Rabu, 06 Mei 2015

Memahami Realita Hidup Secara Apa Adanya



Agustus 16, 2008 in Humanity/Social
Reality of Life
Reality of Life
Lama tidak menulis sesuatu, ada saja yang terasa kurang, entah ini entah itu. Ya, banyak alasan seseorang tidak menulis, banyak pula alasan mengapa seseorang menulis. Menulis merupakan sarana yang indah untuk menyebarluaskan sesuatu hal yang ingin kita ingin agar orang yang membacanya tahu akan apa yang terkandung dalam tulisan itu.
Hidup itu memang seperti ombak, kadang pasang kadang surut, kalau lagi berjaya kita begitu bahagia, kalau lagi ambruk, rasanya begitu menderita. Kalau kita pahami secara benar, segala fenomena ini sebenarnya berakar dari pikiran kita sendiri. Mengapa bisa demikian? Coba kita sadari, kala kita memikirkan sesuatu, kita ingin mendapatkannya, tetapi hasilnya tidaklah sebagaimana yang kita inginkan, bukankah kita merasa sedih dan menderita. Andai saja kita tidak memikirkannya, mungkin akar permasalahan itu tidak akan pernah tumbuh menjadi sebuah pohon yang besar yang sekiranya akan menyulitkan diri kita sendiri.
Berjumpa dengan yang kita tidak senangi maupun berpisah dengan yang kita cintai, begitulah fenomena yang senantiasa hadir dalam perjalanan kita mengarungi kehidupan ini. Tak ada orang yang sepenuhnya dapat senantiasa merasakan kebahagiaan setiap hari dalam kehidupannya, ini juga berlaku bagi orang terkaya di dunia ini. Kelak dan pasti, seseorang akan mengalami kesedihan, entah karena hartanya dirampok, ditinggal orang yang dicintai (habisnya usia kehidupan), sakit, tua, dan akhirnya harus mengalami tutup usia. Apa yang dapat kita pelajari dalam hidup yang begitu singkat ini? Kita bukanlah makhluk abadi yang senantiasa dapat mengikuti proses perubahan di dunia ini. Bahkan sangat sulit untuk manusia di era masa kini mampu mencapai usia 100 tahun (hampir mustahil). Kalau direnungkan, dapat mencapai usia 70 tahun saja sudah patut bersyukur.
Usia begitu singkat, manusia berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan tanpa batas, ketika miskin berpikir, “besok kita mau makan apa?“, ketika sudah masuk golongan menengah berpikir, “besok makan di mana?“, ketika sudah kaya berpikir, “besok makan siapa?“. Itulah realita kehidupan yang sulit dipungkiri, ada akar keserakahan dalam diri, tak pernah puas dengan apa yang telah diperoleh. Kalau sudah memperoleh apa yang diinginkan, niscaya akan melupakan maksud mulia yang dahulu pernah diikrarkannya, misalnya, “kalau aku sudah kaya, aku mau membangun rumah sakit, menyumbang ke yayasan, dan lain-lain“, yang kesemuanya itu pada awalnya begitu indah, tetapi pahit pada akhir ceritanya. Sudah merupakan sifat asal manusia, melupakan apa yang telah berlalu, terutama kenangan pahit. Akan tetapi, kenangan indah pun terkadang dilupakan.
Ada contoh lain, misalnya ketika kita masih lajang, bertemu dengan seorang wanita yang masih muda belia, dalam hati kita berpikir, “alangkah bahagianya aku jika aku bisa hidup bersama dengan putri jelita ini”. Ok, kemudian anda berhasil menikahinya, anda tetap bahagia. Akan tetapi, sesungguhnya, paras cantik adalah alasan anda meminang wanita itu, dan memang, ada pepatah yang mengatakan “cantik itu relatif, tapi, jelek itu mutlak“. Wah, kalau begini dasar anda memilih pasangan anda, yakinlah anda masih bahagia, tapi hanya untuk sementara waktu. Mengapa? Karena anda belum menemukan tandingan dari putri jelita itu. Dunia ini memang tidak selebar daun kelor, tapi dunia ini cukup luas untuk dihuni milyaran manusia di permukaannya. Kalau ada seorang yang parasnya rupawan, pasti ada yang lebih rupawan lagi. Anda tak bisa memastikan, “apakah saya masih bisa mencintai wanita ini kelak, 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, 30 tahun lagi, dst.“. Fisik adalah harga mati yang pasti akan mengalami perubahan! Anda akan menyaksikan wanita yang anda cintai keriput, mulai bongkok di usia senja. Ok, kalau orang sudah tua ya pasti begitu. Bagaimana kalau sehabis kelahiran anak pertama, istri anda itu tiba-tiba badannya melar? Apalagi kelahiran anak kedua? Bagaimana kalau istri yang anda cintai adalah wanita yang doyan kehidupan glamor, pesta, berdandan ala selebritis? Penghasilan perbulan anda lebih kecil daripada kebutuhan istri anda, yang ternyata juga seorang wanita pemalas yang tidak pernah mengasihani jerih payah suaminya? Mencampakkan suaminya ketika suaminya diambang kemelaratan, yang tidak lain akibat istri durhaka itu?
