jalan.” Pilihan untuk mengikuti jalanNya atau tidak, tergantung pada orang yang bersangkutan. Hal ini pula yang membedakan dengan agama lain yang percaya Tuhan bisa menghukum orang ke neraka atau mengirimnya ke surga. Tatkala orang melakukan segala jenis dosa, jika dia memuja, berdoa, dan menghormati Tuhan, maka Tuhan akan menunjukkan cintaNya dan mengampuni orang tersebut. Hal ini membuat orang menjadi terdorong untuk tidak peduli, sebesar apapun dosanya, jika dia memuja Tuhan, dia akan diampuni. Karena ini pulalah, dia akan terbiasa menunggu bantuan orang lain daripada berusaha dengan kemampuan sendiri.

5. Agama Buddha adalah agama tanpa perang

Dari awal perkembangannya sampai sekarang, lebih dari 2500 tahun –agama Buddha tidak pernah menyebabkan peperangan. Bahkan, Buddha sendiri melarang penyebaran ajaranNya melalui senjata dan kekerasan. Di lain pihak, banyak pemimpin agama yang sekaligus juga menjadi raja dari kerajaannya, dan pada saat yang sama menjadi diktator dari agamanya.

6. Agama Buddha adalah agama yang damai dan tanpa monopoli kedudukan

Dalam Dhammapada, Buddha bersabda, “Seseorang yang membuang pikiran untuk menaklukkan orang lain akan merasakan kedamaian.” Pada saat yang sama, Beliau memuji upaya menaklukkan diri sendiri. Beliau berkata, “Seseorang yang menaklukkan ribuan orang dalam perang bukanlah penakluk sejati. Tetapi seseorang yang hanya menaklukkan seorang saja yaitu dirinya sendiri, dialah pemenang tertinggi.”

Di sini, menaklukkan diri sendiri terletak pada bagaimana mengatasi kilesa (kekotoran batin). Andaikan semua orang menjadi umat Buddha, maka diharapkan manusia akan beroleh perdamaian dan kebahagiaan. Buddha mengatakan bahwa semua makhluk harus dianggap sebagai sahabat atau saudara dalam kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Beliau juga mengajarkan semua umat Buddha untuk tidak menjadi musuh orang-orang tak seagama atau pun menganggap mereka sebagai orang yang berdosa. Beliau mengatakan bahwa siapa saja yang hidup dengan benar, tak peduli agama apapun yang dianutnya, mempunyai harapan yang sama untuk beroleh kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Sebaliknya, siapapun yang menganut agama Buddha tetapi tidak mempraktikkannya, hanya akan beroleh sedikit harapan akan pembebasan dan kebahagiaan.

Dalam agama Buddha, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Dengan kata lain, setiap orang dapat mencapai Kebuddhaan. Dalam agama lain, tiada siapapun bisa menjadi Tuhan selain Tuhan sendiri, tidak peduli sebaik apapun pengikutnya bertindak. Seseorang takkan pernah mencapai tingkat yang sama dengan Tuhan. Bahkan pemimpin agama pun takkan pernah mencapai ketuhanan.

7. Agama Buddha mengajarkan hukum sebab dan akibat

Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu muncul dari suatu sebab. Tiada suatu apapun yang muncul tanpa alasan.

Kebodohan, ketamakan, keuntungan, kedudukan, pujian, kegembiraan, kerugian, penghinaan, celaan, penderitaan –semua adalah akibat dari keadaan-keadaan yang memiliki sebab.

Akibat-akibat baik muncul dari keadaan-keadaan yang baik, dan akibat buruk muncul dari penyebab-penyebab buruk pula. Kita sendiri yang menyebabkan keberuntungan dan ketidakberuntungan kita sendiri. Tidak ada Tuhan atau siapapun yang dapat melakukannya untuk kita. Oleh karena itu, kita harus mencari keberuntungan kita sendiri, bukan membuang-buang waktu menunggu orang lain melakukannya untuk kita. Jika seseorang mengharapkan kebaikan, maka dia hanya akan berbuat kebaikan dan berusaha menghindari pikiran dan perbuatan jahat.

Prinsip-prinsip sebab dan akibat; suatu kondisi yang pada mulanya sebagai akibat akan menjadi sebab dari kondisi yang lain, dan seterusnya seperti mata rantai. Prinsip ini sejalan dengan pengetahuan modern yang membuat agama Buddha tidak ketinggalan jaman daripada agama-agama lain di dunia.

Pengertian SILA

1. Sila adalah etika atau moral yang dilakukan berdasarkan cetana atau kehendak. Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ETHOS yang artinya kebiasaan atau adat.
2. Oleh karena itu etika sering dijelaskan sebagai moral. Dalam pandangan Buddhis sila memiliki banyak arti antara lain: norma (kaidah), peraturan, perintah, sikap, keadaan, perilaku, sopan santun, dan sebagainya
3. Sila pertama kali diajarkan Buddha kepada lima orang pertapa ketika menyampaikan khotbah pertama di Taman Rusa Isipatana.
4. Dalam khotbah tersebut dijelaskan tentang jalan menuju lenyapnya dukkha yang dinamakan jalan tengah.
5. Dalam jalan tengah sila memiliki kelompok Ucapan benar, Perbuatan benar dan Mata Pencaharian benar. Sila merupakan dasar yang paling utama dalam pengamalan kehidupan beragama.
6. Dengan memiliki agama merupakan langkah awal yang sangat penting untuk mencapai kehidupan yang luhur. Hal tersebut disampaikan dalam Kitab Samyutta Nikaya V, 143, antara lain : “ Apakah permulaan dari batin yang luhur ? Sila yang sempurna “

