Rabu, 08 April 2015

Imlek ( Festival Musim Semi)




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKOotMzGyesb98Bg0C0iHYLli5N3oF8Gw7F1Ntg8Nljf64-kuyhvAzmGMxR4yjrVIhger0Oa4m1NMkcmNtduxMg9eo9e2UJmeLp_dy8GLpnNvcFlHu1PDGijx2oQfpOlgT3rvWedAbkr0/s320/m_imlek.jpg
Bagi kebanyakan orang Tionghoa Indonesia, Imlek adalah saat menggunakan warna merah, tanda kebahagiaan, sembahyang dan yang paling menarik adalah menerima angpau.

Hal ini tidak heran, karena bagi para generasi muda, pengertian dari Imlek sendiri sudah memudar.

Kita mengenal berbagai sistem penanggalan. (Gong Li / Yang Li) Kalender Masehi yang menggunakan Sistem Gregorian / Tata Surya / Solar / Matahari, yang dihitung berdasarkan lamanya peredaran bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hari. Tahun pertamanya berdasarkan pada tahun kelahiran Nabi Yesus Kristus. Kalender Islam yang menggunakan Sistem Lunar, yang berdasarkan pada masa orbit bulan mengelilingi bumi selama 354 hari, atau selisih 11 hari dibandingkan sistem solar. Tahun pertamanya dihitung sejak Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Medinah.

Sedangkan Yin Li {Hok Kian = Im Lek = Kalender Imlek} merupakan perpaduan kedua sistem Matahari & Bulan sekaligus. Perhitungan hari per-bulannya mengacu pada sistem lunar. Namun selisih 11 hari per tahun disesuaikan dengan sistem matahari melalui Run Yue {Hok Kian = Lun Gwe = mekanisme penyisipan bulan ketiga belas sebanyak 7 (tujuh) kali dalam kurun waktu 19 tahun}. Koreksi atau penyisipan ini membuat jatuhnya awal Tahun Baru Imlek selalu berada dalam rentang waktu antara 21 Januari – 19 Februari, tidak bergeser maju ataupun mundur.
Melalui mekanisme Lun Gwe ini, maka pada tahun-tahun tertentu, Kalender Imlek kadang memiliki bulan ganda. Misal tahun 2009 ada Lun Go Gwe (2x bulan Lima). Dengan adanya penyesuaian ini maka Kalender Imlek lebih tepat disebut Kalender Yin Yang Li {Im Yang Lek / Sistem Lunisolar}.

Selain itu penanggalan Imlek masih dilengkapi beberapa unsur yang mempengaruhi, yaitu : 5 unsur, 12 Shio, 24 Jie Qi (pembagian 24 musim yang amat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada alam, yang terbukti amat berguna bagi pertanian dalam menentukan saat tanam maupun saat panen), 60 Hua Jia (60 konsep penggabungan Tian Gan & Di Zi). Walaupun demikian, semua perhitungan ini dapat terangkum dengan baik menjadi satu sistem “Penanggalan Tionghoa” yang Lengkap & Harmonis, bahkan hampir bisa dikatakan Sempurna karena sudah mencakup “Koreksi” -nya juga, sebagai contoh adalah Lun Gwe.

Penanggalan Tionghoa telah ada sejak zaman Kaisar Huang Di [2.696 – 2.598 SM]. Tapi baru digunakan secara resmi oleh Dinasti Xia [2.205 – 1.766 SM], yaitu 4.213 tahun yang lalu

Pada tanggal 14 Februari 2010 ini kita merayakan Tahun Baru Imlek yang ke 2561. Lalu dari mana angka 2.561 ini? Ini dihitung dari kelahiran Nabi Kong Zi {Hok Kian = Khong Cu} atau Confusius yang lahir pada tahun 551 SM.

Jadi tahun 2010 ini berarti tahun 551 + 2010 = 2561 Imlek. Karena awal tahunnya dimulai dari awal kelahiran Nabi Kong Zi, maka kalender Imlek disebut juga Khong Cu Lek. Namun bukan berarti usia Kalender Imlek sama dengan usia Kong Hu Cu. Pada kenyataannya, Penanggalan Imlek telah digunakan jauh sebelumnya, tepatnya sejak zaman Kaisar Huang Di, yaitu pada tahun 2.696 SM. Dengan demikian Kalender Imlek telah berusia 4.704 tahun.

Banyak dan sering sekali timbul pertanyaan, mengapa tahun pertama penanggalan Imlek dihitung sejak kelahiran Nabi Kong Zi ?

Sejarahnya amat panjang. Kalender Imlek secara resmi digunakan oleh Dinasti Xia [2.205 – 1.766 SM]. Dinasti Xia hanya berkuasa sampai 1.766 SM, dan kemudian digantikan oleh Dinasti Shang [1.766 – 1.122 SM].

Pada masa Dinasti Shang, kalender Imlek yang kita kenal sekarang, dimodifikasi dengan dimajukan penentuan awal tahun barunya sekitar satu bulan. Akibatnya awal tahun baru yang semula jatuh di awal musim semi, bergeser ke musim dingin. Demikian pula dengan perhitungan awal tahunnya, dihitung sejak dinasti Shang berkuasa.

Ketika dinasti Shang digantikan dengan dinasti Zhou [1.122 – 255 SM], perhitungan awal tahun barunya dimajukan lagi, bertepatan dengan Dong Zi, puncak musim dingin sekitar 22 Desember, tepat ketika matahari berada di 23,5o Lintang Selatan. Perhitungan awal tahunnya dimulai sejak berdirinya Dinasti Zhou.

Nabi Kong Zi, Confusius [551 – 479 SM] hidup pada masa dinasti Zhou. Kong Zi pernah mengingatkan bahwa sebuah sistem penanggalan seharusnya dibuat dengan mempertimbangkan kepentingan orang banyak. Kalender yang baik harus bisa dijadikan Pedoman bagi rakyat yang menggunakannya.

Sementara Kalender Dinasti Zhou yang digunakan semasa Kong Zi hidup, dirasakan amat tidak cocok untuk digunakan sebagai panduan bagi rakyat yang mayoritas hidup dari sektor pertanian, karena penentuan awal tahun barunya bertepatan dengan musim dingin. Bila tahun baru jatuh di musim dingin, sulit dijadikan pedoman bagi rakyat untuk mulai kerja baru.

Atas dasar pemikiran ini, Kong Zi menyarankan kepada Kaisar Zhou agar kembali menggunakan Kalender Dinasti Xia, di mana awal tahun baru bertepatan dengan awal musim semi, sehingga dapat dijadikan pedoman bagi rakyat yang mayoritas petani untuk mulai kerja baru. Namun usulan Kong Zi ini tidak ditanggapi penguasa Zhou pada waktu itu.

Ketika dinasti Zhou digantikan oleh dinasti
Qin [255 SM – 202 SM], nasehat Kong Zi pun tetap diabaikan. Kaisar waktu itu tetap mengikuti tradisi sebelumnya, berupaya memperkuat legitimasi kekuasaan dengan berbagai cara, di antaranya dengan membuat kalender baru. Soal apakah kalender tersebut cocok atau tidak dengan kebutuhan rakyatnya, kurang diperhatikan.
Jadi ketika dinasti Shang diganti dengan dinasti Zhou, dan kemudian diganti dengan dinasti Qin, sistem penanggalan yang digunakan juga terus digonta-ganti, sesuai keinginan sang penguasa.