Ok, anda mempunyai istri yang baik budi, setia, tidak berfoya-foya, pandai, dan penyayang. Dapatkah anda memastikan, perjalanan hidup buah hati (anak) anda selalu dalam kejayaan? Orang tua senantiasa was-was akan keadaan yang menimpa anaknya. Entah dalam masa menimba ilmu, berkarir, berumah tangga, dan lainnya. Contoh sederhana, bagaimana bila buah hati anda mandek dalam karir menimba ilmu di sekolah, tidak naik kelas, pemalas, hanya doyan bermain, menyukai permainan dan membenci buku, senang bergaul dengan yang tidak pantas diajak bergaul dan menjauhi orang yang pantas diajak bergaul, menyayangi teman sekolah yang buruk perilakunya dan membenci guru yang pantas dihormatinya? Renungkanlah realita ini. Anda mungkin yakin, jika orang tua baik, pasti anak baik, saya katakan, “belum tentu”. Bagaimana jika anak anda tumbuh sebagai seorang pendusta besar? Yang parahnya, anda tidak menyadari akan hal itu. Tak pelak, anak manja itu tumbuh dalam perlindungan orang tua yang salah, yang kelak dan pasti akan menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan, di kemudian hari.
Ada orang yang berkata, “anak kecil tidak mungkin berbohong”. Saya katakan, “pikiran anda sungguh sangat sempit sekali…, kasihan kalau orang tua berpikir seperti ini, ini menandakan orang tua tidak mempersiapkan diri secara baik untuk berprofesi sebagai orang tua yang baik!”. Sedari seorang anak mempersiapkan diri untuk menginjak bangku sekolah, sedari itu pula, sang anak telah siap untuk memasuki realita pergaulan yang beragam dengan kondisi yang beragam, sedari itu pula kebohongan telah tertanam dalam diri sang anak. Saya ingin bertanya, “apakah seorang koruptor, dahulunya adalah seorang anak kecil? Apakah seorang perampok, dahulunya adalah seorang anak kecil? Apakah seorang pembunuh, dahulunya adalah seorang anak kecil?”. Jika ya, berarti anda telah menyadari realita ini, anak kecil dapat diibaratkan sebagai bubuk semen yang baru saja dicampur dengan air, ia dapat diaduk, selama diaduk dengan baik dan ditambahkan air (pelajaran yang baik), ia akan memiliki sifat lunak. Bagaimana bila tidak diaduk dan ditambah air? Ia akan mengeras. Kalau sudah begini, sebagai orang tua menangis darah pun sudah tidak berguna.
Jangan kira, anak kita nakal dan malas, tidak patuh, tidak hormat dan ini dan itu, karena kita berpikir dia masih kecil dan nanti kelak setelah dewasa pasti bisa berubah menjadi baik, simsalabim, ia akan jadi orang bijak dan baik. Itu mustahil! Kehidupan ini berjalan sebagaimana hukum fisika, “ada aksi, ada reaksi!”. Bagaimana mungkin seorang wanita yang tidak kita kenal bisa menjadi istri kita dikemudian hari, bila kita tidak pernah mau berkenalan dengan dia? Ini pasti lebih mudah dijawab daripada menjawab soal berhitung.
Itulah realita hidup, senantiasa dipenuhi dengan hal yang tidak pasti, dan selalu ada bumbu kesedihan di dalamnya. Takkan ada orang yang dapat merasakan kebahagiaan sepanjang hayatnya. Takkan ada orang yang selalu terpenuhi keinginannya. Pun, tak ada orang yang kelak tidak akan ditinggalkan orang yang dicintainya. Tapi, satu hal yang pasti, kita bisa memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Niscaya, berkat perbuatan memberikan kebahagiaan bagi orang lain, kita pun dapat merasakan kebahagiaan itu. Dunia tidak akan memberi pada kita, jika kita tidak memutuskan untuk memberi kepada dunia. Hukum aksi-reaksi selalu ada dalam kisah petualangan hidup kita mengarungi dunia ini dalam lingkup usia manusia yang begitu terbatas.