B. CIRI, FUNGSI, WUJUD DAN SEBAB TERDEKAT DARI SILA
1. Ciri Sila (Lakkhana) adalah ketertiban dan ketenangan
2. Fungsi (rasa) adalah untuk menhancurkan yang salah (dussiliya) dan menjaga agar orang tetap tidak bersalah (ancajja)
3. Wujud sila (paccupatthana) adalah kesucian (soceyya)
4. Sebab terdekat adalah Hiri dan Ottapa, hiri adalah perasaan malu untuk berbuat jahat atau kesalahan, ottapa ada perasaan takut akan akibat dari perbuatan jahat. Hiri dan Ottapa disebut Lokapaladhamma atau pelindung dunia.

C. PEMBAGIAN SILA
1. Sila menurut jenisnya terdiri dari 2 macam, yaitu :
a. Pakati Sila artinya sila alamiah(sila yang tidak dibuat oleh manusia). Contohnya hukum tertib kosmis (utu, bija, kamma, dhamma, citta niyama)
b. Pannati Sila adalah sila yang dibuat oleh manusia berdasarkan kesepakatan atas dasa tujuan tertentu. Contoh : peraturan kebhikkhuan, adat istiadat, peraturan Negara, dan lain-lain

2. Sila menurut pelaksanaannya terdiri dari 3 macam, yaitu :
a. Sikkhapada sila yaitu melakukan latihan pengendalian diri
b. Carita sila yaitu sila dalam aspek positif (mengembangkan 10 perbuatan baik)
c. Varita sila yaitu sila dalam aspek negatif (10 karma buruk)

3. Sila menurut jumlah latihannya terdiri dari 3 macam, yaitu :
a. Cula Sila adalah cara pengendalian diri dari segala perbuatan dan ucapan yang tidak baik. Disebut Cula Sila karena jumlah sila tersebut paling sedikit yaitu lima sila yang dilaksanakan oleh umat biasa atau upasaka dan upasika.
b. Majjhima Sila adalah sila yang sedang dalam jumlah peraturun. Sila ini terdiri dari sepuluh latihan (Dasasila) dilaksanakan oleh samanera.
c. Maha Sila adalah sila yang banyak/berat dalam jumlah peraturan. Sila ini disebut Patimokkhasila dilaksanakan oleh para bhikkhu berjumlah 227 latihan dan bhikkhuni berjumlah 311 latihan.

4. Sila menurut jenis orang yang melaksanakan terdiri dari 3 macam, yaitu :
a. Sila upasaka-upasika adalah pancasila Buddhis. Bila kelima sila ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh maka akan memiliki 5 macam kekayaan, al:
• Keyakinan terhadap Triratna dan diri sendiri
• Kemurnian sila dan pelaksanaannya
• Keyakinan terhadap hukum karma
• Mencari kebaikan di dalam dhamma
• Berbuat baik sesuai dengan dhamma

b. Sila bagi Samanera-samaneri adalah majjhima sila (sila menengah). Untuk aliran Theravada melaksanakan 10 sila dan 75 sekhiya. Untuk aliran Mahayana melaksanakan 10 sila dan 100 siksakaranya.

c. Sila para bhikkhu dan bhikkhuni disebut patimokkhasila atau panita sila (sila yang tinggi). Sila bagi bhikkhu Theravada berjumlah 227 sila, bhikkhuni 311 sila. Khusus sila bagi para bhikkhuni Theravada telah dihapuskan sejak tahun 1257 m karena dalam aliran Theravada tidak ada lagi sangha bhikkhuni. Sila bagi bhikkhu Mahayana berjumlah 250 sila dan bhikkhuni 348 sila.


PANCASILA


1. Pancasila adalah lima latihan kemoralan yang wajib dilaksanakan oleh kita (umat Buddha) semua dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila (Lima latihan kemoralan) terdiri dari :
a. Panatipata Veramani artinya melatih untuk menghindari membunuh
b. Adinnadana Veramani artinya melatih untuk menghindari mengambil barang yang tidak diberikan (mencuri)
c. Kamesumicchacara Veramani artinya melatih diri untuk menghindari berbuat asusila (berhubungan kelamin yang bukan sebagai suami/istri)
d. Musavada Veramani artinya melatih untuk menghindari berkata kasar/berbohong/ memfitnah/omong kosong.
e. Suramerayamajjapamadatthana Veramani artinya melatih untuk menghindari mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

2. Syarat terjadinya pelanggaran lima sila:
a. Syarat terjadinya pembunuhan adalah : adanya makhluk hidup, tahu bahwa makhluk itu hidup, ada niat/kehendak untuk membunuh, ada usaha untuk membunuh, makhluk tersebut mati/lenyap.
b. Syarat terjadinya terjadinya pencurian adalah : adanya barang, tahu bahwa barang itu, milik orang lain, ada niat/ kehendak untuk mengambil, ada usaha, barang tersebut berpindah tempat.
c. Syarat terjadinya perbuatan asusila adalah : ada obyek, ada niat untuk melakukan, ada usaha melakukan, berhasil melakukan.
d. Syarat terjadinya berkata kasar/berbohong/ memfitnah/omong kosong adalah : ada hal yang tida benar, ada niat untuk menyampaikan, ada usaha, ada orang lain yang percaya.
e. Syarat terjadinya karena minuman keras, adalah: adanya barang yang memabukan, mempunyai niat untuk meminum, melakukan usaha untuk minum, terjadi mabuk

