Rabu, 20 Mei 2015

Lima Elemen dan Kesempurnaan Hoki


Submitted by Untung on February 19, 2013 – 8:54 pmOne Comment
Lima Elemen dan Kesempurnaan HokiLima Elemen dan Kesempurnaan Hoki  oleh: Budiyono Tantrayoga
Apa hubungan nya antara lima elemen dengan kesempurnaan hoki anda? apa itu lima elemen? Bagaimana itu bisa dikaitkan dengan hoki anda?
Lima elemen dikenal dalam kebudayaan China atau dalam ilmu Ba Zi ( Pek Ji ) maupun Feng Shui. Lima elemen tersebut adalah Air, Kayu, Api, Tanah dan logam. Air menghidupi kayu. Kayu menghidupi api. Api menghidupi tanah. Tanah menghidupi logam dan logam menghidupi air.
Bapak Budiyono Tantrayoga menguraikan hubungan lima elemen tersebut dikaitkan dengan kesempurnaan hoki anda lewat tingkah laku anda sebagai cerminan dari lima elemen tersebut.
Apakah lima elemen ini dikenal dalam Buddhism? Dalam Buddhism dikenal adanya empat elemen (catudhatu) yang membentuk jasmani maupun materi dalam alam semesta ini yaitu elemen tanah atau Pathavidhatu, elemen air atau Apodhatu, elemen api atau Tejodhatu dan elemen udara atau Vayodhatu.
Dalam Mahasatipatthana Sutta, ada bagian dimana Buddha meminta kita  untuk merenungkan empat elemen ini dalam meditasi. Tubuh jasmani kita ini terurai menjadi elemen tanah, elemen air, elemen api dan elemen udara. Perenungan terhadap empat elemen ini penting dalam menembus pengertian tentang Anicca, Dukkha dan Anatta.
Dalam teori Ba Zi dan kebudayaan China, kondisi serta keadaan dunia dan isinya termasuk manusia di simbolisasikan kedalam lima elemen air, kayu, api, tanah dan logam. Dalam teori Ba Zi  ini Butuh keseimbangan dari lima elemen untuk mendapatkan kehidupan yang baik.
Hoki atau keberuntungan manusia pun di tentukan oleh lima elemen ini. Bagaimana ke lima elemen ini di aktualisasikan kedalam tingkah laku manusia agar hokinya menjadi sempurna? silakan mendengarkan penjelasan bapak Budiyono Tantrayoga yang merupakan seorang pakar Ba Zi dan Feng Shui.

Mencapai Tujuan Hidup


Submitted by Untung on March 14, 2013 – 5:58 am5 Comments
Mencapai Tujuan Hidup Mencapai Tujuan Hidup. Oleh: Suhu Xian Xing
Mencapai tujuan hidup adalah tujuan dari setiap insan. Meskipun tujuan hidup manusia berbeda-beda namun secara spiritual Buddhis, suhu Xian Xing membagi tujuan itu dalam 3 bagian besar berdasarkan tingkatan batin seseorang yaitu:
1. Bagi manusia yang mempunyai tingkatan batin awal atau biasa seperti kebanyakan manusia, maka tujuan hidupnya sangat bersifat duniawi seperti menjadi orang kaya, menjadi dokter atau sebagainya.
2. Bagi sebagian manusia yang mempunyai tingkatan batin menengah, maka tujuan hidupnya adalah melenyapkan penderitaan diri, bebas dari tumimbal lahir atau mencapai tingkat kesucian.
3. Bagi segelintir manusia yang mempunyai tingkatan batin yang tinggi maka tujuan hidupnya bukan saja ingin membebaskan diri sendiri dari penderitaan dunia samsara ini namun juga bertekad untuk membantu makhluk lain membebaskan diri mereka dari penderitaan.
Apapun tujuan hidup seseorang maka diperlukan syarat-syarat agar bisa mencapai tujuan hidupnya. Suhu Xian Xing mengatakan agar bisa mencapai tujuan hidup maka kita harus:
1. Mempunya viriya atau semangat yang tinggi dalam usaha mencapai tujuan hidup itu. Bagaimana membangkitkan semangat?
2. Berlatih dalam jalan spiritual
3. Membantu orang lain untuk mencapai tujuan mereka