Beda jasa kebajikan, berkah kebajikan dan pahala



Master Chin Kung Menjawab :
Apa beda jasa kebajikan, berkah kebajikan dan pahala?
Umat bertanya :
Apa beda jasa kebajikan, berkah kebajikan dan pahala? Dengan kisah berikut sebagai perumpamaan, ketika Bodhidharma bertemu dengan Kaisar Liang Wudi yang telah banyak berbuat kebajikan, namun Bodhidharma malah mengatakan Kaisar Liang Wudi tidak memiliki jasa kebajikan. Mohon guru menjelaskannya.
Master Chin Kung menjawab :
Hal ini harus dijelaskan dengan benar. Ketika Bodhidharma tiba di Tiongkok, beliau bertemu dengan Kaisar Liang Wudi. Kaisar Liang Wudi berkata pada Bodhidharma, sejak menduduki tahta, dia mengerahkan segenap perhatiannya untuk mendukung penyebaran Ajaran Buddha, mendirikan lebih dari 440 bangunan vihara. Membantu insan yang ingin menjadi anggota Sangha, paduka amat menyenangi insan yang bersedia menjadi Bhiksu-Bhiksuni. Dia akan mendukung mereka, sehingga pada masa pemerintahannya, jumlah anggota Sangha mencapai lebih dari ratusan ribu orang. Dia membanggakan diri di hadapan Bodhidharma, menganggap bahwa jasa kebajikannya sungguh besar.
Bodhidharma menjawab dengan sejujurnya, bahwa kaisar tidak memiliki jasa kebajikan! Harus jelas akan makna jasa kebajikan, jasa kebajikan adalah sila, samadhi dan prajna. Kebajikan yang anda perbuat sama sekali tidak memperoleh samadhi, tidak membuka kebijaksanaan. Jika anda memperoleh samadhi, anda takkan bertanya dan takkan membanggakan diri telah melakukan berapa banyak kebajikan. Maka itu kaisar tidak memiliki jasa kebajikan, yang juga berarti tidak memiliki samadhi dan prajna. Bukan hanya samadhi dan prajna, bahkan sila pun tidak dimilikinya. Mengapa dikatakan tidak memiliki sila? Karena di dalam sila tidak boleh membanggakan diri. Maka itu sila, samadhi dan prajna tidak dimilikinya, bagaimana mungkin ada jasa kebajikan?
Mendengar ucapan Bodhidharma, Kaisar Liang Wudi merasa amat tidak senang, muncul kebenciannya, dan tidak mempedulikan Bodhidharma. Sehingga Bodhidharma terpaksa pergi ke Vihara Shaolin dan bersamadhi menghadap dinding selama sembilan tahun, tidak ada orang yang peduli padanya.
Andaikata Kaisar Liang Wudi bertanya padanya : “Kebajikan yang telah saya lakukan ini berkah kebajikannya besar tidak?” Jawabannya tentu sangat besar, jadi kebajikan yang dilakukannya adalah berkah kebajikan bukan jasa kebajikan. Berkah kebajikan tidak dapat mengakhiri tumimbal lahir, ke alam mana anda akan menikmati berkah kebajikan anda? Tidak pasti, hal ini harus anda pahami dengan jelas.
Berkah kebajikan yang besar belum tentu akan mengantar anda terlahir ke alam surga, walaupun berkah kebajikan anda besar juga dapat jatuh ke alam rendah. Sebab kelahiran di enam alam tumimbal lahir ada dua jenis karma yakni yang pertama adalah Āksepaka Karman, karma yang menuntun anda terlahir di alam mana. Karma apa yang menuntun anda terlahir ke alam manusia? Ini karena pada kehidupan yang lampau anda melatih Lima Sila dan Sepuluh Kebajikan; Lima Sila dan Sepuluh Kebajikan adalah benih karma yang ditanam pada masa kehidupan lampau, menuntun anda terlahir ke alam manusia.
Sedangkan kebajikan yang dipupuk Kaisar Liang Wudi termasuk Paripuraka karman, yakni karma yang membawa anda menikmati pahala di dunia ini, menikmati kesenangan adalah pahala, yang dia latih adalah Paripuraka karman.    
Lihatlah sama-sama terlahir di alam manusia, tetapi mengapa ada yang kaya dan miskin, usia panjang dan pendek, lingkungan hidup yang berbeda? Yang membedakan semua ini adalah Paripuraka karman. Jika terlahir di alam yang sama maka disebut memiliki Āksepaka Karman (karma penuntun) yang sama, sedangkan yang dilatih masing-masing adalah Paripuraka karman. Andaikata dia tidak dapat mengamalkan Lima Sila dan Sepuluh Kebajikan, maka kelak ke mana dia akan menikmati pahalanya? Dapat kita bayangkan, dia bakal terlahir ke alam setan kelaparan untuk menikmati pahalanya, atau terlahir ke alam binatang untuk menikmati pahalanya.