3. Akibat Pelanggaran Pancasila
a. Akibat buruk dari membunuh yaitu: umur pendek, sering sakit-sakitan, selalu bersedih karena berpisah dengan yang dicintai, selalu ketakutan
b. Akibat buruk dari mencuri yaitu: kemiskinan, penderitaan, kekecewaan, hidup tergantung pada pihak lain
c. Akibat berbuat asusila yaitu: mempunyai banyak musuh, mendapat suami atu istri yang tidak diinginkan, lahir dengan keadaan biologis yang tidak sempurna
d. Akibat ucapan tidak benar:
• Berbohong yaitu: menjadi sasaran fitnah dan cacimakian, tidak dipercaya,mulut berbau
• Akibat memfitnah: pecahnya persahabatan tanpa sebab
• Akibat berkata kasar: dibenci pihak lain walaupun tidak mutlak salah, memiliki suara parau
• Akibat bergunjing adaah: cacat aat tubuh, sering bicara tidak masuk akal sehingga orang lain tidak percaya
e. Akibat Minum-minuman yang memabukkan Akibat dibicarakan banyak orang, kecerdasan menurun, tergantung pada orang lain
pelanggaran sila ke 5 akan mengakibat melanggar 4 sila lainnya


C. MANFAAT PELAKSANAAN SILA

1. Manfaat sila bagi perumah tangga sesuai dengan Kitab Maha Parinibbana Sutta adalah :
• Penyebab seseorang memiliki banyak harta kekayaan
• Nama dan kemasyurannya akan bertambah luas
• Menghadiri pertemuan tanpa ketakutan dan keragu-raguan
• Sewaktu akan meninggal hatinya tenang
• Penyebab terlahir di alam surga
2. Tujuan tertinggi melaksanakan sila adalah untuk mencapai Nibbana. Nibbana tidak sama dengan surga. Bedanya: Surga adalah tempat berdiamnya makhluk yang menerima akibat perbuatan baiknya.
3. Nibbana adalah keadaan dimana semua makhluk terbebas dari tanha dan kilesa.
4. Hubungan dhamma dan vinaya sangat erat karena, mengajar dhamma tanpa vinaya sama artinya mengajarkan jalan tanpa menunjukkan bagaimana cara memulai dan menempuhnya.

5. Pahala melaksanakan sila :
• Bebas dari penyesalan
• Bebas dari penyesalan menimbulkan kebahagiaan
• Kegembiraan dapat menimbulkan kegiuran (piti)
• Kegiuran dapat menimbulkan ketenangan (passadi)
• Ketenangan akan menimbulkan pemusatan pikiran (ekaggata)
• Pemusatan akan menimbulkan pengetahuan mengenai kesunyataan (anulomanana)
• Pengetahuan mengenai kesunyataan akan mendorong untuk mencari kebenaran (muncitukannyata nana)
• Usaha untuk mencari kebebasan akan mendapatkan pengetahuan tentang kebebasan (nibbana nana)
• Pengetahuan tentang kebebasan akan membawa orang kepada kebebasan (nibbana).



S I L A BUDHHIST

1. Pengertian Sila

1) Kehendak atau sikap batin yang tercetus sebagai ucapan benar dan perbuatan benar.
2) Cara untuk mengendalikan diri dari segala bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik atau merupakan usaha untuk membebaskan diri dari Lobha, Dosa, dan Moha.

2. Sila dalam Kitab Suci Tipitaka
Kitab Suci Tipitaka berisi ajaran Sang Buddha, yaitu tentang Sila, Samadhi, dan Pabba. Banyak sekali Sutta yang menegaskan tentang hal tersebut, di antaranya :
1) Dhammacakkappavattana Sutta 6) Sonadanda Sutta
2) Cullavedala Sutta 7) Rathavinita Sutta
3) Brahmajala Sutta 8) Vyagghapajja Sutta
4) Samannaphala Sutta 9) Sigalovada Sutta
5) Ambattha Sutta 10) Mangala Sutta, dan masih banyak lagi.

3. Ciri, fungsi, wujud, dan sebab-sebab terdekat yang menimbulkan Sila

1) Ciri (Lakkhana) dari Sila adalah ketertiban dan ketenangan.
2) Fungsi (Rasa) dari Sila adalah :
- Pertama, menghancurkan kelakuan yang salah (Dussiliya)
- Kedua, menjaga seseorang agar tetap tidak bersalah (Anavajja)
Atau secara ringkasnya :
- Menghancurkan kejahatan
- Memperbaiki perbuatan-perbuatan salah
- Menjaga, atau memelihara, atau mempertahankan perbuatan baik
3) Wujud (Paccupatthana) dari Sila adalah kesucian (Soceyya).
4) Sebab terdekat yang menimbulkan (Padatthana) Sila atau hal-hal yang langsung dapat membantu terwujudnya Sila adalah Hiri dan Ottappa.
Hiri dan Ottappa adalah Dhamma pelindung dunia (Lokapaladhamma).