Dewa Bumi dan Kepercayaan Tionghoa

Submitted by Untung on April 22, 2013 – 10:51 amNo Comment
Dewa Bumi dan Kepercayaan TionghoaDewa Bumi dan Kepercayaan Tionghoa.  Oleh: Rudy Arijanto
Dewa Bumi dalam kepercayaan umat Buddha Tionghoa mempunyai tempat tersendiri. Dewa Bumi dikenal dengan nama Du Ti Gong ( Tu Thi Kung) maupun Hock Tek Tjeng Sin.
Apa perbedaan antara Tu Thi Kung dan Hock Tek Tjeng Sin tersebut?. Bapak Rudy Arijanto sebagai seorang pandita Buddha aliran Tridharma menerangkan mengenai Dewa Bumi secara khusus dan kepercayaan Tionghoa secara umumnya dalam ceramah Dhamma pada kebaktian Minggu pagi di Vihara Pluit Dharmasukha.
Aliran Tridharma merupakan salah satu aliran agama Buddha di Indonesia. Aliran Tridharma menggabungkan ajaran Buddha dengan ajaran Kong Hu Cu dan paham Lao Tze.
Setiap dewa dalam kepercayaan Tionghoa mempunyai sejarahnya sendiri sendiri kenapa bisa dipuja sebagai seorang dewa. Umumnya berasal dari seorang manusia yang banyak melakukan kebajikan, yang banyak menolong orang orang disekitarnya sehingga setelah kematian orang tersebut di puja sebagai seorang dewa . Bapak Rudy Arijanto juga menceritakan bagaimana sejarah sehingga muncul penghormatan terhadap Dewa bumi ini.
Apa peranan Dewa Bumi dalam membantu orang orang Tionghoa yang memujanya?
Apakah Dewa Bumi bisa mendatangkan rejeki?
Apa beda patung Tu Thi Kung dan Hock Tek Tjeng Sin?
Serta banyak pertanyaan pertanyaan seputar kegiatan ritual umat Buddha Tionghoa yang diterangkan oleh Bapak Rudy Arijanto.

Kebijaksanaan


Submitted by Untung on October 18, 2013 – 12:11 pm6 Comments
Kebijaksanaan Kebijaksanaan oleh Cornelis Wowor MA
Delapan jalan utama dapat di bagi dalam tiga bagian utama yaitu Sila, Samadhi dan Panna. Panna atau kebijaksanaan ini sangat memegang peranan penting dalam Buddhism.
Kebijaksaan atau Panna yang dimaksud adalah kebijaksaan tinggi. Kebijaksanaan dalam agama Buddha dapat dibagi dalam tiga level (Lihat Jenis Kebijaksanaan) yaitu:
1. Sutta Maya Panna. Kebijaksanaan ini adalah kebijaksanaan yang umum kita kenal. Kebijaksanaan ini di dapat karena hasil proses mendengar maupun membaca.
2. Cinta Maya Panna. Kebijaksanaan yang diperoleh karena berpikir. Berpikir disini adalah berpikir secara phisik bukan batin. Level kebijaksanaan ini lebih tinggi dari Sutta Maya Panna. Namun tetap ada keterbatasan karena ada banyak kasus yang tidak bisa dipecahkan oleh pikiran biasa.
3. Bhavana Maya Panna. Inilah kebijaksanaan yang dituju oleh umat Buddha. Kebijaksanaan ini diperoleh melalui latihan meditasi. Pengetahuan kebijaksanaan ini juga berbeda tergantung jenis meditasi.
Pengetahuan kebijaksanaan (kemampuan batin/kesaktian) yang didapat melalui meditasi Samatha dapat berupa:
1. Kemampuan fisik seperti berjalan diatas air, terbang, menembus tembok, masuk ke dalam tanah termasuk kemampuan menyembuhkan orang sakit.
2. Kemampuan mendengar jarak jauh, alam lain serta mampu mendengar suara makhluk lain.
3. Mata Dewa. Mampu melihat makhluk makhluk lain dari alam berbeda. Termasuk kemampuan melihat kapan seseorang akan meninggal dan terlahir kemana.
4. Kemampuan melihat/mengetahui apa yang sedang dipikirkan orang lain.
5. Kemampuan batin melihat kehidupan lampau dari makhluk hidup.
Banyak kejadian ataupun hal hal yang tidak dapat dipecahkan lewat pikiran biasa ataupun ilmu pengetahuan dapat dilihat Lewat kebijaksanaan tingkat Bhavana Maya Panna. Termasuk melihat  surga dan neraka yang bagi saudara kita dari keyakinan lain cukup di-iman-i saja.
Yang paling tinggi adalah Bhavana Maya Panna yang diperoleh dari meditasi Vipassana. Karena kebijaksanaan yang diperoleh adalah kebijaksanaan kesucian. Anda menjadi orang suci. Anda mempunyai kemampuan untuk mengatasi penderitaan secara total. Menembus Anicca (hukum ketidakkekalan), Dukkha ( Ketidak-puasan/penderitaan) serta (Anatta (hukum tanpa aku/tanpa inti yang kekal)