Di alam setan kelaparan ada yang menjadi raja setan, dewa bumi, dewa gunung, ini merupakan contoh setan yang memiliki pahala. Mereka memiliki kuil, banyak yang memberi persembahan sesajian, inilah cara mereka menikmati pahalanya. Sedangkan yang terlahir ke alam binatang, contohnya seperti raja naga sahabat Bhiksu An Shi-gao, dia adalah ular, alam binatang. Raja naga ini pada mulanya adalah sahabat Bhiksu An Shi-gao  yang sama-sama melatih diri. Menurut Bhiksu An Shi-gao, pelatihan diri sahabatnya ini sangat lumayan, mengerti makna sutra dan suka berdana. Karena dia mengerti makna sutra makanya dia memiliki kebijaksanaan. Raja naga ini sungguh sakti, segala permintaan dapat dikabulkannya, ini dikarenakan pada masa kelahiran lampaunya Bhiksu ini mampu berceramah. Dia juga suka berdana, berdana akan memperoleh pahala yang besar, makanya dia memiliki pahala dan kebijaksanaan.
Lalu mengapa dia bisa terlahir ke alam binatang?  Ini dikarenakan tidak melatih Lima Sila dan Sepuluh Kebajikan dengan baik. Sebab terlahirnya ke alam binatang, menurut penuturan Bhiksu An Shi-gao, yang  juga memperingatkan kita agar selalu mawas diri, karena kebenciannya yang tidak dilenyapkan. Apa yang membuatnya benci? Yakni setiap hari dia berpindapatra, jika umat mempersembahkan nasi dan sayur yang enak, maka dia akan bersukacita, sebaliknya jika umat mempersembahkan nasi dan sayur yang tidak enak, maka dia akan merasa kesal dan marah, walaupun tidak dikeluarkannya dalam tindakan, namun ada di dalam hatinya; setiap hari saya mempersembahkan Dharma Dana kepada kalian, apakah ini cara kalian membalasku?
Hanya karena niat ini saja maka jatuh ke alam binatang. Cobalah kita melihat kembali pada diri kita sendiri, ketrampilan melatih diri kita sedikitpun tidak sebanding dengan raja naga ini. Namun emosi kita lebih besar dibandingkan dengan dirinya, beliau saja masih dapat menutupi amarahnya, walaupun tidak diwujudkan keluar, namun dihatinya tidak seimbang, dia masih mampu menyimpannya. Sedangkan kita setiap hari membelalakkan mata memarahi orang lain, dia jatuh ke alam binatang menjadi raja naga, sedangkan kita mungkin sudah jatuh ke neraka menjalani hukuman penderitaan, ini adalah contoh yang amat nyata, kita tidak boleh tidak mengetahuinya. Maka itu jasa kebajikan dan berkah kebajikan itu tidak sama.            
问:功德、福德、福报,三者有何不同?因为与人谈及功德时,以达摩初化梁武帝为例,告诉对方此公案中,达摩说无功德。但对方纠正我应为福报,是否为福报,请老法师慈悲开示。
净空法师答:这 个事情要讲清楚、要讲明白。达摩到中国来,见到梁武帝,梁武帝跟达摩祖师说,他做了皇帝之后,全心全力护持佛法,建了四百八十多个寺庙、寺院,在他在位的 时候,建了四百八十多个寺庙。度人出家,他是非常欢喜人出家,哪个出家他都高兴,他都护持,所以在他那个时代,出家人有十几万人。他向达摩祖师炫耀,他这 个功德很大,他认为这是功德。达摩祖师说老实话,跟他讲,你做的这些事情,并无功德!什么是功德你要清楚,功德是戒定慧。你做这些事情你自己没有得定,没 有开智慧,你要得定,你就不会问这个问题,不会炫耀,炫耀自己我做这么多好事,不会。所以他没有功德,也就是他没有定慧。不但没有定慧,连戒也没有。何以 说戒没有?戒里有自赞毁他,他虽然没有毁他,但他自己赞叹自己,这个在《瑜伽菩萨戒本》里头是重戒。他还自己夸耀自己,所以戒定慧没有,他哪来的功德?
梁 武帝听达摩祖师这一说,就很不高兴,瞋恚心起来了,不高兴,不理他,就叫他走了。所以达摩就跑到少林寺去面壁九年,没人理他。如果梁武帝要问他:我做的这 些事福德大不大?那很大,那真的是甚大、甚大,他做的是福德边的事,不是功德边的事。福德不能了生死,不能脱轮回,你的福报到什么地方去享受?不一定,这 个你一定要知道。不是福报很大就生天,没有那回事情,福报很大照样可以堕落。这个修的福,我们佛门里面讲,六道轮回里头的业因,两种业,一种叫引业,引导 你去投生。你到人道来,人是秉什么样的引业?你过去生中修五戒十善;过去生中五戒十善这个业因,引导你到这个世间来投胎。像梁武帝修的这些事情属于满业, 满业就是你到这个世间来享福,享受福报,他修的是满业。
你 看看,同样都是得人身,为什么有贫富贵贱不一样,寿命长短不一样,物质精神生活环境不一样?那个不一样,是满业。你到哪一道来大家都一样,这个引业是相同 的,所以他修的这是满业。如果他五戒十善都做不到的话,他将来到哪里去享福?我们能够想象得到,他到饿鬼道享福,到畜生道享福。饿鬼道里面做鬼王,做城 隍、做土地、山神,这都是有福报的。他有庙,有多少人去祭祀、供养他,到那里去享福。到畜生道里面,像安世高的朋友[+]亭 湖的龙王,他是蛇,畜生道。你要晓得,那个龙王是安世高的同学,前世是出家人,安世高给我们说,这个出家人不错,明经好施。你想想看,他讲经说法,他通教 理,他明经,所以他有智慧。这个龙王很灵验,有求必应,他灵验,灵验是他从前讲经,他有智慧。他喜欢布施,布施就福报大,所以他有福、有慧。
为 什么堕到畜生道?换句话说,五戒十善都没有修好。堕畜生道的业因,安世高说得很清楚,也提醒我们,瞋恚心没断。瞋恚心是什么?那个时候出家人都是托钵,每 天到外面去托钵。托钵,人家供养的饭菜好,他就很欢喜,饭菜不好,他心里面就有愤怒。虽然不发作,他心里不高兴:我天天以法布施来供养大众,你们给我的回 报是这个样子?就是这么个念头,堕到畜生道。我们今天想想自己,我们的功夫比这个龙王不如,没有他修得好。但是我们今天的脾气比他大,他还很含蓄,虽不在 表面上发作,心里不平,他还很含蓄。我们天天瞪着眼睛骂人,他堕畜生道当龙王,我们到地狱道去受罪,很明显的例子,这是我们不能不知道的。所以功德、福德 不相同。如果梁武帝要问他:福报大不大?那达摩祖师一定说甚大、甚大,他修的是大福报。