4. Pelaksanaan Sila

1) Dengan pengendalian diri (Samvara)
- Patimokkha Samvara
- Sati Samvara
- Bana Samvara
- Khanti Samvara
- Viriya Samvara
Sedangkan cara untuk mengendalikan diri dari segala pikiran, ucapan, dan perbuat-an yang tidak baik dapat juga digolongkan dalam tiga cara, yaitu :
- Sikkhapada : melaksanakan latihan-latihan pengendalian diri
- Carita Sila : melaksanakan hal-hal yang baik
- Varitta Sila : menghindari hal-hal yang tidak baik
2) Dengan pantangan (Viratti)
- Sampatti Viratti : pantangan seketika
- Samadana Viratti : pantangan karena janji
- Samuccheda Viratti : pantangan mutlak

5. Ciri orang yang melaksanakan Sila

1) Sikap dan tingkah lakunya sopan
2) Bisa melihat ke dalam diri sendiri, apakah diri sendiri ini berhasil atau tidak dalam menjalankan atau melatih Sila

6. Pembagian Sila

1) Menurut jenis
- Pabbati Sila
Melatih mengendalikan diri dengan jalan mentaati atau patuh terhadap peraturan-peraturan dari luar, misalnya undang-undang, dan sebagainya

- Pakati Sila
Sila yang alamiah, yaitu cara pengendalian diri yang dipakai untuk membersihkan batin, seperti Sila dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Atau, Sila yang selalu dilaksanakan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan (alamiah)
2) Menurut besar – kecil tujuan atau maknanya
- Hina Sila : dilaksanakan dengan mengharapkan pengikut atau kedudukan
- Majjhima Sila : dilaksanakan dengan mendambakan jasa kebajikan
- Panita Sila : dilaksanakan dengan pengertian bahwa ini adalah suatu hal yang
benar-benar patut dilaksanakan
3) Menurut penggolongan umat Buddha
- Bhikkhu Sila
- Bhikkhuni Sila
- Anupasampanna Sila
- Gahattha Sila

7. Uraian Panca Sila

A. Sila Pertama ; menahan diri dari membunuh makhluk hidup

a. Ada lima faktor untuk dapat disebut membunuh
1) Ada makhluk hidup
2) Mengetahui bahwa makhluk itu masih hidup
3) Berpikir untuk membunuhnya
4) Berusaha untuk membunuhnya
5) Makhluk itu mati sebagai akibat dari usaha tersebut

b. Obyek dari pelanggaran Sila Pertama
1) Manusia
2) Binatang
- Binatang berguna
- Binatang tak berguna
* Yang merugikan
* Yang tak merugikan

c. Maksud (motif) dari pelanggaran Sila Pertama
1) Direncanakan (sengaja)
2) Tak dikehendaki
- Dorongan sesaat (mendadak)
- Mempertahankan diri
- Kecelakaan

d. Usaha dari pelanggaran Sila Pertama
1) Dikerjakan langsung
2) Dengan tak langsung

e. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Pertama yang harus juga kita hindari
1) Membunuh manusia dan hewan
2) Menyiksa manusia dan hewan
3) Menyakiti jasmani manusia dan hewan

f. Akibat dari melanggar Sila Pertama
1) Lahir kembali dalam keadaan cacat
2) Mempunyai wajah yang buruk
3) Mempunyai perawakan yang jelek
4) Berbadan lemah, berpenyakitan
5) Tidak begitu cerdas
6) Selalu khawatir/cemas, takut
7) Dimusuhi dan dibenci banyak orang, tidak mempunyai pengikut
8) Terpisahkan dari orang yang dicintai
9) Berusia pendek
10) Mati dibunuh orang lain

B. Sila Kedua : menahan diri dari mengambil sesuatu yang tidak diberikan

a. Ada lima faktor untuk dapat disebut mencuri
1) Ada sesuatu / barang / benda milik pihak lain
2) Mengetahui bahwa barang itu ada pemiliknya
3) Berpikir untuk mencurinya
4) Berusaha untuk mencurinya
5) Berhasil mengambil barang itu melalui usaha tersebut

b. Usaha dari pelanggaran Sila Kedua
1) Pencurian secara langsung
- Mencuri - Pemalsuan
- Merampas - Berbohong (memungkiri harta benda yang dititipkan)
- Memeras - Mencopet
- Merampok - Menukar barang
- Gugatan palsu - Menyelundup dan menghindari pajak
- Penipuan - Penggelapan
2) Pencurian tak langsung
- Berlaku sebagai kaki tangan (tukang tadah)
- Merayu untuk menipu
- Menerima suapan (pungli)

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Kedua yang harus juga kita hindari
1) Penghacuran barang orang lain dengan sengaja untuk balas dendam
2) Mempergunakan barang dengan sewenang-wenang

d. Akibat dari melanggar Sila Kedua
1) Tidak begitu mempunyai harta benda dan kekayaan
2) Terlahirkan dalam keadaan melarat atau miskin
3) Menderita kelaparan
4) Tidak berhasil memperoleh apa yang diinginkan dan didambakan
5) Menderita kebangkrutan atau kerugian dalam usaha dagang
6) Sering ditipu atau diperdayai
7) Mengalami kehancuran karena bencana atau malapetaka

e. Kebahagiaan yang dimiliki oleh orang yang mencari nafkah secara benar
1) Rasa bangga memiliki barang (harta) secara sah
2) Bebas dari beban yang membuat ia harus hidup bersembunyi
3) Sewaktu mempergunakan hartanya itu ia tidak tertekan batinnya
4) Hal itu memperkuatnya untuk tidak jatuh ke dalam cara-cara hidup yang jahat lainnya.