Dinasti Qin tidak berumur panjang, digantikan oleh Dinasti Han [202 SM – 206 M] yang didirikan oleh Lu Bang. Kaisar pertama ini tidak sempat memikirkan penggantian kalender. Baru pada saat
漢武帝 Han Wu Di [140 SM – 86 SM] berkuasa, ia menuruti fatwa Nabi Kong Zi & mengumumkan berlakunya kembali Kalender Xia. Sebagai penghormatan kepada Nabi Kong Zi, penentuan perhitungan awal tahun Kalender Xia (penetapan tahun ke-1 Kalender Imlek), dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Kong Zi, 551 SM.

Kebijakan Han Wu Di ini ternyata lebih abadi, terbukti kaisar sesudahnya, baik dari Dinasti Han maupun dinasti sesudahnya, tetap menggunakan Kalender Xia. Jadi walaupun kaisar berganti kaisar, dinasti berganti dinasti, tidak terjadi lagi pergantian penanggalan. Semuanya menggunakan kalender peninggalan Dinasti Xia, dengan awal tahun yang mengacu pada tahun kelahiran Nabi Kong Zi. Tidak sampai di situ saja, pada masa Dinasti Han, agama Khong Hu Cu pun kemudian ditetapkan sebagai agama negara, bahkan sampai Dinasti Qing. Ajaran Nabi Kong Zi juga menjadi pedoman utama bagi mereka yang ingin meraih gelar pendidikan tinggi.

Penanggalan Imlek cocok digunakan sebagai pedoman masyarakat yang mayoritas hidup dari pertanian, sehingga sering disebut Nong Li (Kalender Petani). Banyak juga yang menyebut Kalender Kong Zi {Khong Cu Lek}, sehingga tahun barunya disebut Tahun Baru Khong Zi. Sebutan ini lazim digunakan di kalangan umat agama Khong Hu Cu di Indonesia, maupun di beberapa negara yang masyarakatnya banyak menganut agama Khong Hu Cu.

Walaupun demikian, Perayaan Tahun Baru Imlek bukan hanya perayaan umat Khong Hu Cu saja. Pada kenyataannya, Perayaan Tahun Baru Imlek terutama diperingati juga oleh penganut agama Buddha & Taoisme, dan juga orang Tionghoa di seluruh dunia. Selain itu, pada Cia Gwe Ce It (tanggal 1 bulan 1 Imlek) ini umat Buddha juga memperingati hari lahirnya Mi Le Gu Fo {Bi Lek Ko Hud = Buddha Maitreya}.
Hari itu juga adalah perayaan untuk menyambut musim semi yang baru di Cina dan merupakan awal untuk melakukan kembali kegiatan pertanian.

Persiapan perayaan imlek berlangsung beberapa hari sebelum hari H. Dimulai dengan acara membersihkan rumah. Mereka percaya, dewa kekayaan Chai Shen hanya mau mendatangi rumah yang bersih. Saat tahun baru tiba, rumah sudah harus dalam keadaan bersih agar rejeki mengalir lancar. Selama tiga hari, terhitung dari tahun baru dan dua hari sesudahnya, ada larangan memegang sapu, alias menyapu. Dipercaya, dewa kekayaan bersembunyi dibalik debu. Jadi, kalau menyapu dikhawatirkan sang dewa akan ikut terbuang.

Asal-Usul Kegiatan bersih-bersih di tanggal 24 bulan 12 Lunar
(Seminggu sebelum Imlek)

Alkisah, seorang dewa bernama Dewa Tiga Mayat (San Shi Shen) ingin menjadi pahlawan bagi manusia dengan cara licik. Ia menjelek-jelekkan manusia di hadapan Mahadewa Tertinggi ( Yuhuan Dadi). Dalam waktu singkat Mahadewa menerima 99.999 laporan tentang rencana manusia berontak melawannya. Mahadewa marah bukan kepalang, memerintahkan Dewa Tiga Mayat memberi tanda khusus pada dinding rumah si manusia pemberontak, juga menyuruh laba-laba membuat jaring yang amat besar di langit-langit rumah. Saking marah, ia pun menyuruh Dewa Pencabut Nyawa ( Lingshenggong) turun ke bumi di malam tahun baru untuk membunuh orang yang rumahnya sudah ditandai oleh Dewa Tiga Mayat!

Dewa Tiga Mayat, tanpa buang waktu, cepat-cepat terbang ke bumi menuju rumah yang sudah ditandainya guna "menyelamatkan manusia". Dengan demikian, dia akan dipandang manusia sebagai dewa terbaik. Tak disangka, pimpinan dewa dapur mengetahui rencana busuknya. Si Pimpinan cepat-cepat pergi ke Dewa Dapur di setiap rumah mencari akal bagaimana menghalangi niat busuk Dewa Tiga Mayat. Akhirnya mereka sepakat menghapus bersih semua tanda yang dibuat Dewa Tiga Mayat.

Kagetlah ketika Dewa Pencabut Nyawa tiba di bumi, ia tidak menemukan apa pun di rumah manusia. Rencananya gagal total. Malah begitu akal liciknya terbongkar, Dewa Tiga Mayat pun dihukum kurungan di langit. Sebaliknya, Dewa Dapur menjadi pahlawan. Itulah asal-usul ada hari khusus membersihkan rumah sebelum Tahun Baru.

Sumber Tulisan :
1. Sejarah Panjang Tahun Baru Imlek, Kim Tek Ie
2. http://jindeyuan.org/sejarah-panjang-tahun-baru-imlek/index.htm
3. Walter, Derek. The Complete Guide to Chinese Astrology: The Most Comprehensive
Study of the Subject Ever Published in the English Language, Watkin Publishing,
London, 2002
4. Berdasarkan penuturan turun temurun masyarakat Tionghoa Gorontalo

sejarah pai ti kong



Beribu tahun sebelum Masehi, masyarakat tionghoa sudah mengenal adanya Tuhan. Kaisar Kuning (Oey Tee / Huang Ti) pada tahun 4697SM mengajarkan kepada rakyatnya nilai - nilai budaya yang tinggi, diantaranya adalah bersembahyang kepada Tuhan, menghormati Roh Suci dan memuliakan para leluhur. Masyarakat kuno yang sederhana dengan taat menjalankannya. Ritual ini disempurnakan oleh Pangeran Zhougong dan para nabi berikutnya.

Setiap tanggal 9 bulan 1 Imlek orang Tionghoa terutama orang Hok Kian, melakukan upacara sembahyang Jing Tian Gong {Hok Kian = King Thi Kong}, yang berarti sembahyang kepada Tuhan YME. Di kalangan orang Tionghoa di Indonesia, sembahyang ini dikenal dengan sebutan Sembahyang Tuhan Allah yang dilakukan dengan penuh kekhidmatan. Upacara sembahyang ini termasuk salah satu rangkaian upacara pada pesta menyambut Tahun Baru Imlek / Musim Semi yang berlangsung selama 15 hari; dari tanggal 1 s/d 15 bulan 1 penanggalan Imlek.