Senin, 20 April 2015

3 ciri manusia baik

3 Ciri Manusia Baik

Minggu 26 mei 2013
Oleh : Ibu Metta Dewi
Setiap orang bisa menjadi lebih maju dan lebih baik kalau mereka mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Dalam Anguttara Nikaya 1 ayat 151 tertulis 3 ciri manusia baik :
1.Suka berdana
Berdana ini tidak harus selalu materi. Bisa juga dana tenaga misal bantu persiapan waisak, memberi maaf juga bisa disebut berdana
2.Suka melakukan pabaja
Ini artinya kita melepaskan kepentingan pribadi untuk kepentingan umum demi kebahagiaan orang lain dan juga tidak bersikap kejam.
3.Suka membahagiakan orang tua , merawat orang tua
Ada cerita cerita nyata pada zaman Sang Buddha : Ada seorang bernama Utari, anaknya Sumanna. Utari ini dijodohkan dengan seseorang. Setelah menikah Utari hanya boleh di rumah , tidak boleh kemana-mana. Suatu ketika ayahnya Utari datang menemui anaknya. Ayahnya memberikan sejumlah uang untuk mencari seorang wanita yang bisa menggantikannya di rumah selama 15 hari.ada seorang bernama Sirima yang mau. Ketika itu Utari sangat senang karena dia bisa pulang ke rumah orangtuanya. Di sana Utari mendengarkan dhamma , berdana , dll. 15 hari sudah lewat , saatnya Utari kembali ke rumah suaminya. Saat itu Sirima merasa enggan untuk meninggalkan rumah itu. Dia pun mencari cara agar Utari tidak kembali ke rumah itu. Dia pun ingin menyiram mentega panas ke kepala Utari.
Ketika akan disiram, Utari berdoa semoga mentega ini bisa menjadi dingin di kepala saya. ajaibnya mentega itu menjadi dingin dan Utari tidak apa2. Malah mentega itu kena ke Sirima namun Utari tidak marah tapi malah mengobatinya. Setelah sembuh , Utari menyadarkan Sirima agar mendengarkan dhamma , banyak berdana kepada Arahat. Dia juga mengajak mertua dan suaminya. Ketika kita berdana kepada Arahat , sekecil apapun , kita akan mendapat karma baik dalam waktu 7 hari. Jangan pernah berhenti berbuat baik walau sekecil apapun. Sedikit perbuatan baik akan menghasilkan karma baik yang besar.
Diringkas oleh Doc n Pub Team.