Evaluasi Akhir Tahun


Submitted by Untung on December 24, 2013 – 12:01 pm9 Comments
Evaluasi Akhir Tahun Evaluasi Akhir Tahun oleh: Cornelis Wowor MA.
Evaluasi akhir tahun lazim dilakukan oleh sebuah perusahaan  untuk menilai kinerja perusahaan selama setahun. Sayangnya kita sering lebih memberikan perhatian kepada hal-hal materi diluar kita. Melupakan hal penting untuk diri sendiri. Kita jarang malah hampir tidak pernah melakukan evaluasi akhir tahun terhadap diri kita sendiri.
Kalaupun kita melakukan evaluasi akhir tahun terhadap diri sendiri, itu lebih banyak berkaitan dengan yang bersifat materi ataupun harta benda, misalnya dengan melakukan pelaporan pajak setiap tahun. Kita mengevaluasi harta kekayaan kita apakah bertambah, berkurang. Apakah tahun ini penghasilan saya bertambah atau malah berkurang.
Pernahkah kita merenungkan dan mengevaluasi perkembangan batin dan rohani kita pada akhir tahun? Misalnya pernahkah kita mengevaluasi apakah kita lebih sering marah pada tahun ini dibandingkan tahun lalu? atau apakah tahun ini kita lebih tenang dan lebih sering memberikan senyuman terhadap orang lain?
Sebagai seorang umat Buddha kita patut melakukan evaluasi ataupun melakukan perenungan terhadap kualitas Sila (kemoralan), Samadhi (konsentrasi dan perhatian) dan Panna (kebijaksanaan) diri kita secara berkala.
Berapa sering kita melakukan pelanggaran pancasila Buddhis? apakah sudah berkurang atau malah tanpa disadari kita lebih banyak melakukan pelanggaran sila. Apa yang menyebabkan terjadinya hal itu? Apakah faktor luar begitu mempengaruhi diri kita dalam menjalankan sila? Kenapa kita begitu terpengaruh oleh faktor diluar diri dan kondisi lingkungan dalam mengendalikan sila? Bisakah kita tetap tenang dan sabar di saat kondisi dan keadaan di luar diri kita begitu menekan dan kacau?
Selain kemoralan, sebagai umat Buddha yang baik kita harus berlatih meditasi. Apakah pada tahun ini latihan samadhi kita sudah meningkat secara kualitas maupun frekuensi latihan, atau malah sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kalinya berlatih meditasi?
Kebijaksanaan yang tinggi tidak dapat diperoleh hanya melalui bacaan ataupun hanya melalui latihan kemoralan. Sila dan Samadhi saling mendukung untuk memunculkan Panna. Munculnya Panna mendukung untuk kemajuan Sila dan Samadhi. Begitulah Sila, Samadhi dan Panna saling berhubungan satu sama lainnya. Sila mendukung Samadhi dan selanjutnya menimbulkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan memberikan kemudahan buat kita dalam menjalankan kemoralan.