Di Propinsi Fu Jian {Hok Kian} & Taiwan muncul istilah yang sangat populer, yaitu Chu Jiu Tian Gong Sheng , yang berarti bahwa pada Cia Gwe Cwe Kao (Tanggal 9 bulan pertama Imlek) adalah Hari Ulang Tahun Thi Kong. Sehingga masyarakat di propinsi Hok Kian & Taiwan mengadakan sembahyang khusus untuk menghormati Thi Kong (Tuhan YME). Upacara King Thi Kong ini juga telah menyebar di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Upacara King Thi Kong dapat diselenggarakan secara sederhana atau lengkap, yang terpenting adalah ketulusan dan kesuciannya, bukan kemewahannya. Biasanya yang menjalankan ritual King Thi Kong adalah orang yang sudah berpantang makanan berjiwa atau vegetarian sejak beberapa hari sebelumnya. Dalam ritual ini, segala perlengkapan harus khusus atau tidak pernah dipergunakan untuk keperluan lainnya, bersih lahir dan batin.

Penduduk yang miskin cukup menempatkan sebuah Hiolo (pedupaan = tempat menancapkan dupa) kecil yang digantungkan di depan pintu rumahnya dan menyalakan hio (dupa) dari pagi sampai tengah malam secara kontinue.

Bagi orang berada, acara sembahyang ini merupakan hal yang paling megah & khidmat. Sebuah meja besar dengan keempat kakinya diletakkan di atas 2 buah bangku panjang. Lalu di atas meja tersebut diatur 3 buah Shen Wei(Tempat Dewa) yang terbuat dari kertas warna-warni yang saling dilekatkan. Kemudian di depan Shen Wei dijajarkan 3 buah cawan kecil yang berisi teh, & 3 buah mangkuk yang berisi misoa yang diikat dengan kertas merah. Setelah itu Wu Guo Liu Cai {Hok Kian = Go Ko Lak Chai} diatur di bagian depan. Wu Guo Liu Cai berarti 5 macam buah-buahan & 6 macam masakan vegetarian, ini menjadi dasar utama dalam penataan barang sajian upacara sembahyang orang Tionghoa. Di bagian paling depan (sebelah kiri & kanan) dipasang lilin 1 pasang (= 2 batang).

Sehari sebelum upacara sembahyang (Cia Gwe Cwe Pe = Tanggal 8 bulan 1 Imlek) dimulai, seluruh penghuni rumah melakukan mandi keramas & ganti baju. Sembahyang dilakukan tepat pukul 12 tengah malam, dimulai dengan anggota keluarga yang paling tua dalam urutan generasinya. Semua melakukan San Gui Jiu Kou {Hok Kian = Sam Kwi Kiu Kho} yaitu 3 X berlutut & 9 X menyentuhkan kepala ke tanah. Setelah selesai baru kemudian kertas emas yang dibuat khusus lalu dibakar bersama dengan Shen Wei yang terbuat dari kertas warna-warni. Kemudian dinyalakan petasan untuk mengantar kepergian para malaikat pengiring. Upacara sembahyang King Thi Kong ini di kalangan Hoa Qiao Indonesia dikenal dengan sebutan “Sembahyang Tuhan Allah”.

Ritual di Indonesia, umumnya dilaksanakan dengan mendirikan meja tinggi didepan pintu menghadap langit, bersembahyang mengucap syukur kepada Yang Kuasa, berjanji untuk hidup lebih baik terhadap sesama dan memenuh kewajiban sebagai mahluk ciptaanNya. Dipilih tanggal 9 bulan 1 adalah karena angka 1 berarti esa dan angka 9 adalah yang tertinggi.

Altar Langit (Tian Tan)

Altar ini terletak di timur laut kota Beijing, membujur dari utara ke selatan, merupakan tempat kaisar - kaisar dari Dinasti Ming (1389 - 1644) dan Qing (1644 - 1912) melakukan ritual King Thi Kong. Altar tersebut didirikan pada tahun 1420 diatas tanah seluas 273 hektar. Kompleks Altar Langit dikelilingi taman luas, berbentuk lingkaran bersusun tiga seperti kue tart sehingga dinamakan juga Altar Bukit Bundar, tidak beratap dan tiap lingkaran dihubungkan dengan tangga yang batuannya terdiri dari 9 tangga. Semuanya terbuat dari batu granit putih dan diempat penjuru terdapat tiga gerbang yang indah. Orang - orang menyebutnya Kuil Surgawi, terbuat dari batu granit putih dengan genting berlapis warna biru, biru langit dan putih awan seperti warna - warna yang ada di langit.

Kaisar bersembahyang ditempat tersebut diiringi oleh sekitar 3000 peserta upacara, membawa semua atribut kerajaan dengan naik tandu diiringi kereta kuda, gajah dan sebagainya dalam formasi yang harmonis, berangkat dari Istana Terlarang (Forbidden Palace). Tepat ditengah malam ritual dimulai hanya dengan diterangi cahaya obor, bulan dan bintang. Doa - doa dilantunkan hingga menjelang fajar.

Altar Langit atau Tian Tan biarpun sudah berusia berabad - abad, hingga sekarang masih terawat dengan sangat baik. Jika anda berkesempatan mengunjungi Beijing, jangan lupa untuk menikmati keindahan dan keagungannya.

Versi Lain

Tidak jelas kapan masyarakat propinsi Hok Kian & Taiwan memulai King Thi Kong ini. Sebuah sumber mengatakan bahwa King Thi Kong baru mulai diadakan pada masa awal Dinasti Qing [1644 - 1911].

Seperti diketahui bahwa Hok Kian merupakan basis terakhir perlawanan sisa-sisa pasukan yang masih setia kepada Dinasti Ming [1368 – 1644]. Pada waktu pasukan Qing (Man Zhu) memasuki Hok Kian, mereka berhadapan dengan perlawanan gigih dari rakyat setempat & sisa-sisa pasukan Ming. Setelah perlawanan ditaklukkan dengan penuh kekejaman, akhirnya seluruh propinsi Hok Kian dapat dikuasai oleh pihak Qing.

Selama terjadinya peperangan & kekacauan ini, banyak rakyat yang bersembunyi di dalam perkebunan tebu yang banyak tumbuh di sana. Di dalam rumpun tebu itulah mereka melewati malam & hari Tahun Baru Imlek. Setelah keadaan aman, pada Cia Gwe Cwe Kaw (Tanggal 9 bulan 1 Imlek) pagi mereka berbondong-bondong keluar & kembali ke rumah masing-masing. Untuk menyatakan rasa syukur karena terhindar dari bencana maut akibat perang, mereka lalu mengadakan upacara sembahyang King Thi Kong pada tanggal 9 bulan 1 Imlek ini sebagai ucapan rasa terima kasih kepada Thi Kong atas lindungan-Nya. Oleh karena ini, maka sebagian besar orang Hok Kian mengatakan bahwa Cia Gwe Cwe Kaw adalah Tahun Baru-nya orang Hok Kian, sedikitpun tidak salah.

Selain upacara King Thi Kong, pada tanggal 9 bulan 1 Imlek ini bertepatan pula dengan Hari Kelahiran Maha Dewa Yu Huang Shang Di {Hok Kian = Giok Hong Siong Tee = Maha Dewa Kumala Raja}, yaitu Dewata Tertinggi yang melaksanakan pemerintahan alam semesta dan dibantu oleh para dewata lain.
Karena 2 hal yang bertepatan inilah maka orang Tionghoa menganggap Giok Hong Siong Tee sebagai penitisan dari Tian (Tuhan YME).
Cap It Gwe Cwe Lak (tanggal 6 bulan 11 Imlek) adalah Hari Giok Hong Siong Tee mencapai kesempurnaan.