Wejangan Terakhir Dari Sang Bhagava


Posted on by
Kini Sang Bhagava berkata kepada Ananda, “Ada kemungkinan bahwa di antara kalian ada yang berpikir, ‘Berakhirlah kata-kata Sang Guru; kita tidak mempunyai seorang Guru lagi.’ Tetapi, Ananda, hendaknya jangan ada orang yang berpikir seperti itu. Sebab apa yang telah Aku ajarkan sebagai Dhamma (Ajaran) dan Vinaya (Tata Tertib), Ananda, itulah kelak yang akan menjadi Gurumu, apabila Aku sudah tidak ada lagi.”
“Dan, Ananda, sebagaimana sekarang para bhikkhu menegur satu sama lain dengan menggunakan ‘Sahabat’ (Avuso), setelah Aku sudah tidak ada lagi, maka kebiasaan itu harus diubah. Seorang bhikkhu senior, Ananda, boleh memanggil bhikkhu yang lebih muda dengan memanggil namanya, nama keluarganya atau dengan Avuso (sahabat); sedangkan seorang bhikkhu yunior harus memanggil seorang bhikkhu yang lebih senior dengan “Bhante” atau “Ayasma”.
Apabila dikehendaki, Ananda, setelah Aku sudah tidak ada lagi, Sangha dapat menghapus aturan-aturan yang kurang penting (minor rules).”
Ananda, bila Sang Tathagata sudah tidak ada lagi, Sangha harus melaksanakan hukuman berat (brahmadanda) terhadap Bhikkhu Channa.”
Tetapi, Bhante, apakah yang dimaksud dengan hukuman berat itu?”
Ananda, Bhikkhu Channa boleh mengatakan apa saja yang ia suka, tetapi bhikkhu-bhikkhu lain tidak boleh bicara dengannya, tidak boleh menasehatinya dan tidak boleh memberi petunjuk kepadanya.”
“Kemudian Sang Bhagava bertanya kepada para bhikkhu, ‘Oh, Bhikkhu, mungkin ada di antara kalian yang masih ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, terhadap Sang Jalan dan terhadap pelaksanaannya. Engkau boleh mengajukan pertanyaan, oh Bhikkhu. Janganlah di kemudian hari engkau menyesal dengan mempunyai pikiran, ‘Sang Guru ketika itu terasa di tengah-tengah kami, berhadap-hadapan muka dengan kami, meskipun berhadap-hadapan muka, kami lalai untuk bertanya kepada Beliau.’’”
Meskipun ditanya demikian, namun para bhikkhu diam saja. Untuk kedua kali dan untuk ketiga kali para bhikkhu ditanya, para bhikkhu diam saja. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada mereka, “Mungkin karena ingin menghormat kepada Sang Guru, engkau tidak mau mengajukan pertanyaan apa-apa. Baiklah kalian berunding dulu dan kemudian baru mengajukan pertanyaan.” Namun para bhikkhu tetap membisu.
Kemudian Ananda berkata kepada Sang Bhagava, “Sungguh mengherankan, Bhante, sungguh luar biasa! Saya mempunyai keyakinan bahwa di antara para bhikkhu yang hadir di sini, tak ada seorang pun yang masih ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, terhadap Sang Jalan atau terhadap pelaksanaannya!”
Karena engkau mempunyai keyakinan, Ananda, sehingga engkau berbicara seperti itu. Namun di sini dapat Aku terangkan, Ananda, bahwa Sang Tathagata memang tahu dengan pasti bahwa tidak ada seorang pun yang merasa ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, terhadap Sang Jalan dan terhadap pelaksanaannya. Karena, Ananda, di antara lima ratus bhikkhu yang hadir di sini, yang terendah sudah memperoleh tingkat kesucian Sotapanna, sehingga mereka sudah terbebas dan tak dapat jatuh lagi ke alam-alam sengsara, dan terjamin dalam perjalanannya menuju Pembebasan Terakhir.”
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu, “Karena itu, oh Bhikkhu, dengarlah baik-baik nasehat-Ku, ‘Segala sesuatu yang terdiri dari paduan unsur-unsur dikodratkan akan hancur kembali. Karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh (Handa ‘dani bhikkhave amantayamive : Vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha)!” ini adalah ucapan terakhir dari Sang Tathagata.

Rabu, 08 April 2015

sejarah bak zhang



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8yhekgvHxETI5uiNsjg8oqLtcQWvOdjfCKrZF2K-KhJHfj0589WCn_xRRCs1tkY_qDqFLz4Ic_oaceJPZcdcmIntFlujiTUPp3UYfni25dgjBAaMpcalcxRxIb9csYnSFDks-D_Vb_gk/s320/bacang.jpg
Ba Tzang (chinese rice dumplings) atau dalam dialek mandarin disebut zongzi adalah makanan tradisional dari Tiongkok, terbuat dari beras ketan dengan aneka variasi isian, dibungkus dengan daun bambu lalu dikukus hingga matang.
Dalam istilah cantonese makanan ini disebut joong, sedangkan dalam dialek Minnan, makanan ini disebut tzang. Karena seringkali berisi olahan daging babi, maka makanan ini lebih dikenal dengan istilah ba tzang.

Awal Mula Zongzi


Zongzi biasanya dihidangkan pada tradisi perayaan Duanwu (Festival Perahu Naga / Dragon Boat Festival) yang jatuh pada tanggal lima bulan ke lima Imlek untuk memperingati wafatnya Qu Yuan, seorang penyair dari jaman kerajaan Chu (sekarang berada di propinsi Hubei) yang hidup pada masa perang saudara. Dikenal dengan jiwa patriotismenya, Qu Yuan mencoba tanpa hasil memperingatkan kaisar dan para pejabat bahaya ekspansi dari kerajaan Qin yang masih bertetangga.