C. Sila Ketiga : menahan diri dari pemuasan nafsu seks dengan cara yang salah

a. Ada empat faktor untuk dapat disebut berzinah
1) Ada obyek yang tidak patut digauli
2) Mempunyai pikiran untuk menyetubuhi obyek tersebut
3) Berusaha menyetubuhi
4) Berhasil menyetubuhi, dalam arti berhasil memasukkan alat kemaluannya ke dalam salah satu dari tiga lubang (mulut, anus, atau liang peranakan) walau-pun hanya sedalam biji wijen

b. Obyek dari pelanggaran Sila Ketiga
1) Obyek yang menyebabkan pelanggaran Sila Ketiga oleh laki-laki
- Wanita yang telah menikah
- Wanita yang masih di bawah pengawasan atau asuhan keluarga
- Wanita yang menurut kebiasaan (adat istiadat) dilarang, yaitu :
* Mereka dilarang karena tradisi keluarga, masih dalam satu garis keturun-an yang dekat
* Mereka dilarang karena tradisi (peraturan) agama. Dalam tradisi Therava-da disebutkan : Upasika Atthasila, bhikkhuni di jaman dulu
* Mereka dilarang karena hukum negara pada jaman dulu, misalnya selir raja
2) Obyek yang menyebabkan pelanggaran Sila Ketiga oleh wanita
- Laki-laki yang telah menikah
- Laki-laki yang berada di bawah peraturan agama, misalnya bhikkhu, sama-nera

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Ketiga yang harus juga ki-ta hindari
1) Berzinah (melakukan hubungan kelamin bukan dengan suami/isterinya)
2) Berciuman dengan lain jenis kelamin yang disertai nafsu berahi
3) Menyenggol, mencolek, dan sejenisnya yang disertai dengan nafsu berahi

d. Akibat dari melanggar Sila Ketiga
1) Mempunyai banyak musuh
2) Dibenci banyak orang
3) Sering diancam dan dicelakai
4) Terlahirkan sebagai banci/waria atau wanita
5) Mempunyai kelainan jiwa
6) Diperkosa orang lain
7) Sering mendapat aib/malu
8) Tidur maupun bangun dalam keadaan gelisah
9) Tidak begitu disenangi oleh laki-laki maupun perempuan
10) Gagal dalam bercinta
11) Sukar mendapat jodoh
12) Tidak memperoleh kebahagiaan dalam hidup berumah-tangga
13) Terpisahkan dari orang yang dicintai

D. Sila Keempat : menahan diri dari berkata yang tidak benar

a. Ada empat faktor untuk dapat disebut berdusta
1) Ada sesuatu hal yang tidak benar
2) Mempunyai pikiran untuk berdusta
3) Berusaha berdusta
4) Pihak lain mempercayainya

b. Usaha dari pelanggaran Sila Keempat
1) Kebohongan langsung
- Bohong terang-terangan
* Menghasut
* Menipu/memperdayai
* Menjilat
* Pembatalan
- Pelanggaran sumpah/ikrar
- Muslihat/tipu daya
- Munafik, perbuatan pura-pura
- Permainan kata-kata secara licin
- Melebih-lebihkan
- Menyembunyikan/mengurangi
2) Kebohongan tak langsung
- Kata-kata melukai
* Sarkasme (pujian tajam)
* Penghinaan (merendahkan)
- Kebohongan tak terpikir
- Sindiran untuk menimbulkan perselisihan
3) Melanggar janji
- Perjanjian antara dua pihak
- Perjanjian satu pihak
- Pembatalan kata-kata

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Keempat yang harus juga kita hindari
1) Euphemisme (basa-basi)
2) Cerita (perumpamaan atau kiasan)
3) Salah pengertian
4) Salah ucapan
d. Akibat dari melanggar Sila Keempat
1) Bicaranya tidak jelas
2) Giginya jelek dan tidak rata/rapi
3) Mulutnya berbau busuk
4) Perawakannya tidak normal, terlalu gemuk atau kurus, terlalu tinggi atau pen-dek
5) Sorot matanya tidak wajar
6) Perkataannya tidak dipercayai walaupun oleh orang-orang terdekat atau ba-wahannya

E. Sila Kelima : menahan diri dari menggunakan makanan/minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan

a. Ada empat faktor untuk dapat disebut mabuk-mabukan
1) Ada sesuatu yang merupakan Sura, Meraya, atau Majja; yaitu sesuatu yang membuat nekat, mabuk, tak sadarkan diri, yang menjadi dasar dari kelengahan dan kecerobohan
2) Mempunyai keinginan untuk menggunakannya
3) Menggunakannya
4) Timbul gejala mabuk atau sudah menggunakannya (meminumnya) hingga ma-suk melalui tenggorokan

b. Obyek yang menyebabkan pelanggaran Sila Kelima
1) Segala jenis minuman/makanan yang memabukkan
2) Barang yang bila digunakan/dimasukkan di dalam tubuh bisa membuat kita ti-dak sadar dan ketagihan

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Kelima yang harus juga kita hindari
- Makan/minum sampai terlalu kenyang (kekenyangan) sehingga bisa mengaki-batkan muntah-muntah

d. Keburukan-keburukan dari makanan/minuman yang memabukkan
1) Pemborosan uang karena keinginan yang tak terkendali
2) Menjadi sebab untuk timbulnya pertengkaran dan perkelahian
3) Menjadi sebab untuk timbulnya penyakit, bukan sebagai penawar
4) Sebab utama dari timbulnya noda nama baik keluarga
5) Hilangnya pengendalian diri
6) Menimbulkan gangguan pada fungsi otak