Dari cerita di atas, jelaslah bahwa orang Tionghoa percaya kepada Tuhan YME (God the Almighty) yang disebutkan sebagai Tian atau Tian Gong {Thi Kong}, hanya saja konsepsinya berbeda dengan agama lain. Bagi umat Tionghoa, Tuhan memiliki pembantu-pembantu yang terdiri dari berbagai dewa yang mempunyai jabatan & wilayah tertentu, & berkewajiban melakukan pengawasan terhadap perbuatan manusia dalam lingkungan kekuasaan & wilayah masing-masing.

Sumber Tulisan :
1. http://www.gangbaru.com/
2. http://jindeyuan.org/asal-mula-king-thi-kong/index.htm
Label: Kepercayaan, Perayaan dalam Penanggalan China

sejarah ciau tu/ hari raya cioko


Zhong Yuan Jie (Hok Kian: Tiong Gwan Cwe) diperingati setiap tahun pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek. Orang-orang pada umumnya juga menyebutnya sebagai Hari Raya Hantu (Ghost Festival).

Konon, pada Hari Raya Tiong Gwan Cwe, adalah hari di mana Pintu Gerbang Neraka dibuka !!! Untuk menghindari agar ayah ibu yang telah meninggal dunia tidak mengalami penderitaan Neraka, maka dilaksanakanlah sembahyang kepada roh-roh, dewa dan hantu secara besar-besaran, mengharap agar roh-roh halus jangan menganiaya ayah ibu yang telah meninggal tersebut.

Hari Raya Tiong Gwan Cwe, Hari Raya Ceng Beng, dan Hari Raya Tang Ce adalah 3 Hari Raya Hantu di kalangan kita orang-orang Tionghoa.

Di daerah-daerah & propinsi-propinsi di Tiongkok, Taiwan, Hongkong, Macau, sangat menaruh perhatian kepada 3 Hari Raya ini. Apalagi pada Hari Raya Tiong Gwan Cwe ini, melaksanakan upacara sembahyang dengan sangat megah dan hikmat. Ini adalah perwujudan BAKTI kepada orang tua.

Versi Buddhis Mahayana

Ada sebuah Kitab Suci Budhis yang berjudul Yi Lan Pen Jing, di dalam Kitab tersebut ada tercatat sebuah peristiwa :

Pada zaman dulu, ada seorang Bikkhu yang bernama Maha Moggalana. Ia merupakan salah seorang dari 10 Murid Utama Sang Buddha Gautama. Maha Moggalana adalah murid Sang Buddha dengan kesaktian no. 1 (di bawah Sang Buddha).

Maha Moggalana pada suatu ketika, dengan mata bathinnya melihat ibunya yang telah meninggal dunia, berjalan bersama dengan sekelompok hantu kelaparan. Dengan maksud menolong ibunya, lalu ia mengisi nasi ke dalam sebuah mangkok, untuk memberi makan ibunya. Siapa nyana, begitu nasi akan disuapkan ke mulut ibunya, nasi tersebut berubah menjadi bara api yang panas membara. Maha Moggalana dengan menggunakan kesaktiannya mencoba berkali-kali, tapi setiap kali hendak masuk ke mulut ibunya, nasi tersebut berubah menjadi bara api.

Maha Moggalana terkejut luar biasa, lalu kembali dan melapor kepada Sang Buddha Sakyamuni. Sang Buddha berkata kepadanya: Dosa ibu kamu terlalu berat, hanya dengan kekuatan kamu 1 orang, tidak bisa membebaskan penderitaan ibu kamu !

Lalu Maha Moggalana berlutut di lantai, memohon kepada Sang Buddha sambil berlinang air mata : Mohon Buddha memberi petunjuk, bagaimana baru bisa menolong ibu saya agar terbebas dari lautan penderitaan, dan tidak bersama dengan para hantu kelaparan itu lagi.

Sang Buddha menjawab : Mengenai hal ini, membutuhkan kekuatan para Bikkhu di 10 penjuru, begitu sampai Hari Raya Tiong Gwan Cwe ini, mewakili orang tua dari 7 generasi, dan orang tua sekarang yang berada dalam bencana /malapetaka, mempersiapkan bermacam-macam sayur dan buah-buahan, untuk dipersembahkan kepada Yang Berkebajikan di 10 penjuru, setiap orang berbuat kebajikan, di saat ini barulah bisa membebaskan penderitaan semua hantu kelaparan.

Setelah Maha Moggalana mendengarnya, lalu bertanya lagi : Semua orang yang berbakti, apakah boleh ikut serta dalam “Yi Lan Pen” ?

Sang Buddha menjawab : Sangat bagus ! Sangat bagus !

Ikut serta dalam Yi Lan Pen boleh membaca paritta Yi Lan Pen Jing. Agar orang tua yang dalam penderitaan bisa memperoleh keterbebasan. Oleh karena ini, pada hari dan menjelang Hari Raya Tiong Gwan Cwe banyak orang yang bervegetarian dan bersembahyang, mewakili orang tua yang telah meninggal, terbebas dari penderitaan.

Pattidana Vs Cio Ko (Ulambana)

Sering orang salah pengertian bahwa upacara Pattidāna sama dengan upacara Cio Ko atau Cio Sie Kow yang dikenal sebagai sembahyang rebutan yang dilakukan di kelenteng-kelenteng Taois atau Vihara Avalokiteswara.
Upacara Cio Ko atau ”sembahyang rebutan“ berdasarkan kepercayaan dalam cerita See Yu atau perjalanan ke Barat. Upacara ini dilakukan setelah tanggal 15 Imlek bulan ke tujuh (Cit Gwee). Karena sebelum tanggal tersebut keluarga masih melakukan sembahyang leluhur di rumah atau di makam, sehingga disebut sebagai ”sembahyang kubur”. Upacara Cio Ko ditujukan untuk ”arwah” yang mendapat cuti berkunjung ke rumahnya tetapi keluarganya sudah tidak mengingat mereka lagi.
Sedangkan upacara Pattidāna berdasarkan kejadian ketika Raja Bimbisara di Rajagaha mengundang Buddha Gotama dengan para siswa-Nya santap siang. Karena sangat bahagia raja lupa untuk melimpahkan jasa kebajikan kepada para leluhurnya yang terlahir di alam peta, sehingga pada malam hari mendapat gangguan dari peta-peta tersebut. Maka keesokan harinya raja mengundang kembali Guru Agung Buddha dan melimpahkan jasanya kepada leluhurnya.
Jadi upacara Pattidāna dapat dilakukan kapan saja bila kita mendapat kesempatan berbuat baik dan pikiran sedang bahagia. Upacara Pattidāna bukan ”upacara duka”. Paritta Avamaïgala dibaca atau diulangi agar yang mendengar dan setelah tahu artinya bisa berubah pikiran dari bersedih menjadi bijaksana dan rela melepas orang yang dicintai.