Ketika jenderal kerajaan Qin bernama Bai Qi akhirnya berhasil menguasai Yingdu, ibukota kerajaan Chu pada tahun 278 SM, Qu Yuan melompat kedalam sungai Miluo setelah menuliskan puisi Äi Yǐng (Lament of Ying – berisi ungkapan rasa cemas dan khawatir Qu Yuan menghadapi peperangan ditanah airnya yang sudah ada didepan mata. Puisinya mengekspresikan perhatian dan kekhawatiran yang mendalam akan masa depan tanah airnya, rasa kasihan terhadap masyarakat dan rasa geramnya terhadap para pemimpin negeri yang hanya memikirkan diri sendiri dan membiarkan tragedi tersebut terjadi).

Menurut legenda, orang – orang yang mencoba menyelamatkannya melemparkan bungkusan nasi kedalam sungai untuk memberi makan ikan agar tidak memangsa tubuh sang penyair.

Memasak Zongzi

Zongzi biasanya berbentuk tetrahedral atau silindris. Seni membungkus zongzi benar – benar berupa ketrampilan tersendiri yang diajarkan turun temurun dalam keluarga, demikian pula resepnya. Kegiatan membuat zongzi dulunya adalah kegiatan bersama seluruh keluarga, tapi sekarang sudah semakin jarang.

Zongzi biasanya dibungkus dengan daun bambu, namun jika tidak tersedia, seringkali daun teratai, pisang, kelapa atau daun lainnya dapat juga digunakan sebagai pengganti. Masing – masing daun tersebut memberikan aroma khas pada masakan ini.

Bahan isiannya beraneka ragam tergantung daerah masing – masing, namun beras yang digunakan biasanya adalah beras ketan. Isiannya bisa berupa pasta manis yang terbuat dari aneka kacang – kacangan, atau bisa juga berupa masakan daging babi merah, sosis, jamur shiitake, telor asin, udang atau biji kenari. Beberapa jenis zongzi dibuat tanpa isian sama sekali dan dihidangkan dengan sirup atau gula.

Untuk memasaknya, zongzi harus dikukus selama beberapa jam lamanya tergantung bagaimana beras dan bahan isian yang dipakai dipersiapkan sebelumnya. Setelah matang, zongzi juga dapat disimpan lama dalam lemari pendingin untuk dihidangkan sewaktu – waktu. Karena proses memasak yang sangat lama, seringkali zongzi gagal dibuat karena tergesa – gesa diangkat dari kukusan. Ada kepercayaan lama yang mengatakan bahwa zongzi akan gagal dimasak apabila ada wanita hamil memasuki dapur pada saat zongzi sedang dikukus !

Sumber Tulisan :

1. http://community.siutao.com/showthread.php/2570-Ba-Tzang
2. Cerita turum temurun masyarakat Tionghoa Indonesia
Label: Adat Istiadat, Perayaan dalam Penanggalan China, Simbol dan Makna

sejarah dewa dapur



Ritual perayaan Tahun Baru Imlek bagi masyarakat tionghoa terdiri dari empat kegiatan utama, diawali oleh ritual menghantar Dewa Dapur naik kelangit seminggu sebelum tahun baru. Beberapa hari sebelum tahun baru, dewa dapur akan pergi ke langit untuk melaporkan catatan kehidupan orang-orang di bumi, apakah mereka berbuat baik atau tidak.

“Ditanggal 24 bulan ke-12 Dewa dapur akan naik ke surga membawa laporan-Nya. Berkendaraan awan yang ditiup oleh angin, Ia menikmati makanan dan minuman yang berlimpah, ikan segar dan kepala babi yang dimasak dengan baik…..
Jangan menybutkan hal-hal yang tidak baik dalam laporan-Mu, dan bawalah keberkahan dan keberuntungan saat Engkau kembali”


Demikian penggalan sebuah puisi mengenai persembahan/persembahyangan bagi Dewa Dapur yang ditulis oleh seorang sastrawan dari dinasti Song.

Bagi masyarakat Tionghoa, sembahyang dilakukan pada tanggal 24 dibulan ke-12 untuk menghantarkan Toa Pek Kong naik ke langit dan pada tanggal 3 di bulan-1 kembali diadakan persembahyangan untuk menyambut Toa Pek Kong yang turun dari langit.

Yang dimaksud dengan Toa Pek Kong adalah Dewa Dapur, yang kita kenal denga Zau Jun Ye/Zao Jun Gong (Mandarin) atau Ciau Kun Ye/Ciao Kun Kong (Hokkian).

Diyakini bahwa Ciao Kun Kong akan naik dengan membawa laporan perilaku keluarga berikut anggota keluarga, baik buruknya, kehadapan Giok Hong Siang Te. Bila berkelakuan tidak baik, maka tiada berkah namun hukuman yang diterima.sementara bila berkelakuan baik, maka berkah kebahagiaan melimpah ditahun yang baru yang akan dibawa serta saat Dewa Dapur kembali.