e. Akibat dari melanggar Sila Kelima (melakukan pemabukan)
1) Dalam Avguttara Nikaya, Sutta Pitaka, Sang Buddha Gotama menekankan be-tapa besar akibat negatif yang ditimbulkan dari pemabukan:”Duhai para bhik-khu, peminum minuman keras secara berlebihan dan terus menerus niscaya dapat menyeret seseorang dalam alam neraka, alam binatang, alam iblis. Aki-bat paling ringan yang ditanggung oleh mereka – yang karena kebajikan lain, terlahirkan sebagai manusia – ialah menjadi orang gila/sinting”.
2) Dalam bagian lain Beliau juga mengatakan:”Ada tiga macam hal, duhai para bhikkhu, yang apabila dilakukan tidak pernah dapat membuat kenyang. Apa-kah tiga macam hal itu? Tiga macam hal itu ialah bertiduran, bermabuk-ma-bukan, dan bersetubuhan”.
3) Terlahirkan kembali sebagai orang gila; tingkat kesadaran/kewaspadaannya rendah; tidak memiliki kecerdasan; tidak mempunyai banyak pengetahuan; bersifat ceroboh; pikun; pemalas; sulit mencari pekerjaan; sukar memperoleh kepercayaan orang lain.

8. Uraian Panca Dhamma

Kalau Panca Sila bersifat negatif, maka Panca Dhamma (Lima Sifat Mulia) adalah ber-sifat positif, karena itu disebut pula sebagai Kalyana Dhamma, yaitu yang akan memu-liakan (mendukung) mereka yang mempraktekkan Sila. Panca Dhamma ini ada lima, yang masing-masing berhubungan secara berpasangan dengan Sila-Sila yang terda-pat di dalam Panca Sila.
1) Metta Karuna (cinta kasih dan belas kasihan)
2) Samma Ajiva (berpikiran untuk bermatapencaharian benar)
3) Santutthi (puas dalam hal nafsu berahi)
- Sadarasantutthi (seorang laki-laki puas hanya dengan satu isteri)
- Pativatti (seorang isteri setia hanya kepada satu suami)
4) Sacca (kejujuran/kebenaran)
5) Sati-sampajabba (ingat dan waspada)
- Waspada dalam makanan
- Waspada dalam pekerjaan
- Waspada dalam kelakuan seseorang
- Waspada dalam hakekat hidup

9. Pahala dari Sila

1) Secara umum
- Dapat melaksanakan Sila dengan baik, maka akan bebas dari penyesalan (kare-na bisa menjaga Sila dengan baik)
- Bebas dari penyesalan menimbulkan kegembiraan
- Kegembiraan dapat menimbulkan kegiuran (Piti)
- Kegiuran dapat menimbulkan ketenangan (Passadi)
- Ketenangan dapat menimbulkan kebahagiaan (Sukha)
- Kebahagiaan dapat menimbulkan pemusatan pikiran (Ekaggata)
- Pemusatan pikiran akan menimbulkan ‘pengetahuan mengenai kebenaran mu-tlak’ (Anuloma-bana)
- Pengetahuan mengenai kebenaran mutlak akan mendorong untuk ‘mencari kebe-basan’ (Muncitukamyata-bana)
- Usaha dalam mencari pembebasan akan mendapatkan ‘pengetahuan tentang ke-bebasan’ (Nibbana-bana)
- Pengetahuan tentang kebebasan akan membawa orang ke dalam ‘kebebasan’ (Nibbana)
2) Avguttara Nikaya IV (halaman 99)
Sang Buddha bersabda kepada Ananda sebagai berikut:”Ananda, Sila memiliki tia-da penyesalan sebagai tujuan dan buahnya”.
3) Mahaparinibbana Sutta
Sang Buddha berkata kepada Upasaka-Upasika tentang pahala dari Sila sebagai berikut:
- “Sila menyebabkan seseorang memiliki harta kekayaan yang banyak
- Nama dan kemashurannya akan tersebar luas
- Dia dapat menghadiri setiap pertemuan tanpa ketakutan atau keragu-raguan ka-rena dia menyadari bahwa dia tidak akan dicela atau didakwa orang banyak
- Sewaktu meninggal batinnya tentram, dan
- Akan terlahir dalam suatu tempat yang membawa kebahagiaan”.
4) Digha Nikaya II (halaman 69 – 70)
Sang Buddha bersabda kepada para bhikkhu sebagai berikut:”Jika seorang bhikkhu ingin dicintai dan dihormati oleh sesama bhikkhu, maka dia harus menjalankan Sila”.
Kutipan-kutipan tersebut di atas merupakan sebagian kecil tentang pahala dari Sila yang dibabarkan oleh Sang Buddha sendiri.
Sila adalah dasar dari penghidupan yang benar dari perumahtangga untuk mencapai kehidupan surga. Namun, tujuan tertinggi pelaksanaan Sila adalah perealisasian Nib-bana. Oleh sebab itu, ciri-ciri Sila adalah juga merupakan ‘jalan’ untuk merealisasi Nib-bana.