Sumber Tulisan :
1. Saduran "Journey to the west"
2. http://jindeyuan.org/ghost-festival-cioko/index.htm#comment-157
3. Dhammadesana Bhikkhu Sri Subalaratano (Minggu, 29 Agustus 2010)

Legenda Lampion China & Festival Lantera


dragon boat lantern display
Display Lampion Kapal Naga
Sejak runtuhnya Orde baru dan memasuki era reformasi di Indonesia, semua suku bangsa dan keturunan darimanapun di Indonesia bisa menjadi masyarakat Indonesia yang seutuhnya dengan hak serta kewajiban yang sama. Demikian halnya dengan masyarakat keturunan Tionghoa yang kini tidak lagi terkucilkan dan bisa melaksanakan kegiatan kebudayaannya dengan terbuka. Apalagi sejak Gus Dur - KH Abdurrahman Wahid - Presiden RI ke-4 meresmikan Imlek sebagai salah satu libur perayaan Nasional.
Ada beberapa ciri dari Masyarakat Tionghoa yang sangat khas dan unik yaitu salah satunya Lampion yang dihiasi dirumah-rumah keturunan China saat perayaan Imlek ataupun Restoran makanan China atau Klenteng. Sedikit terbersit dalam pikiran saya apakah ada arti Lampion sebenarnya? Memang dalam film ataupun secara fungsi lampion digunakan sebagai alat penerangan, khususnya penerangan dibagian depan rumah yang gelap maupun saat bepergian dibawa dengan tangan.
Dalam penelusuran saya hingga saat ini, belum ada literature pasti tentang siapa yang menemukan lampion atau dalam bahasa Inggrisnya Chinese Lantern / Lentera Berwarna, namun dalam kebudayaannya dituliskan bahwa budaya Lampion sudah dikenal sejak jaman Dynasty Han, tepatnya jaman Dynasty Han Barat (206SM - 220M) sekitar 2000thn yang lalu dan selalu digunakan pada setiap acara gembira. Setiap tahunnya pada jaman itu, setiap orang China memasang lentera berwarna (Lentera Putih adalah tanda perkabungan/lentera tak berwarna) saat tanggal kelima belas dari bulan pertama untuk menciptakan suasana meriah. Salah satu alasannya adalah pada tanggal ini juga dikenal dengan Cap Go Meh yaitu reuni keluarga besar yang tinggal berjauhan, sehngga lentera berwarna juga dikenal sebagai simbol reuni/pertemuan yang berbahagia.
Lentera China sendiri terbagi atas beberapa type, yaitu:
1. Lentera Kerajaan / Istana
Asal-usul lentera China diperkirakan mengikuti sebuah legenda di jaman Dynasty Qing, era Yongzheng. Seorang pria tua di Provinsi Hebei sangat terampil dalam konstruksi lentera. Orang tua ini membuat beberapa lentera dan menjualnya di pasar di Distrik Gaocheng. Suatu hari, ia kebetulan bertemu hakim distrik yang menyukai lentera buatannya dan hakim ini membeli semuanya sekaligus. Sang hakim memuja hasil karya ini dan ia menganggap mereka sebagai harta. 
Pada tahun yang sama, Kaisar mengumpulkan upeti dan hakim distrik ini mengirimkan banyak barang berharga sekaligus menitipkan beberapa lentera berwarna ini. Diluar dugaan ternyata Kaisar sangat senang dan menerima Lentera ini sebagai upeti dan menghias seluruh Istana dengan lentera ini. Disinilah asal mula dikenalnya lentera Istana yang indah.  
2. Lentera Kasa / Shadeng / Gauze Lantern dan Lentera Gantung / Swag Lantern
Lentera kasa adalah lentera yang umum digunakan di China. Menurut legenda lentera digunakan bersama-sama saat Kaisar Langit marah akibat orang desa membunuh angsa kesayangan-Nya.
Legenda ini dimulai saat banyak sekali binatang buas yang datang menyerbu desa dan membunuh banyak orang dewasa, anak dan bahkan bayi. Sehingga penduduk desa memutuskan untuk menyerang dan membunuh semua binatang tersebut secara bersama-sama. Sialnya dalam perburuhan tersebut seekor Angsa Suci kehilangan nyawanya oleh penduduk desa sehingga membuat Kaisar Langit marah dan memutuskan untuk menghukum seluruh desa dengan mengirimkan badai api. Seorang Dewi Langit yang baik kemudian merasa kasihan kepada penduduk yang tidak bersalah akan ikut menerima hukuman dari Kaisar langit dan memutuskan untuk turun dari langit dan memberitahukan hal tersebut kepada kepala desa dan mengusulkan sebuah rencana untuk menyalakan secara bersama-sama lentera disekeliling rumah serta semua taman dan halaman bersamaan dengan penyalaan petasan dan kembang api pada tanggal 14, 15 serta 16 malam di bulan pertama Imlek, sehingga Kaisar langit melihat bahwa desa tersebut sudah mendapatkan balasan dari apa yang mereka lakukan. Sejak saat itu kemudian ini menjadi festival lantera China didesa tersebut dan merambah keseluruh China hingga hari ini.
Legenda - Legenda Lainnya :
1. Legenda Penghormatan Kaisar terhadap Ping Lu
Setelah mangkatnya kaisar Han Liu Bang, Liu Ying yang adalah putra dari Ratu Lu menjadi Kaisar. Namun posisinya yang lemah segera membuat banyak pemberontakan dan ketidaknyamanan di Istana. Ratu Lu kemudian mengambil alih dan atas keputusannya maka keluarga bermarga Liu dikurangi dalam porsi kedudukannya di istana dan memasukkan banyak marga Lu. Setelah Ratu mangkat, marga Lu menjadi takut akan pembalasan dari orang-orang yang tidak puas atas pemerintahan sebelumnya sehingga mereka berkumpul di kediaman Jenderal Lu.
Seorang bernama Liu Xiang melihat situasi ini memutuskan untuk berperang dan mengajak serta veteran Zhou Bo dan Chen Ping sehingga dapat menang dan membunuh Jenderal Lu. Setelah semuanya tenang kemudian para menteri memutuskan untuk mengangkat putera kedua Kaisar Liu Bang, yakni Pangeran liu Heng menjadi penerus. Dalam sejarah beliau dikenal dengan Kaisar Wen dari Dynasty Han.
Kaisar merasa perjuangannya merupakan perjuangan yang sangat sulit untuk mendapatkan kemenangan serta ketenangan didalam negara sehingga memerintahkan untuk kemenangan ini dirayakan sebesar-besarnya dan memunculkan tanda-tanda kebahagian salah satunya dengan Lampion berwarna. Sehingga disini kemudian menjadi asal mula festival lampion.
2. Kisah Dong Fang Shuo (东方朔) dan Yuan Xiao
Dong fang Shuo.jpg
Dong Fang Shuo
Legenda ini tidak secara langsung berhubungan dengan Festival Lantera maupun asal-usul lantera, namun lebih berhubungan dengan kebiasaan yang dilakukan saat diadakannya Festival Lentera yaitu kebiasaan memakan makanan khas Yuan Xiao. Dikisahkan Kaisar Wu dari Dynasty Han memiliki seorang menteri favorite yaitu Dong Fang Shuo yang terkenal baik hati dan humoris. Sesaat setelah menteri akan keluar dari Istana mendapati seorang wanita yang mencoba bunuh diri dengan melompat kedalam Sumur. Setelah sang menteri menyelamatkannya, wanita itu bercerita akan kesedihannya karena terpisah dari keluarganya.
Suatu hari penasihat Dong Fang Shuo pergi kejalan Chang'an dan mengatur sebuah meja ramalan sebagai sebuah trik penyelesaian masalah wanita tersebut. Namun setiap orang yang diramalnya hari itu mnedapati bahwa mereka akan terkena bencana yang dikirimkan oleh Dewa Api pada tanggal 13 pada bulan pertama. Semua orang kemudian meminta pertolongan dari Dong Fang Shuo apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan mereka. Sehingga Dong Fang Shuo memberikan mereka sebuah gulungan kertas untuk disampaikan kepada Kaisar. Semua masyarakat yang berkumpul kemudian langsung berbondong-bondong ke Istana untuk menyampaikan langsung ke Kaisar tentang bencana tersebut. Setelah sang Kaisar membaca kemudian meminta petunjuk
tang yuan in the lantern festival
Tang Yuan
Dong Fang Shuo bagaimana cara menganggulanginya. Dong fang Shuo kemudian pura-pura terkejut dan mengatakan bahwa Dewa Api sangat menggemari Tang Yuan, dan bukankah sang Kaisar memiliki seorang pelayan bernama Yuan Xiao yang pintar membuatkannya untuk Kaisar? Kaisar menyetujui dan kemudian menyuruh di pelayan membuatkan beberapa Tang Yuan untuk diberikan kepada dewa Api. Saat tanggal 15 kemudian Dong Fang Shuo mengatur pada tanggal tersebut perayaan ramai serta pemasangan kembang api dan petasan sehingga membuat Kaisar berpikir bahwa Dewa Api telah datang. Seluruh kota bergembira terlepas dari bencana, demikian juga banyak orang desa yang datang ke kota termasuk keluarga Yuan Xiao. Ketika mereka melihat lentera Yuan Xiao mereka berteriak dan berlarian kearahnya untuk melepas kangen.
Karena kota Chang'An selamat, sang Kaisar memerintahkan agar setiap orang membuat Tang Yuan setiap tanggal kelima belas dalam bulan pertama lunar untuk dipersembahkan kepada Dewa Api agar semuanya selamat sentosa.
3. Kisah Yuan Shi Kai dan Festival Lentera
Dikatakan bahwa setelah revolusi di tahun 1911, Yuan Shi Kai ingin menjadi kaisar sekali lagi namun takut bila orang-orang menentangnya. Suatu hari ia mendengar orang-orang dijalan berjualan dan berteriak Yuan Xiao,dalam bahasa China Xiao dianggap kepunahan. Sehingga sebelum 1913, Yuan Shikai menurunkan Dekrit yang mengatakan bahwa perayaan festival lentera hanya boleh disebut dengan Tang Yuan dan tidak boleh disebut dengan Yuan Xiao. Namun kebanyakan masyarkat enggan dan tetap menyebut perayaan dengan Yuan Xiao.
4. Kisah Lie Cu Seng si Perampok Budiman
Sejak zaman Dinasti Han hingga Tang, lampion telah disahkan sebagai simbol penyambutan hari raya imlek. Saat dinasti Ming Zhu Yuan Chang (tahun 1368–1644 M), ribuan lampion sengaja dibiarkan mengambang di atas air ketika memproklamirkan ibu kota negara Nanjing.