Dewa Dapur sangat dipuja sebagai pelindung rmah tangga dan dewa pemberi berkah bagi keluarga. Disebutkan bahwa pemujaan sudah ada sejak Zaman Dinasti Zhou sekitar 2000 tahun yang lalu. Pemujaan dilakukn hampir disetiap rumah, sehingga tidak dibangun di klenteng. Ataupun kalau ada, maka diletakkan juga paa daerah dapur. Karena itu, untuk simbolisasi keberadaan lebih umum berupa Gambar daripada Patung/Arca.

Persembahan yang dilakukan dalam persembahyangan pun berbeda dan berkembang. Semisal di zaman Dinasti T’ang ada yang menyebutkan arak sebagai persembahan. Namun ada pula yang menyebutkan hanya menggunakan The dan 3 batang Hio.

Didalam puisi diatas, biasa terlihat dengan menggunakan persembahan berupa makanan, minuman dan uang kertas. Gula ataupun makanan manis yang dikatakan untuk “menyogok” Dewa Dapur agar hanya akan mengatakan hal yang baik-baik baru mulai menjadi persembahan di Zaman Dinasti Ching.

Selain persembahan, di persembahyangan Toa Pek Kong naik ke langit, gambar Dewa Dapur akan diletakkan ditengah altar, dengan diapit kertas merah yang bersyair. Kurang lebih dapat diartikan dengan :

“Paduka Zao Jun yang mulia, Sebutlah kebaikan kami dilangit,
Bawalah berkah bagi kami apabila Anda turun kembali”


Setelah persembahyangan ini, membersihkan altar ataupun persembahyangan lain dilakukan.

Bagaimana asal mula kepercayaan Dewa Dapur?

Banyak sekali versi yang ada. Namun jarang selalu yang langsung terkait dengan dapur. Namun lebih pada makanan ataupun kesetiaan dalam keluarga. Sebagai contoh kisah sepasang suami istri yang kelaparan dan akhirnya dengan berat hati melepaskan istrinya untuk menjadi istri muda seorang hartawan. Saat ada pembagian makanan oleh si hartawan tersebut, Zhang sang suami, berada dalam urutan terakhir sehingga tidak kebagian makanan. Ketika keesokan harinya sang istri memulai pembagian makanan dan diatur mulai dari belakang, ternyata Zhang berada diurutan paling depan, dan kemudian ketika diatur mulai dari tengah, Zhang sudah tiada karena terlalu lapar.
Istri Zhang kemudian bunuh diri karena rasa setianya, dan oleh Giok Hong Siang Te, keduanya diangkat menjadi Dewa dan Dewi Dapur.

Versi lain menyebutkan bahwa Kaisar Huang Di adalah penemu tungku sehingga kemudian diangkat menjadi Dewa Dapur. Dan masih banyak lagi versi yang ada sehingga siapa sebenarnya Ciao Kun Kong masih menjadi perdebatan ahli sejarah.

Permen untuk Dewa Dapur

Bubur laba dibuat dari beras, kacang-kacangan, buah zao. Buah lonjong berbiji ini lebih besar dari biji rambutan. Kulitnya merah tua dengan daging putihnya yang manis. Dengan yang lain-lain jumlah jenis isi bubur ini mencapai + 10 macam. Tapi, itu bukan harga mati. Bagi keluarga kurang mampu, beras dan buah zao merah saja cukup.

Pada tanggal 23 ada upacara penting karena dipercaya Dewa Dapur akan naik ke surga. Hari itu sang Dewa akan melaporkan semua kejadian selama satu tahun di setiap keluarga kepada Tian. Manusia pun mencari akal agar Tian tidak marah. Caranya, hari itu sang Dewa disuguhi permen yang amat lengket dan manis, namanya guandongtang (baca: kuan tung tang). Setelah makan permen itu, mulut sang Dewa yang terasa manis, diharapkan cuma melaporkan hal yang bagus-bagus.

Menurut versi lain, mulut sang Dewa terkancing akibat makan permen yang amat lengket. Makanya, ia cuma bisa senyam-senyum di depan Thian. Berhubung upacara itu hanya berjarak 1 minggu dengan tahun baru, tanggal 23 disebut xiao nian atau "Tahun Baru Kecil".

Sebagian orang menyebut tanggal 23 yaoming de guandongtang atau "permen guandong peminta nyawa". Usut punya usut, rupanya mereka percaya, sebelum memasuki Imlek semua utang sudah harus lunas. Jelaslah, bagi yang berutang hari sengsara (karena harus membayar utang) pun semakin dekat

Sumber Tulisan :
1. Setiawan dan Kwa Thong Hay, 1990
2. Dewa Dewi Klenteng, Yayasan Klenteng Sam Poo Kong, Wu Luxing, 1995
3. 100 Chinese Gods, Asiapac books
4. Buletin Hikmah Tri Dharma, Edisi 01/XXIX/Januari-Februari 2005
5. Berdasarkan Cerita turun temurun Masyarakat Tionghoa Gorontalo
Langganan: Entri (Atom)