Perenungan Terhadap Dhamma


Submitted by Untung on January 28, 2014 – 6:47 pm4 Comments
Perenungan Terhadap DhammaPerenungan Terhadap Dhamma oleh: dr. Ratna Surya Widya
Dalam Dhammanussati atau perenungan terhadap Dhamma, kita bisa menemukan 6 karakter dari Dhamma. Demikian yang dibabarkan oleh romo pandita dr. Ratna Surya Widya dalam ceramah Dhamma di Vihara Pluit Dharma Sukha di Bulan Desember 2013.
Agama Buddha adalah agama praktek. Seorang umat Buddha tidak hanya cukup mempunyai keyakinan terhadap Buddha Dhamma dan Sangha, namun juga dalam praktek kehidupan sehari harinya harus mencerminkan ajaran Buddha. Dalam hal ini artinya kita selalu berusaha untuk melakukan perbuatan sesuai jalan Dhamma, meskipun masih jauh dari sempurna.
Ambil contoh sederhana. Kita semua menginginkan untuk bisa mempunyai banyak materi atau kekayaan. Menjadi kaya bukanlah keadaan yang dilarang dalam agama Buddha. Namun saat kita belum kaya, apa yang kita lakukan untuk menjadi kaya?
Dhamma secara jelas mengajarkan lewat hukum karma cara untuk menjadi kaya. Walaupun cara ini kedengarannya sangat tidak umum. Kalau kita miskin umumnya kita mengharapkan ada orang yang memberi kita uang. Tidak salah dalam kacamata pandangan secara umum. Dalam Dhamma justru kebalikannya. Jika kita masih miskin dan ingin kaya maka berdanalah uang sebisa dan sesering mungkin, bukan malah meminta-minta. Sudahkah kita menjalankannya?
Dalam ceramah dhamma ini romo dr. Ratna Surya Widya menceritakan sepasang suami istri miskin yang berusaha untuk kaya. Saking miskin nya maka penghasilan hari ini hanya cukup untuk makan besok. Tidak ada lebihnya. Jika demikian lalu bagaimana caranya untuk berdana? Apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri tersebut dalam usahanya untuk berdana mungkin di luar pemikiran kita.

Menjawab Tantangan Hidup


Submitted by Untung on March 5, 2014 – 8:50 am6 Comments
Menjawab Tantangan Hidup Menjawab Tantangan Hidup. oleh: dr. Ratna Surya Widya.   Maret 2014
Semua manusia mempunyai tantangan hidup yang harus dijawab. Tantangan hidup ber beda-beda antar manusia. Waktu yang berbeda pun akan menimbulkan tantangan hidup yang berbeda pada satu manusia.
Saat masih ber status pelajar atau mahasiswa, tantangan hidup nya mungkin berupa bagaimana bisa naik kelas dengan hasil bagus. Setelah ber keluarga tantangan hidup pun berubah kembali menjadi bagaimana bisa mencari uang dan sebagainya.
Tantangan hidup masuk dalam kategori austress, sedangkan tekanan hidup masuk ke dalam distress.  Kalau boleh dikatakan secara gampang austress masih tergolong positif sementara distress tergolong negatif.
Stress bisa saja mendadak muncul. Apa yang terjadi jika ada dokter memvonis anda menderita kanker stadium 4? Anda akan menganggap nya sebagai austress atau distress? sebaiknya anggap itu sebagai austress. sebagai suatu tantangan hidup untuk bisa sembuh.
Tantangan hidup diperlukan oleh setiap orang. Bayangkan jika seseorang sudah tidak mempunyai tantangan hidup lagi. Orang itu bisa saja bunuh diri karena sudah merasa sudah tidak memiliki harapan maupun target yang harus dicapai dalam hidup ini.
Pernahkah anda merasa bahwa untuk dapat menjalankan Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan tantangan hidup? Apalagi jika ada seseorang yang mempunyai tantangan untuk bisa mencapai tahap sotapana dalam kehidupan ini juga. itu merupakan tantangan hidup yang memerlukan usaha yang besar sekali untuk bisa menjawabnya.
Romo dr. Ratna Surya Widya yang juga merupakan seorang dokter jiwa menguraikan tentang tantangan hidup serta 4 cara untuk bagaimana menjawab tantangan hidup tersebut. apa 4 hal yang harus dimiliki setiap orang dalam menjawab tantangan hidup tersebut?
Dalam ceramah Dhamma di vihara Pluit Dharma Sukha 2 Maret 2014, dr. Ratna Surya Widya memberi tahu mengenai 4 hal tersebut yang harus di miliki oleh seseorang dalam menjawab tantangan hidup nya.