Namun ada versi lain tentang sejarah lampion yang banyak beredar. Yaitu tentang sejarah lampion (Teng Lo Leng atau Teng Lung) yang dimulai pada zaman dinasti Ming. Pada waktu ada seorang perampok budiman bernama Lie Cu Seng di kota Kaifeng. Dia adalah Robin Hood di zamannya. Karena Lie Cu Seng hanya merampok orang-orang kaya pelit, dan hasil rampokannya dibagikan ke orang miskin.

Namun suatu ketika Lie Cu Seng difitnah, bahwa sebetulnya hasil rampokannya hanya dimakan sendiri. Lie Cu Seng yang menyamar sebagai rakyat jelata membuat cerita tandingan tentang kebaikan Lie Cu Seng, sang perampok dermawan. Dalam penyamarannya Lie Cu Seng juga meminta rakyat untuk memasang lampion di rumahnya. Tujuannya untuk memudahkan Lie Cu Seng membagikan hasil jarahannya kepada rakyat. Hanya rumah yang memasang lampion saja yang akan diberikan bagian.

Dan tentu saja Lie Cu Seng menepati janjinya. Malam hari Lie Cu Seng membagikan hasil jarahannya ke setiap rumah yang memasang lampion. Lama-kelamaan lampion itu digunakan sebagai bentuk penghargaan kepada Lie Cu Seng, sang perampok budiman. Sedang budaya memasang lampion pada akhir tahun baru diartikan sebagai permohonan berkah kepada para dewa.
Motif dan Hiasan Lentera China
Sedangkan Motif-motifnya pada lampion antara lainnya adalah motif Figuratif, Lansekap/Taman, Bunga, Burung, Naga, Ikan, Serangga dan kaligrafi. Selain itu juga ada yang lentera bergulir atau bisa dimainkan dengan diputar sehingga seakan-akan bercerita tentang pemandangan. Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang berbentuk persegi, bulat serta oval. Namun yang paling terkenal adalah yang berbentuk Oval dengan hiasan Jumbai emas. Sedangkan bahan yang digunakan pun bermacam-macam tergantung dari type-nya sendiri. Ada yang berbahan bambu, kayu, rotan bahkan kawat baja sebagai frame dengan penutupnya adalah sutera dan kertas semi transparan sedangkan dekorasinya menggunakan cat, kaligrafi/tulisan indah, kertas cut our maupun bordir.
Tanggal Perayaan Festival Lentera:
2014′s Lantern Festival is in 2010/02/14.
2015′s Lantern Festival is in 2010/03/05.
2016′s Lantern Festival is in 2010/02/22.
2017′s Lantern Festival is in 2010/02/11.
2018′s Lantern Festival is in 2010/03/02.
2019′s Lantern Festival is in 2010/02/19.
2020′s Lantern Festival is in 2010/02/08.

Sumber Penulisan:
- Espesset, Grégoire (2008), "Dongfang Shuo 東方朔", in The Encyclopedia of Taoism, ed. by Fabrizio Pregadio, Routledge
- Giles, Lionel (1948), A Gallery of Chinese Immortals: Selected Biographies Translated from Chinese Sources, John Murray.
- Vervoorn, Aat (1990), Men of the Cliffs and Caves: The Development of the Chinese Eremitic Tradition to the End of the Han Dynasty, Chinese University Press
- Minford, John and Joseph Lau, eds. (2000), Classical Chinese Literature: An Anthology of Translations, Columbia University Press
- Campany, Robert Ford (2009), Making Transcendents: Ascetics and Social Memory in Early Medieval China. University of Hawaii Press.
- Chu Binjie 褚斌傑 (1992). "Dongfang Shuo 東方朔", in: Zhongguo da baike quanshu 中國大百科全書, Zhongguo wenxue 中國文學, vol 1, p. 118. Beijing/Shanghai: Zhongguo da baike quanshu chubanshe.
- "2010 Taichung Traditional Arts Festival", Taiwan News, Taichung City Cultural Affairs Bureau, 2010-02-19  

Sejarah Asal Mula Perayaan Ceng Beng


Tradisi ini berasal dari tradisi kerajaan di zaman dulu. Ceng Beng (baca : Qing Ming = cerah dan cemerlang) dipilih karena 15 hari setelah Chunhun, biasanya dipercayai merupakan hari yang baik, cerah, terkadang diiringi hujan gerimis dan cocok untuk melaksanakan ziarah makam. Sebelum zaman Dinasti Qin, ziarah makam hanya monopoli dan hak para bangsawan. Namun setelah Qin Shi-huang mempersatukan Tiongkok dan mengabolisi para bangsawan, rakyat kecil kemudian meniru tradisi ziarah makam ini setiap Ceng Beng.

Sebuah legenda asal mula Ceng Beng menceritakan tentang kaum Cina yang memang punya tradisi yang sedikit banyak tertuju pada peringatan leluhur (sebutannya “kia hao” atau “filial piety”, alias “rasa hormat anak pada orang tua/leluhurnya”) . Makanya di rumah-rumah Cina banyak ditemukan rumah abu atau meja sembahyang leluhur. Karena itulah, nyekar juga menjadi satu kegiatan wajib.