10. Tambahan penjelasan
A. Atthavga Sila (delapan macam peraturan / tata susila)
1) Panatipata vermani
Menghindari membunuh makhluk hidup apapun juga
2) Adinnadana veramani
Menghindari mengambil barang/sesuatu yang tidak diberikan
3) Abrahmacariya veramani
Menghindari melakukan hubungan kelamin
4) Musavada veramani
Menghindari mengucapkan kata-kata yang tidak benar
5) Surameraya-majjapamadatthana veramani
Menghindari menggunakan segala minuman/makanan yang dapat menyebabkan ketagihan dan lemahnya kewaspadaan
6) Vikalabhojana veramani
Menghindari makan pada waktu yang tidak tepat, yaitu lewat tengah hari
7) Naccagitavadita-visukadassana-malagandhavilepana-dharanamandana-vibhusa-natthana veramani
Menghindari menari, menyanyi, bermain musik, pergi melihat pertunjukkan/per-mainan; tidak memakai bunga-bungaan, wangi-wangian, kosmetik, atau perhias-an lain yang tujuannya untuk menghias atau mempercantik diri
8) Uccasayana-mahasayana veramani
Menghindari menggunakan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi, besar, dan mewah

B. Dasa Sila (sepuluh macam peraturan / tata susila)
1) sampai dengan 6) sama dengan Atthavga Sila
7) Naccagitavadita-visukadassana veramani
Menghindari menari, menyanyi, bermain musik, dan melihat pertunjukan
8) Malagandhavilepana-dharanamandana-vibhusanatthana veramani
Menghindari memakai bunga-bungaan, wangi-wangian, kosmetik, atau perhias-an bersolek lainnya
9) Uccasayana-mahasayana veramani
Menghindari menggunakan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi, besar, dan mewah
10) Jataruparajata-patiggahana veramani
Menghindari menerima emas dan perak (yang juga berarti ‘uang’)

Sabtu, 16 Mei 2015

DHAMMA UNTUK PERUMAH TANGGA


Submitted by Untung on April 30, 2015 – 12:52 pm2 Comments

Dhamma Untuk Perumah Tangga
Ceramah Dhamma Bhikkhuni Santini ( Ayya Santini ) Vihara Pluit Dharma Sukha April 2015
Sebenarnya tidak ada istilah khusus Dhamma untuk perumah tangga. Buddha Dhamma sebenarnya untuk siapa saja. Cuma dalam ceramah Dhamma ini yang dimaksud Dhamma untuk perumah tangga oleh Ayya Santini adalah Dhamma yang menyentuh kehidupan sehari-hari untuk umat perumah tangga. Bukan teori Dhamma yang berat berat, seperti membahas sutta barangkali maksudnya.
Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa meditasi bukanlah untuk perumah tangga. Bagaimanapun juga Buddha Dhamma tanpa meditasi bukanlah Buddha Dhamma. Jadi sekali lagi pengertian Dhamma untuk perumah tangga tidak lah bisa diartikan sempit sebagai Dhamma tanpa meditasi. Sampai saat ini secara pribadi saya sangat merasa miris jika seorang umat Buddha perumah tangga melihat meditasi sebagai sesuatu ajaran hanya untuk anggota Sangha. Menyedihkan.
Ayya Santini membuka ceramahnya dengan mengatakan bahwa kita ke vihara bukanlah untuk tujuan mencari penghiburan. Kita ke Vihara untuk bisa lebih dekat dengan Dhamma. Kita memeriksa apakah kebijaksanaan kita makin bertambah atau malah kebodohan kita bertambah. Apakah sifat kita semakin jelek atau semakin baik setelah ke vihara.
Pada saat seseorang berbuat jahat kepada orang lain sebenarnya pada saat itu justru dia telah berbuat jahat kepada dirinya sendiri. Pada saat itu secara tidak sadar dia sudah tidak menyayangi dirinya sendiri. Bagaimana tidak? karena dengan berbuat jahat dia telah menyiapkan sebuah keburukan yang akan menimpa dirinya kelak.
Seseorang yang menyayangi dirinya adalah seseorang yang mempersiapkan dirinya untuk menerima hal hal yang baik dengan jalan melakukan kebaikan pada saat ini. Sering melakukan kebaikan adalah cara untuk menyayangi diri sendiri.
Mengapa seseorang masih sering berbuat jahat? karena dirinya masih sering memberi makan kepada kotoran batin yang muncul. Seperti yang diceritakan oleh Ayya Santini bahwa dalam diri kita ada serigala hitam dan serigala putih. Serigala mana yang menang adalah serigala yang kita beri makan setiap hari. Jadi jangan mengabaikan perbuatan jahat yang dilakukan walaupun kecil karena akan bisa menjadi kebiasaan yang suatu saat tidak kita rasakan lagi keburukannya karena sudah terbiasa dilakukan.
Dengan berbuat jahat kita memberi makan serigala hitam, dengan  melakukan kebaikan kita memelihara serigala putih. Tetapi manapun yang diberi makan serigala tetaplah serigala. Artinya kita akan tetap dilahirkan berulang ulang dalam alam kehidupan yang buruk dan alam kehidupan yang baik. Jadi itulah sebabnya Buddha Dhamma mengajarkan kita untuk janganlah berbuat jahat, tambahlah kebaikan. Namun tidak cukup hanya sampai disitu karena kita masih memberi makan serigala. Yang lebih penting kita harus sucikan hati pikiran kita, itulah ajaran para Buddha. Silakan anda merenungkan hal ini.
Ayya Santini juga memperingatkan kita bahwa pada saat melakukan kebaikan lakukanlah dengan kebijaksanaan. Sadarkah anda bahwa pada saat kita merasa melakukan kebaikan sebenarnya yang kita lakukan adalah malah keburukan? Pernahkan anda menolong orang namun dengan dasar hati yang tidak suka atau malah ada perasaan benci?


http://www.ceramahdhamma.com/contents/anggota-sangha/bhikkhuni-santini/dhamma-untuk-perumah-tangga