Legenda 1
Hari *Ceng Beng* bermuasal dari zaman *Chun Qiu Zhan Guo *(Musim semi-gugur dan negara saling berperang, abad 11-3 SM), adalah salah satu hari perayaan tradisional suku Han (suku mayoritas di Tiongkok), sebagai salah satu dari 24 *Jie Qi *(sistem kalender Tiongkok), waktunya jatuh antara sebelum dan sesudah 5 April Masehi.

Sesudah hari *Ceng Beng*, di Tiongkok semakin banyak hujan, bumi dipenuhi dengan panorama kecemerlangan musim semi. Pada saat itu semua makhluk hidup "melepaskan yang lama dan memperoleh yang baru", tak peduli apakah itu tanaman di dalam bumi raya, atau tubuh manusia yang hidup berdampingan secara alamiah, semuanya pada saat itu menukar pencemaran yang diperoleh pada musim dingin/salju untuk menyambut suasana musim semi dan merealisasi perubahan dari *Yin *(unsur negatif) ke *Yang* (unsur positif).

Konon, sesudah Yu agung (Âçã», raja pada zaman Tiongkok kuno, abad ke-22 SM) menaklukkan sungai, maka orang-orang menggunakan kosa kata *Qing Ming *(di Indonesia terkenal dengan *Ceng Beng*) untuk merayakan bencana air bah yang telah berhasil dijinakkan dan kondisi negara yang aman tenteram.

Pada saat itu musim semi nan hangat bunga bermekaran, seluruh makhluk hidup bangkit, langit cerah bumi cemerlang, adalah musim yang baik untuk berkelana menginjak rerumputan (Ta Qing). Kebiasaan tersebut telah dimulai sejak dinasti Tang (618-907).

Saat *Ta Qing*, orang-orang selain dapat menikmati panorama indah musim semi, juga sering dilangsungkan beraneka kegiatan hiburan untuk menambah gairah kehidupan.

Legenda 2
Konon, jaman dahulu, terutama bagi orang-orang yang berduit dan berharta, nyekar itu tidak hanya diadakan sekali setahun, tapi bisa berkali-kali (dua kali sebulan bahkan). Dan acara ini dibuat penuh dengan kemewahan dan benar-benar mempertontonkan kekayaan. Kaum sanak keluarga ditandu ke sana lalu ke mari, diiringi dayang-dayang dan pengawal yang berjumlah banyak, makanan yang dibawa itu pasti yang enak-enak dan bunga yang disiapkan juga yang mahal dan harum-harum.

Suatu hari, Kaisar Tang Xuanzong melihat semuanya ini seperti pemborosan massal saja. Dia pun menitahkan agar semua membatasi diri dan hanya mengadakan acara nyekar ini sekali setahun. Dan ia menetapkan hari Ceng Beng (limabelas hari setelah Chunhun, atau hari di mana matahari tiba di katulistiwa) sebagai hari baik untuk ini. Selain karena Ceng Beng adalah hari baik (arti kata Ceng Beng, atau Qing Ming, adalah “cerah dan terang”), hari ini dipilih karena banyak petani sudah selesai panen dan punya waktu senggang untuk mengunjungi makam leluhur. Jadilah Ceng Beng bukan hanya kegiatan orang kaya, tapi kegiatan untuk semua orang.

Legenda 3

Kesederhanaan Ceng Beng juga berkaitan erat dengan cerita Kaisar Cong Er dari Dinasti Tang. Seperti kisah Cina kuno lainnya, latar belakangnya adalah kudeta. Pada masa pelarian (karena berselisih dengan selir kejam) ketika masih jadi putra mahkota Cong Er ini ditemani oleh teman (dan bawahan) yang sangat setia, Jie Zhitui namanya. Saking setianya, dia rela untuk mengorbankan dagingnya supaya si pangeran ini bisa makan dan nggak mati kelaparan. Suatu hari, tiba kabar bahwa Cong Er sudah tidak perlu lari lagi, karena ibu tirinya sudah mati. Bersiaplah Cong Er untuk kembali ke istana dan jadi kaisar. Tapi Je Zhitui menolak untuk ikut balik ke istana, dan menyepi ke sebuah gunung bersama Ibunya.

Cong Er yang sudah jadi kaisar itu tetep kukuh meminta temannya balik dan hidup bahagia di istana. tapi Jie Zhitui bukannya balik ke istana malah semakin bersembunyi ke pedalaman gunung. Cong Er yang sudah habis akal menyuruh prajuritnya untuk membakar gunung, dengan maksud supaya Jie Zhitui keluar dari persembunyian. Tetapi, yang terjadi bukannya keluar, malah Jie Zhitui dan Ibunya tewas terbakar.
Sedihlah sang kaisar. Lalu ia mencanangkan Hari Hanshi (Hari Makanan Dingin), satu hari dalam setahun (setiap tahunnya) di mana orang-orang tidak boleh memasak/memanaskan makanan dengan api. Lambat laun Hanshi pun diintegrasikan ke dalam perayaan Ceng Beng, di mana makanan yang disediakan itu dingin dan hambar.

Legenda 4
Cerita legenda yang lain menyebutkan tentang seorang Raja yang sudah bertahun-tahun pergi berperang (jaman perang antar kerajaan di Cina dulu), namun berakhir dengan kekalahan dan menjadi tawanan perang yang tidak terhormat di negeri lawan. Tapi raja ini tidak tinggal diam dan diam-diam mengumpulkan sekutu untuk mempersiapkan serangan balas dendam. Singkat cerita raja ini berhasil melakukan balas dendam dan negaranya pun kembali ke dalam tangannya.

Sewaktu ia kembali ke rumah, dia baru tahu kalau orang tuanya sudah lama meninggal — dibunuh oleh raja musuh. Dan parahnya lagi tidak ada yang tau di mana orang tua sang raja dimakamkan. Sang Raja akhirnya punya akal dan mencanangkan hari kunjungan makam leluhur. Pada hari yang telah ditentukan, semua orang di negaranya harus dan wajib nyekar. Logikanya, makam yang sepi dan nelangsa, pastilah makam orang tuanya. Sejak hari itulah, setiap tahun semua wajib nyekar ke makam leluhur.

Secara Awam, masih banyak yang belum jelas bahwa sebenarnya mengapa Ceng Beng itu selalu jatuh pada 5 April setiap tahunnya, dan bukannya mengikuti penanggalan kalender Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, ada 2 penanggalan yang menggunakan penanggalan masehi. Yakni Ceng Beng dan Tang Che/Festival musim dingin.

Kelihatannya, kalender Tionghoa itu kalender bulan, tidak begitu halnya, karena ada faktor peredaran matahari di dalamnya, yaitu 24 posisi matahari. 1 posisi matahari adalah berjangka waktu 15 hari, ada 2 posisi matahari dalam 1 bulan. Posisi ini telah ada sejak zaman Huangdi (2697 SM, 4700 tahun lalu) didasarkan atas 12 cabang bumi yang diciptakan olehnya.

Penanggalan Tionghoa sendiri memperhitungkan peredaran matahari karena Tiongkok sejak dulu adalah negara agrikultur, mayoritas penduduk Tiongkok adalah petani dan petani harus menanam sesuai musim. Musim bergantung pada peredaran matahari, sehingga posisi matahari ditambahkan dalam kalender Tionghoa.