Dimana Bahagia


Submitted by Untung on April 3, 2013 – 8:05 am16 Comments
Dimana Bahagia Dimana Bahagia.  Ceramah Dhamma oleh Bhante Sri Pannavaro Mahathera
Semua orang ingin bahagia. semua orang mencari cari dimana bahagia. Apa sebenarnya bahagia itu? Bhante Sri Pannavaro Mahathera mengatakan kita tidak perlu mencari dimana bahagia.
Kita akan sulit jika mencari dimana bahagia. Karena kita tidak akan menemukannya.  Masih ingat syair lagu ciptaan alm. Bhante Girirakkhito yang berjudul dimana bahagia?
Dimana Bahagia (lagu cip. Bhante Girirakkhito alm.)
Lama tlah ku mencari berkelana kian kemari
Dimana gerangan dikau duhai bahagia
Daku bersuka ria berpesiar ke taman sari
Bahagia sekejap mata hanya bagai mimpi
Daku mohon para dewa dewi
Masuk ke candi berjunjung jari
Tetapi hanyalah hampa surga tak dapat dibeli
Sekarang ku mengerti bahagia di dalam hati
Dimana sang nafsu lenyap disana bahagia
Bhante Sri Pannavaro Mahathera mengatakan bahagia otomatis muncul saat penderitaan berkurang. Jika penderitaan lenyap maka kebahagiaan tertinggi atau nibbana tercapai. Tidak perlu mencari dimana bahagia. Bahagia tidak ada di vihara, di altar Buddha atau tempat lainnya.
Bhante Sri Pannavaro Mahathera dalam khotbah saat perayaan hari Magha di Vihara Pluit Dharmasukha menjelaskan selain peristiwa yang terjadi di hari Magha tersebut namun juga menerangkan secara sederhana bagaimana untuk mengurangi penderitaan. Semua terkait dengan apa yang di ucapkan oleh Buddha Gautama kepada 1250 orang arahat yang tanpa diundang berkumpul di taman tupai Velluvana Arama. Apa yang diucapkan oleh Buddha saat itu dikenal sebagai Ovada Pathimokha.
Dalam empat kesunyataan mulia, Buddha Gautama tidak mengatakan bahagia. Buddha Gautama mengatakan ada penderitaan, penderitaan itu ada sebabnya, penderitaan dapat dilenyapkan serta jalan untuk melenyapkan penderitaan. Ajaran Buddha dari dahulu sampai sekarang hanya satu yaitu penderitaan dan lenyapnya penderitaan, bukan sekedar mencari dimana bahagia.
Lenyapnya penderitaan tidak sama dengan bahagia. Lenyapnya penderitaan adalah kebahagiaan tertinggi yang bukan sekedar bahagia. Penderitaan berkurang maka kebahagiaan muncul. Lenyapnya penderitaan, bebas dari kotoran batin maka kebahagiaan tertinggi tercapai, Nibbana Paramang Sukhang. Saat penderitaan lenyap maka selesai sudah tugas kita.



http://www.ceramahdhamma.com/contents/anggota-sangha/sri-pannavaro-mahathera/dimana-bahagia

Sakit Tua Mati Bukanlah Sebab Penderitaan


Submitted by Untung on August 16, 2014 – 1:11 pm9 Comments
Sakit Tua Mati Bukanlah Sebab Penderitaan Sakit Tua Mati Bukanlah Sebab Penderitaan. Oleh: Bhante Sri Pannavaro Mahathera. VPDS Asadha 9 Agustus 2014
Dalam empat kesunyataan mulia dikatakan hidup ini adalah dukkha, penuh ketidakpuasan. Lahir, tua, sakit dan mati adalah dukkha. Tetapi sakit tua dan mati bukanlah sebab dari penderitaan. Apakah anda bingung dengan kalimat diatas?
Sesungguhnya ajaran Buddha Gautama jika ingin di ringkas menjadi satu kalimat hanyalah berisi tentang penderitaan dan lenyapnya penderitaan. Tidak lebih dan tidak kurang. Kita selalu diingatkan bahwa hidup ini menderita dan anda harus melakukan apa yang diajarkan Buddha untuk dapat melenyapkan penderitaan.
Kita semua dapat merasakan bahwa kelahiran membawa penderitaan. Sakit adalah menderita. Tua adalah penderitaan dan mati adalah penderitaan. Namun bhante Sri Pannavaro mengatakan, walaupun sakit adalah menderita tetapi sakit atau penyakit itu bukanlah yang menyebabkan anda menderita. Demikian juga menjadi tua merupakan penderitaan, tetapi tua itu sendiri atau ke-tua-an itu bukanlah sebab dari penderitaan kita. Penjelasan yang sama berlaku juga dengan kematian.
Kita tahu Buddha semasa masih hidup pun sudah terbebas dari penderitaan. Namun Buddha tetap mengalami tua, sakit dan meninggal (parinibbana) dalam hidupnya. Jadi jelas lah jika sakit, tua dan mati bukanlah sebab dari penderitaan karena Buddha tidak menderita karena sakit, tua dan mati.
Jika sakit itu menderita namun bukan sebab dari penderitaan, lalu apa yang menyebabkan kita menderita saat sakit? Apa yang menyebabkan kita menderita saat tua dan mati?  Sakit, tua dan mati hanyalah suatu bentu aksi. Reaksi pikiran kita terhadap sakit, tua dan mati itulah yang menyebabkan kita menderita.
Agar lebih jelas mengenai sakit, tua dan mati bukanlah sebab penderitaan, silakan anda menyimak langsung ceramah dari Bhante Sri Pannavaro Mahathera yang dibawakan saat perayaan Asadha 2014 di Vihara Pluit Dharma Sukha