Adapun posisi penting peredaran matahari dalam kelender Tionghoa adalah :
1. Lipchun (mulai musim semi), tanggal 5 Februari
2. Chunhun (tengah musim semi), tanggal 21 Maret (matahari berada di khatulistiwa)
3. Ceng Beng (cerah dan terang), tanggal 5 April
4. Heche (tengah musim panas), tanggal 21 Juni (saat ini matahari berada pada 23.5 LU, siang terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok)
5. Chiuhun (tengah musim gugur), tanggal 23 September (matahari berada di khatulistiwa)
6 Tangche (tengah musim dingin), tanggal 22 Desember (saat ini matahari berada di 23.5 LS, malam terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok).
Dari 24 posisi matahari ini, maka Ceng Beng dan Tangche dijadikan festival penting dalam kebudayaan Tionghoa.

Kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan Ceng Beng
Pada jaman dinasti Tang, implementasi hari Ceng Beng hampir sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan.
Yang hilang pada saat ini adalah menggantung lembaran kertas, yang sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh di atas kuburan.

Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang, makan telur, melukis telur dan mengukir kulit telur. Permainan layang-layang dilakukan pada saat Ceng Beng karena selain cuaca yang cerah dan langit yang terang,kondisi angin sangat ideal untuk bermain layang-layang.
Konon, ada orang setelah layang-layang berkibar di langit biru, memutus talinya, mengandalkan angin mengantarnya ke tempat nan jauh, konon ini bisa menghapus penyakit dan melenyapkan bencana serta mendatangkan nasib baik bagi diri sendiri.

Kebiasaan berikutnya adalah menancapkan pohon *Willow*: konon, kebiasaan menancapkan dahan *willow*(pohon Yangliu), juga demi memperingati *Shen Nong Shi*, yang dianggap sebagai guru leluhur pertanian dan pengobatan. Di sebagian tempat, orang-orang menancapkan dahan* willow *di bawah teritisan rumah, untuk meramalkan cuaca. Sesuai pameo kuno "Kalau dahan *willow* hijau, hujan rintik-rintik; kalau dahan *willow* kering, cuaca cerah". *Willow* memiliki daya hidup sangat kuat, dahannya cukup ditancapkan langsung hidup, setiap tahun menancapkan dahan willow, dimana-mana rimbun.

Sedangkan sejarah pohon Liu dihubungkan dengan Jie Zitui, karena Jie Zitui tewas terbakar di bawah pohon liu.

Kebiasaan lain adalah bermain ayunan *Qiu Qian *(ðãðè): ini adalah adat kebiasaan hari *Ceng Beng* zaman kuno. Sejarahnya panjang, ayunan pada zaman dulu kebanyakan menggunakan dahan sebagai rangka kemudian ditambatkan selendang atau tali.
Akhir-nya berkembang menjadi 2 utas tali ditambah papan kayu sebagai pijakan kaki yang dipasang pada rangka balok kayu yang hingga kini digemari, terutama oleh anak-anak seluruh dunia.

Selain itu ada kebiasaan bermain *Cu Ju *(sepak bola kuno): *Ju* adalah semacam bola yang terbuat dari kulit, di dalam bola tersebut diisi bulu hingga padat. *Cu Ju *menggunakan kaki untuk menyepak bola (Mirip sepak bola saat ini). Ini adalah semacam permainan yang digemari oleh orang-orang pada saat *Ceng Beng *pada zaman kuno. Konon ditemukan oleh *Huang Di *(kaisar Kuning), pada awalnya bertujuan untuk melatih kebugaran para serdadu.

Ada juga kebiasaan untuk Menanam pohon: sebelum dan sesudah *Ceng Beng*, matahari musim semi menyinari, hujan rintik musim semi betebaran, menanam tunas pohon berpeluang hidup tinggi dan dapat tumbuh dengan cepat. Maka, semenjak zaman kuno, di Tiongkok terdapat kebiasaan menanam pohon di kala *Ceng Beng*. Ada orang menyebut hari *Ceng Beng* sebagai "hari raya penanaman pohon". Kebiasaan ini berlangsung hingga hari ini.

Pada dinasti Song (960-1279) dimulai kebiasaan menggantungkan gambar burung walet yang terbuat tepung dan buah pohon liu di depan pintu. Gambar ini disebut burung walet Zitui. Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian kertas panjang di kuburan dan menaruh kertas di atas batu nisan itu dimulai sejak dinasti Ming.

Menurut cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti itu atas suruhan Zhu Yuanzhang, kaisar pendiri dinasti Ming,untuk mencari kuburan ayahnya. Dikarenakan tidak tahu letaknya, ia menyuruh seluruh rakyat untuk menaruh kertas di batu nisan leluhurnya. Rakyat pun mematuhi perintah tersebut, lalu ia mencari kuburan ayahnya yang batu nisannya tidak ada kertas dan ia menemukannya. (Dalam kisah ini agak berkaitan dengan Legenda 4 diatas. Namun karena ditemukan pada literatur yang berbeda, penyusun tidak berani mengambil kesimpulan sendiri. Mohon bagi yang lebih paham ceritanya memberikan masukan).

Seperti perayaan lainnya, Ceng Ceng juga memiliki makanan khas seperti makan telur yang kulitnya sudah dilukis, tapi untuk telur yang diukir tidak dimakan. Selain itu ada beberapa yang mungkin tidak pernah ada di Indonesia ini seperti makanan dari daun Ai yang menjadi ciri khas suku Khe, bubur dingin, ciri khas rakyat dibawah kaki gunung Mian, serta Qing tuan adalah makanan khas Qingming dari daerah Suzhou.

Pesan Moral Perayaan Ceng Beng :
Festival Ceng Beng pada akhirnya terkait dengan pilar-pilar budaya Tionghoa yaitu
penghormatan leluhur, makanan, kekerabatan, keselarasan dan harmony, setia, berbakti, dan juga kebersamaan.
Dan hal itu tidak hanya ada pada festival Ceng Beng saja tapi tercermin pada semua festival Tionghoa yang ada.

Dengan menghormati leluhur berarti kita harus menjaga sikap hidup kita agar
tidak mencoreng nama leluhur. Semoga pada perayaan festival Ceng Beng ini kita menyadari bagaimana cara kita menghormati leluhur, caranya sederhana yaitu berikanlah kontribusi positif pada lingkungan kita dan selalulah menjaga perilaku kita agar tidak memalukan para leluhur.

Sumber Penulisan:
1. Berdasarkan cerita turun temurun Masyarakat Tionghoa Indonesia.
2. http://www.hoktekbio.com/index.php?option=com_content&view=article&id=62:qing-ming-ceng-beng&catid=27:ritual-a-budaya&Itemid=72
3. http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/6742-cengbeng.html
4. http://www.chinapage.com/festival/qingming.html
5. TRADITIONAL CHINESE CULTURE by Qizhi Zhang.
6. The Legend of the Kite: A Story of China(Make Friends Around the World)by Kuiming Ha, Yiqi Ha. Published by Soundprints
7. http://www.indoforum.org/archive/index.php/t-41419.html
8. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/42410
9. Dong Zhou Lie Guo Zhi (東周列國志), Feng, Menglong, 1574-1646, 2008.(pertama terbit 1752, Shanghai shu ju)
10. Buletin Maya Indonesia Dharma Mangala, 9 Maret 2004, tahun I, no 7
11. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/42410